Kamis, 12 Desember 2013
skripsi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan lingkungan strategis global menunjukkan trend yang semakin dinamis dan selalu diwarnai ketidakpastian. Kondisi ini cenderung memunculkan permasalahan beragam dan multidimensional.
Teknologi informasi yang berkembang cepat, membawa konsekuensi ganda bagi kehidupan manusia dapat menguntungkan dan merugikan. Menguntungkan bila mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan taraf kehidupan sedangkan merugikan bila terpedaya dengan pemanfaatan untuk kepentingan yang negatif. Ini berarti teknologi informasi berimplikasi secara langsung pada berbagai aspek kehidupan termasuk karakter bangsa.
Secara sosial masyarakat Indonesia sekarang seperti kehilangan pegangan dalam hidup berakhlak dan berbudi luhur. Banyak kalangan menilai bahwa bangsa Indonesia seperti berada dalam keadaan sakit, melihat banyaknya kejadian yang bersifat negatif yakni perbuatan yang tidak sesuai dengan perilaku bangsa yang berbudi luhur, seperti terjadinya korupsi, penjarahan, pembakaran, kekerasan, pembunuhan, pelanggaran hukum, pemerkosaan dan meningkatnya pecandu narkoba dan lain-lain. Rasa sosial yang dikenal sangat baik selama ini ada kalanya seperti telah berubah menjadi rasa asosial. Rasa asosial kata Soedjatmoko “memiliki korelasi yang tinggi dengan kejahatan”. Jika sudah timbul tata nilai moralitas yang menganggap bahwa melanggar peraturan merupakan suatu hal yang patut dibanggakan, maka kualitas kejahatan segera meningkat.
Permasalahan karakter bangsa tersebut menjadi perhatian utama dalam masyarakat yang termuat melalui berbagai media cetak, wawancara dan dialog di berbagai media elektronik bahkan tidak ada hentinya dibicarakan.
Bangsa ini khususnya generasi muda dihadapkan pada perkembangan lingkungan strategis yang penuh dilema, tantangan hidup yang semakin kompleks dan degradasi nilai-nilai luhur bangsa.
Degradasi nilai ini bila dibiarkan akan menjadi ancaman serius bagi keutuhan bangsa karena ancaman tidak hanya berasal dari infansi dari negara lain saja tetapi juga dapat berasal dari aspek non militer. Peperangan di era modern tidak selalu diwujudkan dalam peperangan konvensional tetapi juga berlangsung melalui berbagai cara yang tidak terlihat dan berdampak pada hancurnya karakter bangsa serta secara sistemik pada kehancuran bangsa.
Fenomena yang dirasakan oleh negara berkembang termasuk Indonesia adalah bersarnya pengaruh nilai-nilai asing yang masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan tanpa filterisasi dan pembendungan. Pengaruh positifnya, tidak bisa kita pungkiri akan tetapi lebih banyak sisi negatifnya, yaitu memperlemah karakter bangsa, khususnya generasi muda. Oleh karena itu, generasi muda bangsa sebagai subyek pembangunan perlu dibentengi dan dipersiapkan sedini mungkin agar mampu memecahkan berbagai permasalahan kompleks yang dihadapi serta memperbaiki nilai-nilai karakter bangsa.
Menata masa depan bangsa ke arah yang lebih baik perlu dilakukan melalui pembinaan karakter generasi muda guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Keberhasilan suatu bangsa dalam memperoleh tujuannya tidak hanya ditentukan oleh melimpah ruahnya sumber daya alam, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Bangsa yang besar dapat dilihat dari kualitas atau karakter bangsa (manusia) itu sendiri.
Menurut Hasan pembinaan karakter generasi muda dapat ditempuh dengan berbagai upaya termasuk melalui “pendidikan yang dilakukan secara terprogram, bertahab dan berkesinambungan”.
Kesehatan mental, budi pekerti luhur atau akhlak yang mulia sangat penting bagi perkembangan peradaban dan kebudayaan suatu bangsa, disamping kecerdasan berfikir dan kemampuan intelektual. Biasanya masyarakat berpandangan bahwa upaya untuk meningkatkan kecerdasan berfikir, pembangunan mental, budi pekerti dan akhlak mulia adalah tugas dunia pendidikan.
Proses dan hasil dari upaya pendidikan dampaknya akan terlihat dalam waktu yang tidak segera (melalui proses yang agak lamban), tetapi melalui upaya tesebut setidaknya generasi muda akan lebih memiliki daya tahan dan tangkal yang kuat terhadap setiap permasalahan dan tantangan.
Pembinaan karakter melalui pendidikan tampaknya merupakan solusi preventif dalam upaya membentengi generasi muda dari degradasi moral yang berkelanjutan dan meningkatkan kualitas manusia ke arah yang lebih baik agar selain cerdas juga berakhlak dan berbudi pekerti luhur. Watak yang tidak bermoral perlu dicegah kehadirannya dalam pergaulan kehidupan manusia. Watak tidak berbudi yang sering tampak dalam masyarakat harus segera diakhiri, dan untuk jangka panjang perlu pembinaan generasi muda berbudi luhur yaitu harus dimulai sejak dini atau sejak anak masih kecil. Oleh karena itu “pendidikan budi pekerti di sekolah dimulai dari sekolah dasar, yang seungguhpun pada sudah terjadi di lingkungan keluarga”.
Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) telah merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyatakan bahwa :
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dari pasal tersebut terdapat rujukan untuk melaksanakan pembentukan karakter bangsa, oleh karena itu rumusan tujuan pendidikan nasional harus menjadi dasar pengembangan pendidikan karakter bangsa sehingga pengembangan pendidikan karakter sangat strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa kini dan masa mendatang.
Meskipun secara yuridis formal sejak tahun 2003 bangsa Indonesia telah memiliki landasan bagi terselenggaranya pendidikan karakter, namun pada kenyataannya karakter bangsa semakin mengalami degradasi. Terdapat beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi sebagai akar penyebabnya, yaitu :
1. Rendahnya Tingkat Kesadaran Ideologi Bangsa
Saat ini kesadaran terhadap ideologi bangsa semakin menurun, tampak pada masih banyaknya generasi muda yang memiliki perilaku yang jauh dari nilai-nilai utama Pancasila (ketuhanan, keilmuan dan kebangsaan) yang merupakan pilar utama karakter bangsa. Ketuhanan, berkaitan dengan rendahnya tingkat ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, keilmuan berkaitan dengan rendahnya tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memecahkan masalah kehidupan. Sedangkan kebangsaan berkaitan dengan menurunnya rasa nasionalisme atau kecintaan kepada tanah air, negara dan bangsa.
Degradasi kesadaran ideologi bangsa apabila dibiarkan berlangsung secara terus menerus maka akan semakin dapat membahayakan ketahanan nasional dan stabilitas negara akan semakin rapuh yang berujung pada kehancuran sebuah negara.
2. Belum Dikembangkannya Landasan Paedagogis Untuk Menanamkan Kesadaran Terhadap Nilai-Nilai Karakter Bangsa.
Indonesia sampai saat ini belum memiliki landasan pedagosis yang kuat dalam menanamkan kesadaran nilai-nilai karakter bangsa. Pembinaan karakter bangsa pada generasi muda melalui aplikasi pendidikan karakter di semua jenjang pendidikan masih belum menemukan format yang tepat dan sesuai dengan karakteristik bangsa. Memang bila ditinjau dari landasan yuridis, pendidikan karakter telah tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), dan telah ditindak lanjuti dengan kebijakan Kemdiknas untuk diberlakukan pada semua jenjang pendidikan mulai tahun 2011. Ini berarti secara makro pendidikan karakter memiliki landasan yuridis yang cukup kuat, tetapi secara mikro pada aplikasi di tingkat satuan pendidikan dan kelas pendidikan karakter belum memiliki landasan paedagogis yang mendasari.
Amory mengemukakan bahwa “setiap pengembangan pendidikan harus dilandasi dengan teori-teori pendidikan”.
Ardana menambahkan bahwa :
Untuk meningkatkan kualitas praktek pendidikan diperlukan aplikasi dari berbagai teori pendidikan. Apabila melihat sejarah, reformasi pendidikan hampir selalu berakhir dengan keadaan lebih buruk.
3. Belum Adanya Landasan Operasional Untuk Menerapkan Pendidikan Karakter Bangsa Dilembaga Pendidikan Karakter Bangsa Dilembaga Pendidikan Yang Bisa Mengkolaborasikan Komponen Bangsa Dalam Upaya Mewujudkan Bangsa Yang Berkarakter.
4. Belum Adanya Kolaborasi Antar Komponen Bangsa Dalam Upaya Menanamkan Kesadaran Nilai-Nilai Karakter Bangsa.
Saat ini antar komponen bangsa kurang optimal dalam berkolaborasi dalam menanamkan kesadaran nilai-nilai karakter bangsa. Kolaborasi antar komponen bangsa adalah membangun yang serasi dan saling menguntungkan dalam pembinaan karakter bangsa. Komponen bangsa meliputi orang tua, masyarakat, lembaga pendidikan, media masa, dan lembaga agama.
Fakta menunjukkan antar komponen masih memiliki kecenderungan untuk bekerja sendiri-sendiri, bahkan saling berkompetisi guna memenangkan kepentingannya masing-masing sehingga terjadi ketidakharmonisan/ ketidaksesuaian visi dan misi yang dimiliki untuk menanamkan kesadaran nilai-nilai karakter bangsa kepada generaesi muda. Nilai karakter yang diajarkan di lembaga pendidikan sering dinegosiasikan oleh nilai-nilai yang dipertontonkan di media massa, demikian pula nilai-nilai yang diajarkan lembaga agama sering tidak dijumpai dalam kehidupan keseharian di lingkungan keluarga, masyarakat maupun media massa.
5. Sedikitnya Literatur Yang Bisa Digunakan Sebagai Rujukan Untuk Menyampaikan Materi Tentang Pendidikan Karakter Bangsa
Kelima permasalahan tersebut bila tidak segera dipecahkan, maka akan dapat berakibat semakin rendahnya nilai-nilai karakter generasi muda dan berdampak sistematik pada rendahnya sumber daya manusia. Semakin rendah kualitas sumber daya manusia maka ketahanan nasional akan semakin rapuh karena negara akan kehilangan potensi untuk mengembangkan dan melindungi diri.
Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa yang berisi kekuatan nasional di dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman dan hambatan, serta gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan identitas, integritas, kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.
Ketahanan nasional dirumuskan kedalam delapan subsistem (Astagatra), meliputi gatra alamiah (kondisi geografis, demografi dan sumber kekayaan alam) dan gatra sosial (ideologi, politik, sosial dan budaya, serta pertahanan keamanan) yang merupakan satu kesatuan. Ketahanan pada aspek ideologi dimaksudkan untuk membentengi masyarakat dari segala pengaruh ideologi baik dari luar maupun dalam yang dapat menghambat pencapaian cita-cita dan tujuan nasional.
Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia berfungsi mengarahkan perjuangan Indonesia untuk mencapai cita-citanya sehingga perannya sangat penting dalam kehidupan negara.
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berfikir, bersikap dan bertindak. Kebijakan terdiri atas sebuah nilai, moral, dan norma.
Menurut Rachman “karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, bangsa dan negara”.
Karakter berintinkan nilai-nilai yang sangat penting bagi kehidupan manusia. “Nilai-nilai merupakan standar perbuatan dan sikap yang menentukan siapa kita, bagaimana kita hidup dan memperlakukan orang lain”.
Nilai-nilai sebagai acuan bagi seluruh diri dan perilaku keseharian baik terhadap diri sendiri maupaun orang lain. Jadi pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan. Lingkungan sosial dan budaya bangsa Indonesia ada Pancasila. Jadi karakter bangsa harus berdasarkan pada nilai-nilai dasar Pancasila. Pembinaan karakter bangsa berarti mengembangkan nilai-nilai dasar Pancasila (Ketuhanan, keilmuan dan kebangsaan) pada diri setiap generasi muda melalui cita, rasa dan karsa. Pancasila adalah sumber dari segala sumber nilai-nilai luhur bangsa.
Ketahanan nasional bangsa akan semakin kokoh bila didukung oleh sumber daya manusia berkualitas (hard skill maupun soft skill). Hard skill adalah kemampuan teknis yang dapat terlihat wujudnya dan dapat dikuasai melalui penguasaan intelektual dan ketrampilan. Sedangkan soft skill adalah kemampuan non teknis yang tidak terlihat wujudnya dan sangat diperlukan dalam membangun karakter seseorang.
Pencapaian soft skill harus melalui pendekatan pembinaan sikap yang dilaksanakan terus menerus dan berkelanjutan. Perkembangan soft skill harus seirama dengan hard skill yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari berbagai fakta, diketahui bahwa mayoritas generasi muda secara umum telah mengalami degradasi nilai-nilai karakter bangsa yaitu dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Faktor Internal
Pengaruh internal adalah pengaruh yang berasal dari diri pribadi, berkaitan dengan perspektif diri pribadi dalam memaknai nilai-nilai yang diyakininya. Ketika diri pribadi memiliki persepsi yang salah terhadap nilai-nilai yang diyakininya, maka perilaku yang muncul pasti akan menyimpang dari nilai-nilai tersebut dan sebaliknya ketika memiliki persepsi yang benar tentang nilai-nilai karakter yang diyakini maka perilaku yang muncul pasti sesuai dengan nilai-nilai tesebut.
2. Faktor Eksternal
Pengaruh eksternal berasal dari lingkungan eksternal seperti lingkungan kelauarga, sekolah, masyarakat, media massa, lembaga agama dan lain-lain. Pengaruh ini bisa merubah perpektif diri pribadi dalam memaknai nilai-nilai karakter yang diyakini atau justru akan menghancurkannya.
Katahanan Nasional yang kokoh dapat terwujud bila aspek karakter menjadi bidang utama yang mendapatkan prioritas untuk dilaksanakan. Pembinaan karakter yang dilaksanakan secara terprogram dan terus menerus diharapkan mampu mengatasi setiap permasalahan yang muncul, seperti :
a. Adanya Peningkatan Tingkat Kesadaran Ideologi Bangsa.
Kesadaran terhadap ideologi bangsa harus dibangkitkan dan ditingkatkan. Nilai-nilai utama Pancasila (ketuhanan, keilmuan dan kebangsaan) harus ditanamkan dalam jiwa generasi muda sedini mungkin melalui berbagai upaya yang dilakukan secara terprogram, bertahab dan berkesinambungan. Generasi muda harus memiliki tingkat kesadaran yang tinggi terhadap ideologi bangsa yaitu Pancasila. Dengan tingginya tingkat kesadaran terhadap ideologi Pancasila, generasi muda akan mampu berperan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk mencapai kesadaran ideologi bangsa yang tinggi maka perlu upaya-upaya dari pemerintah untuk semakin menggalakkan peningkatan kesadaran ideologi melalui berbagai pembinaan karakter seperti penyelenggaraan pendidikan dan latihan, penataran, workshop, seminar, diskusi dan lain-lain.
b. Terwujudnya Landasan Paedagogis Untuk Menanamkan Kesadaran Terhadap Nilai-Nilai Karakter Bangsa.
Bangsa Indonesia perlu mengembangkan landasan paedagogis untuk menanamkan kesadaran terhadap nilai-nilai karakter bangsa. Selama ini landasan paedagogis pendidikan karakter masih mengacu pada nilai karakter bangsa asing yang bercorak pragmatis, sekuler, atau sosialisme. Bangsa Indonesia perlu menggali kembali nilai-nilai luhur kebudayaan asli atau mengakulturasikan kebudayaan bangsa lain asal sesuai dan seiring dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Sebenarnya bangsa Indonesia memiliki banyak tokoh pendidikan yang dapat menjadi panutan seperti Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Dr. Soetomo, dan lain-lain yang melalui pemikirannya Indonesia memiliki beragam jenis teori pendidikan yang seiring dengan kondisi alam dan beragam kultur yang dimilikinya. Pemerintah yang dipelopori Kemendiknas perlu mengembangkan landasan paedagogis untuk menanamkan kesadaran nilai-nilai karakter bangsa dan harus mengacu pada nilai-nilai luhur karakter bangsa Indonesia sendiri. Bila landasan paedagogis telah terumuskan, maka perlu ditindaklanjuti dengan ujicoba di lapangan dan langsung dievaluasi hasilnya. Uji coba dilaksanakan melalui siklus penciptaan dan revisi serta merupakan proses berkelanjutan untuk menghasilkan pemecahan masalah dan temuan-temuan metode pendidikan yang baru. Bila hasilnya positif maka landasan paedagogis dapat diterapkan dan ditetapkan sebagai salah satu sistem pendidikan yang mengajarkan pendidikan karakter bercorak keindonesiaan.
c. Terwujudnya Kolaborasi Antar Komponen Bangsa Dalam Upaya Menanamkan Kesadaran Nilai-Nilai Karakter Bangsa.
Kolaborasi antar komponen bangsa (orang tua, masyarakat dan lembaga agama) harus segera diwujudkan sehingga tercapai kesamaan visi dan misi dalam menanamkan kesadaran nilai-nilai karakter bangsa. Karena masing-masing memiliki ketergantungan antara yang satu dengan yang lain maka saling berkolaborasi menyatu membangun kekuatan dalam kebersamaan, saling peduli, saling mendukung dan bekerjasama membangun kesadaran nilai-nilai karakter bangsa.
Bila ketiga permasalahan mendasar ini dapat dipecahkan melalui upaya pembinaan karakter yang terprogram dan terus menerus maka ketahanan nasional yang kokoh dapat tercapai. Ini dapat meningkatkan kesejahteraan, kebudayaan, dan peradaban bangsa Indonesia.
Sejarah membuktikan hanya manusia yang berbudaya dan beradab, taat pada nilai-nilai ajaran agama, menguasai dan mampu menerapkan ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah kehidupan, cinta tanah air dan bangsa akan mampu berkembang mejadi manusia yang terampil dan unggul karena memiliki produktifitas dan daya saing yang tinggi. Ini akan semakin meningkatkan dan mempertahanakan peradaban yang telah tercapai yang sejahtera dan berkeadilan.
Degradasi karakter bangsa khususnya generasi muda dapat diatasi dengan upaya pembinaan karakter generasi muda yang terprogram, bertahab dan bekelanjutan. Nilai-nilai karakter yang dibina harus mengacu pada nilai-nilai dasar Pancasila untuk penanaman, pemahaman dan penguasaan nilai-nilai tersebut diperlukan landasan paedagogis yang tepat sesuai dengan kebutuhan serta memerlukan kolaborasi yang harmonis antar komponen bangsa. Keberhasilan pembinaan karakter bangsa dapat meningkatkan sumber daya manusia dan memperkokoh ketahanan nasional.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk mengetahui tentang aktualisasi pendidikan karakter bangsa. Untuk itu dalam skripsi ini, penulis mengambil judul “Aktualisasi Pendidikan Karakter Bangsa Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang”.
B. Fokus Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah penanaman nilai-nilai karakter bangsa dan jenisnya, perilaku seluruh warga sekolah terutama guru dan peserta didik, desain pembelajaran berkarakter (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran / RPP Berkarakter), pembelajaran berkarakter (pendidikan karakter bangsa terintegrasi ke seluruh mata pelajaran), sasaran, tujuan dan hal-hal yang mempengaruhi pendidikan karakter bangsa.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang ?
2. Bagaimana tujuan dari aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang ?
3. Faktor-faktor apa saja yang mendukung aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang ?
4. Faktor-faktor apa saja yang menghambat aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang dan bagaimana solusinya ?
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang.
2. Untuk mengetahui tujuan aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang.
4. Untuk mengetahui faktor-faktor penghambat aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang dan solusinya.
E. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan nilai guna baik secara teoritis maupun praktis, antara lain:
1. Secara Teoritis
Hasil penelitian tentang aktualisasi pendidikan karakter bangsa ini diharapkan dapat berguna untuk membangun ilmu / teori dan sebagai sumbangan terhadap khasanah keilmuan yaitu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pendidikan.
2. Secara Praktis
a. Bangsa Dan Negara
Sebagai solusi untuk langkah selanjutnya dalam mengatasi permasalahan mengenai karakter bangsa, serta memberikan gambaran mengenai aktualisasi pendidikan karakter bangsa dalam pelaksanaan di lapangan/lembaga pendidikan.
b. Masyarakat
Sebagai gambaran tentang pendidikan karakter bangsa beserta pelaksanaanya serta diharapkan mampu memberikan masukan kepada masyarakat akan pentingnya pendidikan karakter bangsa khususnya generasi muda sehingga dibutuhkan peran aktif dari selluruh komponen bangsa terutama masyarakat dalam mewujudkan pendidikan karakter bangsa.
c. Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang
Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi pelaksanaan pendidikan karakter bangsa pada tahab berikutnya sehingga menjadi lebih baik dari pelaksanaan sebelumnya.
d. Peneliti
Bagi peneliti sendiri sebagai proses pengalaman belajar dan aplikasi riset kependidikan di lembaga pendidikan khususnya tentang aktualisasi pendidikan karakter bangsa.
Sedangkan bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat berguna sebagai pijakan bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang memiliki kemiripan /kesamaan dengan penelitian ini.
e. Pembaca
Sebagai literatur dan menambah wawasan atau ilmu pengetahuan pembaca.
f. STIT IBNU SINA
Sebagai sumbangan pemikiran dan bahan rujukan bagi mahasiswa STIT Ibnu Sina Malang yang akan melakukan penelitian (penulisan skripsi) dan pembelajaran mata kuliah metodologi penelitian kualitatif.
F. Penegasan Istilah
Agar pembaca lebih dapat memahami maksud dari judul skripsi ini, maka penulis menjelaskan beberapa istilah yang ada untuk menghindari adanya penafsiran ganda/multi tafsir/ambigu, antara lain:
1. Aktualisasi
Aktualisasi adalah pelaksanaan/penerapan suatu hal.
2. Pendidikan
Pendidikan dapat diartikan bahwa :
Pendidikan adalah suatu aktifitas atau usaha sadar manusia yang sistematis untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rokhani (pikir,karsa,rasa,cipta dan budi nurani) dan jasmani (pancaindera serta ketrampilan-ketrampilan).
3. Karakter
Karakter dapat diartikan :
Karakter adalah ciri atau karateristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan seseorang sejak lahir.
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepibadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berfikir bersikap dan bertindak. Kebijakan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma.
4. Karakter bangsa
Karakter bangsa adalah karakter yang dimiliki warga negara berdasarkan tindakan-tindakan yang dinilai sebagai suatu kebijakan berdasarkan nilai yang berlaku di masyarakat dan bangsa.
Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa pengertian pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil.
Jadi yang dimaksud dengan aktualisasi pendidikan karakter bangsa adalah pelaksanaan pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan karakter nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif.
G. Sistematika Pembahasan
BAB I : Dalam bab ini berisi pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah, dan sistematika pembahasan.
BAB II : Bab ini merupakan bahan rujukan penelitian yang berisi kajian pustaka tentang hakikat pendidikan karakter bangsa, tujuan dan fungsi pendidikan karakter bangsa, esensi pendidikan karakter bangsa (pilar-pilar pendidikan karakter bangsa, ciri dasar pendidikan karakter bangsa, sasaran pendidikan karakter bangsa), aktualisasi pendidikan karakter bangsa di sekolah (basis desain pendidikan karakter bangsa, pendekatan pendidikan karakter bangsa, metodologi pendidikan karakter bangsa), nilai-nilai dalam pendidikan karakter bangsa.
BAB III : Bab ini merupakan bab yang berisi metode penelitian, menguraikan tentang jenis penelitian, subyek penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, teknik pengujian keabsahan data.
BAB IV : Bab ini berisi paparan data dan temuan penelitian hasil observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang berkaitan dengan pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang, tujuan aktualisasi pendidikan karakter bangsa di sekolah tersebut, faktor-faktor pendukung, faktor-faktor penghambat, dan solusinya.
BAB V : Bab ini merupakan pembahasan hasil penelitian yang meliputi aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang, tujuan aktualisasi pendidikan karakter bangsa di sekolah ini, faktor-faktor pendukung, faktor-faktor penghambat, dan solusinya.
BAB VI : Penutup yang meliputi kesimpulan dan saran.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Hakikat Pendidikan Karakter Bangsa
Pendidikan karakter bangsa merupakan sebuah istilah yang semakin hari semakin mendapat pangakuan dari masyarakat Indonesia saat ini. Terutama dengan dirasakannya berbagai ketimpangan hasil pendidikan dilihat dari perilaku lulusan pendidikan formal saat ini, semisal korupsi, perkembangan seks bebas pada kalangan remaja, narkoba, tawuran, pembunuhaan, perampokan pelajar dan pengangguran lulusan sekolah menengah keatas. Semuanya terasa lebih kuat ketika negara ini dilanda krisis dan tidak kunjung beranjak dari krisis yang dialami.
Istilah pendidikan karakter masih jarang didefinisikan oleh banyak kalangan. Kajian teoritis terhadap pendidikan karakter bahkan salah-salah dapat menyebabkan salah tafsir tentang makna pendidikan karakter. Beberapa masalah ketidaktepatan makna yang beredar di masyarakat mnengenai makna pendidikan karakter dapat diidentifikasi diantaranya sebagai berikut:
1. Pendidikan Karakter = mata pelajaran agama dan PKn, karena itu menjadi tanggung jawab guru agama dan PKn.
2. Pendidikan Karakter = mata pelajaran budi pekerti.
3. Pendidikan Karakter = pendidikan yang menjadi tanggung jawab keluarga, bukan tanggung jawab sekolah.
4. Pendidikan Karakter = adanya penambahan mata pelajaran baru dalam KTSP.
Berbagai makna yang kurang tepat tentang pendidikan karakter itu bermunculan dan menempati banyak pikiran orang tua, guru, dan masyarakat umum.
Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab. Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yaitu sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (inkulturasi dan sosialisasi). Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan, yaitu:
1. Afektif yang tercermin pada kulaitas keimanan, ketaqwaan, akhlak mulai termasuk budi pekertiluhur serta kepribadian yang unggul, dan kompetisi estetis;
2. Kognitif yang bercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
3. Psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan ketrampilan teknis, kecakapan praktis dan kompetensi kinetis.
Secara etimologi karakter berasal dari bahasa latin “Kharakter”, “Kharassein”, “Kharax”, dalam bahasa Inggris: Charakter dan Indonesia “karakter” , Yunani Charakter, dan Charassein yang berarti membuat tajam, membuat dalam. Sedangkan secara terminologi karakter adalah tabi’at, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Namun dari jumlah seluruh pribadi yang meliputi hal-hal seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran.
Karakter bangsa adalah karakter yang dimiliki warga negara berdasarkan tindakan-tindakan yang dinilai suatu kebijakan berdasarkan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dan bangsa.
Pendidikan karakter, menurut Ratna Megawangi adalah :
Sebuah usaha untuk mendidik anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan konstribusi yang positif kepada lingkungannya.
Pendidikan karakter dalam setting sekolah sebagai pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah.
Definisi ini mengandung makna :
1. Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang terintegrasi dalam pembelajaran yang terjadi pada semua mata pelajaran.
2. Diarahkan pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh. Asumsinya anak merupakan organisme manusia yang memiliki potensi untuk dikuatkan dan dikembangakan.
3. Penguatan dan pengembangan perilaku didasari oleh nilai yang dirujuk sekolah atau lembaga.
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa secara konseptual pendidikan karakter merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik menjadi manusia utuh yang berbudi pekerti luhur dalam segenap penerapannya di masa yang akan datang atau pembentukan, pengembangan, peningkatan, pemeliharaan, pelaksanaan tugas hidupnya, secara selaras, serasi, seimbang lahir batin, jasmani rohani, material spiritual, individual sosial, dan dunia akhirat.
Secara operasional pendidikan karakter adalah upaya untuk membentuk perilaku peserta didik yang tercermin dalam kata, perbuatan, sikap, pikiran, perasaan, kerja, dan hasil karya berdasarkan nilai, norma, dan moral luhur bangsa Indonesia melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan.
Jadi hakikat pendidikan karakter bangsa adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada peserta didik sehingga mereka memiliki nilai-nilai karakter sebagai dirinya, menerapkan karakter-karakter nilai tersebut dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif.
B. Tujuan Dan Fungsi Pendidikan Karakter Bangsa
Pendidikan karakter seharusnya bukan pendidikan akademik semata, tetapi tujuannya seharusnya mengarah pada pengembangan berbagai karakter manusia. Jadi ukuran keberhasilan tidak berhenti pada angka ujian saja.
Ukuran keberhasilan yang berhenti pada angka ujian, seperti halnya ujian nasional, adalah sebuah kemunduran, karena dengan demikian pembelajaran akan menjadi sebuah proses menguasai ketrampilan dan mengakumulasi pengetahuan. Paradigma ini menempatkan peserta didik sebagai pelajar imitatif dan belajar dari ekspose-ekspose didaktis yang akan behenti pada penguasaan fakta, prinsip dan aplikasinya. Pradigma ini tidak sesuai dengan esensi pendidikan yang digariskan dalam UU Sisdiknas.
Ada beberapa tujuan dari pendidikan karakter bangsa, antara lain sebagai berikut:
1. Mengupayakan pembentukan karakter yang baik (good charakter) dan kepribadian yang baik.
2. Untuk memanusiakan manusia.
3. Merubah manusia menjadi lebih baik dalam pengetahuan, sikap dan ketrampilan.
4. Agar generasi muda sebagai penerus generasi tua dapat menghayati, memahami, mengamalkan nilai-nilai atau norma-norma dengan cara mewariskan segala pengalaman, pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan yang melatarbelakngi nilai-nilai dan norma-norma hidup dan kehidupan.
5. Membantu manusia menjadi manusia yang lebih utuh.
6. Membantu orang dapat lebih baik hidup bersama dengan orang lain dan dunianya (learning to live together) untuk menuju kesempurnaan.
7. Untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang.
8. Agar anak mampu memahami, merasakan, dan mengerjakan nilai-nilai kebijakan.
Pendidikan karakter dalam setting sekolah memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian/kepemilikan.
2. Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah.
3. Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama.
Sedangkan fungsi dari pendidikan karakter bangsa, yaitu:
1. Sebagai sarana strategis untuk meningkatkan kualitas manusia dan bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat.
2. Mengembangkan kemampuan, membentuk watak dan peradaban bangsa yaitu memberikan pencerahan yang memadai bahwa pendidikan harus berdampak pada watak manusia/bangsa Indonesia.
“Mengembangkan Kemampuan” dapat dipahami bahwa peserta didik adalah manusia yang potensial dan dapat dikembangkan secara optimal melalui proses pendidikan. Kemampuan yang harus dikembangkan pada peserta didik melalui persekolahan adalah berbagai kemampuan yang akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang berketuhanan (tunduk patuh pada konsep ketuhanan) dan mengemban amanah sebagai pemimpin di dunia. Kemampuan yang perlu dikembangkan pada peserta didik melalui persekolahan adalah berbagai kemampuan yang akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang berketuhanan (tunduk patuh kepada konsep ketuhanan) dan mengemban amanah sebagai pemimpin didunia. Kemampuan yang perlu dikembangkan pada peserta didik Indonesia adalah kemampuan mengabdi kepada Tuhan yang menciptakannya, kemampuan untuk menjadi dirinya sendiri, kemampuan untuk hidup secara harmoni dengan manusia dan makhluk lainnya, dan kemampuan untu kmenjadikan dunia ini sebagai wahana kemakmuran dan kesejahteraan bersama.
“Membentuk watak” mengandung makna bahwa pendidikan harus diarahkan pada pembentukan watak. Jika watak dibentuk, maka tidak ada proses pedagogik / pendidikan, yang terjadi adalah pengajaran. Terjadinya proses pendidikan harus ada kebebasan peserta didik sebagai subyek didik, bukan sebagai obyek.
“Peradaban Bangsa”, dalam spektrum pendidikan nasional dapat dipahami bahwa pendidikan karakter itu selalu dikaitkan dengan pembangunan bangsa Indonesia sebagai suatu bangsa yang berkarakter. Dalam perspektif pedagogik, pendidikan karakter bangsa itu berfungsi untuk menjadikan manusia terdidik dan bangsa yang beradab.
Mencermati tujuan dan fungsi pendidikan karakter bangsa pada uraian diatas, dapat dipahami bahwa tujuan dan fungsi pendidikan karakter bangsa adalah sebagai berikut :
1. Fungsi Pendidikan Karakter Bangsa
a. Pengembangan
Pendidikan karakter bangsa berfungsi sebagai pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi yang berperilaku baik, ini bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan karakter bangsa.
b. Perbaikan
Pendidikan karakter bangsa berfungsi untuk memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat.
c. Penyaring
Pendidikan karakter bangsa untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter bangsa yang bermartabat.
2. Tujuan Pendidikan Karakter Bangsa
a. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa.
b. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius.
c. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.
d. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan.
e. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).
C. Esensi Pendidikan Karakter Bangsa
1. Pilar-pilar Pendidikan Karakter Bangsa
a. Moral Knowing
Moral Knowing merupakan pengetahuan tentang moral atau kebaikan.
Moral knowing sebagai aspek pertama memiliki enam unsur, yaitu :
1) Kesadaran moral (Moral awereness)
2) Pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values)
3) Penentuan sudut pandang (perspective taking)
4) Logika moral (moral reasoning)
5) Keberanian mengambil / menentukan sikap (decision making)
6) Pengenalan diri (self knowledge)
b. Moral Loving atau Moral Feeling
Moral Loving merupakan penguatan aspek emosi peserta didik untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh peserta didik, yaitu kesadaran akan jati diri, yaitu :
1) Nurani (conscience)
2) Percaya diri (self esteem)
3) Kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty)
4) Mencintai kebenaran (loving the good)
5) Pengendalian diri (self control)
6) Kerendahan hati (humility)
Bersikap adalah merupakan wujud keberanian untuk memilih secara sadar. Setelah itu ada kemungkinan ditindaklanjuti dengan memperhatikan pilihan lewat argumentasi yang bertanggungjawab, kukuh dan bernalar.
c. Moral Doing / Acting
Moral Acting adalah bagaimana membuat pengetahuan moral dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata. Perbuatan tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen lainnya.
Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter, yaitu kompetensi (competence), keinginan (will), dan kebiasaan (habit).
Pendidikan karakter terhadap anak hendaknya menjadikan seorang anak terbiasa untuk berperilaku baik sehingga ia menjadi terbiasa, dan akan merasa bersalah kalau tidak melakukannya. Dengan demikian, kebiasaan baik yang sudah menjadi naluri, otomatis akan membuat seorang anak merasa bersalah bila tidak melakukan kebiasaan baik tersebut.
2. Ciri Dasar Pendidikan Karakter Bangsa
Ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter, yaitu :
a. Keteraturan Interior
Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan (setiap tindakan diukur berdasarkan hierarki nilai).
b. Koherensi
Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Koherensi memberi keberanian membuat seseorang teguh pada prinsip, dan tidak mudah berombang-ambing pada situasi baru atau takut resiko. Tidak adanya koherensi dapat meruntuhkan kredibilitas seseorang.
c. Otonomi
Seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh desakan pihak lain.
d. Keteguhan dan kesetiaan
“Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna menginginkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih”.
Kematangan keempat karakter ini, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. Karakter inilah yang menentukan performa seorang pribadi dalam segala tindakannya.
3. Sasaran Pendidikan Karakter Bangsa
Gambaran tentang orang Indonesia yang ramah, berbudaya, dan berbudi pekerti luhur telah memudar. Kesan yang muncul adalah kekerasan dan tindakan tidak manusiawi terjadi hampir di pelosok negeri dan berlangsung dalam waktu yang lama. Tudingan ini lebih tertuju pada kegagalan pendidikan nilai, yang dibina tiap lembaga pendidikan. Bahkan, banyak yang mengklaim bahwa merebaknya gejala seperti ini akibat kegagalan dalam menumbuhkan pendidikan nilai.
Pada dasarnya, pendidikan karakter bangsa sebagai proses alih nilai mempunyai tiga sasaran yaitu :
a. Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk manusia yang mempunyai keseimbangan antara kemampuan kognitif dan psikomotorik disatu pihak serta kemampuan afektif di pihak lain. Ini berarti bahwa pendidikan akan menghasilkan manusia yang berkepribadian, tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang luhur, serta mempunyai wawasan dan sikap kebangsaan dan menjaga serta memupuk jati dirinya (proses pembudayaan)
b. Sistem nilai termasuk nilai-nilai keimanan dan ketakwaan, yang terpancar pada ketundukan manusia untuk melaksanakan ibadah menurut kepercayaan dan keyakinan masing-masing, berakhlak mulia, serta senantiasa menjaga harmoni hubungan dengan Tuhan dengan sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya. Ini disebut sebagai proses pembinaan imtak.
c. Tata nilai yang mendukung proses industrialisasi dan penerapan teknologi, seperti penghargaan atas waktu, etos kerja tinggi, disiplin,, kemandirian, kewirausahaan, dan sebagainya. Ini disebut sebagai proses pembinaan iptek.
Dalam konteks demikian, pendidikan karakter tidak bisa lepas dari sistem nilai yang dimiliki masyarakat serta proses internalisasi nilai untuk melestarikan sistem nilai tersebut. Proses ini pada dasarnya salah satu aspek dari subtansi proses pendidikan. Dengan demikian, pendidikan karakter merupakan proses pendidikan yang dapat berlangsung di keluarga (bagian dari isi pola asuh), di masyarakat (bagian dari interaksi sosial), dan di sekolah (bagian dari proses pendidikan formal). Dengan demikian, pendidikan karakter akan dapat menumbuhkan sikap serta perilaku sehari-hari yang mencerminkan sistem nilai yang hidup di suatu masyarakat. Bahkan pendidikan karakter bangsa merupakan pengembangan budaya dan nilai-nilai luhur bangsa.
Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh warga civitas akademika yang terdapat pada setiap satuan pendidikan, baik negeri maupun swasta. Semua warga sekolah yang meliputi para peserta didik, guru, karyawan, administrasi, dan pimpinan sekolah. Melalui pendidikan karakter diharapkan memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya bangsa.
D. Aktualisasi Pendidikan Karakter Bangsa di Sekolah
1. Basis Desain Pendidikan Karakter Bangsa
Pendidikan karakter bisa efektif jika menyertakan tiga basis desain dalam pemrogramannya yang dilaksanakan secara simultan dan sinergis. Tanpanya, pendidikan hanya akan bersifat parsial, inkonsisten, dan tidak efektif.
Pertama, desain pendidikan berbasis kelas. Desain ini berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar di dalam kelas. Konteks pendidikan karakter adalah proses relasional komunitas kelas dalam konteks pembelajaran. Relasi guru pembelajar bukan monolog, melainkan dialog dengan banyak arah sebab komunitas kelas terdiri dari guru dan siswa yang sama-sama berinteraksi dengan materi. Memberikan pemahaman dan pengertian akan keutamaan yang benar-benar terjadi dalam konteks pengajaran ini, termasuk didalamnya adalah ranah noninstruksional, seperti manajemen kelas, konsesus kelas, dan lain-lain yang membantu terciptanya suasana belajar yang nyaman.
Kedua, desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Desain ini mencoba membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri peserta didik. Untuk menanamkan nilai kejujuran tidak cukup hanya dengan memberikan pesan-pesan moral kepada anak didik tetapi harus diperkuat dengan penciptaan kultur kejujuran melalui pembuatan tata peraturan sekolah yang tegas dan konsisten terhadap setiap perilaku ketidakjujuran.
Ketiga, desain pendidikan karakter berbasis komunitas. Dalam mendidik, komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. Masyarakat diluar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka. Ketika lembaga negara lemah dalam penegakan hukum, ketika mereka yang bersalah tidak pernah mendapatkan sanksi yang setimpal, negara telah mendidik masyarakat untuk menjadi manusia yang tidak menghargai tatanan sosial bersama.
2. Pendekatan Pendidikan Karakter Bangsa
Terdapat berbagai pendekatan terkait dengan pendidikan karakter, antara lain :
a. Pendekatan Penanaman Nilai
Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri peserta didik. Menurut pendekatan ini, tujuan pendidikan karakter adalah diterimanya nilai-nilai sosial tertentu oleh peserta didik dan berubahnya nilai-nilai peserta didik yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang diinginkan. Menurut pendekatan ini, metode yang digunakan dalam proses pembelajaran antara lain keteladanan, penguatan positif dan negatif, simulasi, permainan peranan, dan lain-lain.
b. Pendekatan Perkembangan Kognitif
Karakteristik pendekatan ini adalah memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong peserta didik untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Menurut pendekatan ini, perkembangan moral dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi.
Tujuan utama pendekatan ini adalah membantu peserta didik dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi dan mendorong peserta didik untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral.
Menurut pendekatan ini, proses pengajaran nilai didasarkan pada dilema moral, dengan menggunakan metode diskusi kelompok, dengan memperhatikan tiga kondisi penting yaitu :
1) Mendorong peserta didik menuju tingkat pertimbangan moral yang lebih tinggi
2) Adanya dilema, baik dilema hipotetikal maupun dilema faktual berhubungan dengan nilai dalam kehidupan seharian
3) Suasana yang dapat mendukung bagi berlangsungnya diskusi dengan baik.
c. Pendekatan Analisis Nilai
Pendekatan analisis nilai (values analysis approach) memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan peserta didik untuk berpikir logis. Dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nlai sosial.
Ada dua tujuan utama pendekatan ini. Pertama, membantu peserta didik untuk menggunakan kemampuan berfikir logis dan penemuan ilmiah dalam menganalisis masalah-masalah sosial, yang berhubungan dengan nilai moral tertentu. Kedua, membantu menghubung-hubungkan dan merumuskan konsep tentang nilai-nilai mereka. Metode yang digunakan adalah pembelajaran secara individu atau kelompok tentang masalah sosial yang memuat nilai moral, penyelidikan kepustakaan, penyelidikan lapangan dan diskusi kelas berdasarkan pemikiran rasional.
d. Pendekatan Klarifikasi Nilai
Pendekatan klarifikasi nilai (value clarification approach) memberi penekanan pada usaha membantu peserta didik dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri.
Ada tiga tujuan pendekatan ini. Pertama, membantu peserta didik agar menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain. Kedua, membantu peserta didik agar mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berfikir rasional dan kesadaran emosional, mampu memahami perasaan, nilai-nilai, dan pola tingkah laku mereka sendiri. Ketiga, membantu peserta didik agar mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, bebrhubungan dengan nilai-nilainya sendiri. Pendekatan ini menggunakan metode dialog, menulis, diskusi kelompok, dan lain-lain.
e. Pendekatan Pembelajaran Berbuat
Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) menekankan pada usaha memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok.
Ada dua tujuan utama pendekatan ini. Pertama, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan perbuatan moral, baik secara perorangan maupun secara bersama-sama berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri. Kedua, mendorong peserta didik untuk melihat diri mereka sebagai makhluk individu dan sosial dalam pergaulan dengan sesama yang tidak memiliki kebebasan sepenuhnya, melainkan sebagai warga dari suatu masyarakat yang harus mengambil bagian dalam suatu proses demokrasi.
Dari kelima pendekatan diatas, pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah pendekatan yang paling tepat digunakan dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Indonesia. Walaupun dikritik sebagai pendekatan indoktrinatif oleh penganut filsafat liberal, namun berdasarkan kepada nilai-nilai luhur budaya bangsa dan falsafah yang dianut bangsa Indonesia, pendekatan ini dianggap paling sesuai, alasannya yaitu :
1) Tujuan pendidikan karakter adalah penanaman nilai-nilai dalam diri peserta didik. Pengajarannya bertitik tolak dari nilai-nilai luhur budaya bangsa yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.
2) Menurut nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia dan pandangan hidup bangsa Indonesia, manusia memiliki berbagai hak dan kewajiban dalam hidupnya. Dalam rangka pendidikan karakter, peserta didik perlu diperkenalkan dengan hak dan kewajibannya agar menyadari dan dapat melaksanakan hak dan kewajiban tersebut dengan sebaik-baiknya.
3) Menurut konsep luhur bangsa Indonesia, hakikat manusia adalah makhluk Tuhan Yang Maha Esa, sehingga memiliki hak dan kewajiban asasi sebagai hak dan kewajiban dasar yang melekat eksistensi kemanusiaannya itu juga dihargai secara berimbang. Dalam rangka pendidikan karakter peserta didik perlu diperkenalkan dengan hak dan kewajiban asasinya sebagai manusia.
4) Dalam pendidikan karakter, faktor isi atau nilai dan proses merupakan hal yang amat penting. Nilai-nilai harus diajarkan sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa harus memperhathikan faktor keadaan serta bahan pelajaran yang relevan. Meskipun demikian, aktualisasinya perlu hati-hati, supaya tidak membuka bagi peserta didik untuk memilih nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai masyarakatnya, terutama nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur bangsa yang ingin dibudayakan dan ditanamkan dalam diri mereka.
3. Metodologi Pendidikan Karakter Bangsa
Pendidikan karakter di sekolah lebih banyak berurusan dengan penanaman nilai. Pendidikan karakter yang mengakarkan dirinya pada konteks sekolah akan mampu menjiwai dan mengarahkan sekolah pada penghayatan pendidikan karakter yang realistis, konsisten, dan integral. Ada lima unsur yang harus dipertimbangkan yaitu :
a. Mengajarkan
Salah satu unsur penting dalam pendidikan karakter adalah mengajarkan nilai-nilai sehingga anak didik memiliki gagasan konseptual tentang nilai-nilai pemandu perilaku yang bisa dikembangkan dalam mengembangkan karakter pribadinya. Pemahaman konseptual ini juga harus menjadi bagian dari pemahaman pendidikan karakter itu sendiri. Sebab, anak-anak akan banyak belajar dari pemahaman dan pengertian tentang nilai-nilai yang dipahami oleh para guru dan pendidik dalam setiap perjumpaan mereka.
Proses diseminasi nilai tidak hanya dapat dilakukan secara langsung di dalam kelas, melalui sebuah proses pembelajaran di kelas, melainkan bisa dimanfaatkan berbagai macam unsur dalam dunia pendidikan, misalnya proses perencanaan kurikulum, mengundang pembicara dalam sebuah semianar, diskusi, publikasi dan lain-lain secara khusus membahas nilai-nilai utama yang dipilih sekolah dalam kerangka pendidikan karakter bagi anak didik mereka.
b. Menentukan Prioritas
Lembaga pendidikan memiliki prioritas dan tuntutan dasar atas karakter yang diterapkan di lingkungan mereka. Pendidikan karakter menghimpun banyak kumpulan nilai yang dianggap penting bagi pelaksanaan dan realisasi atas visi lembaga pendidikan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan mesti menentukan tuntutan standar atas karakter yang akan dibawakan kepada peserta didik sebagai bagian dari kinerja kelembagaan.
Misalnya, prioritas berupa standar keilmuan berhasil/tidak dibuktikan melaui transparansi laporan perkembangan kemajuan kemampuan akademik anak didik di hadapan para pemangku kepentingan (orang tua dan masyarakat).
c. Keteladanan
Keteladanan menjadi salah satu hasil klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan pendidikan. Anak lebih banyak belajar dari apa yang dilihatnya. Pengetahuan yang baik tentang nilai akan menjadi tidak kredibel ketika gagasan teoritis normatif yang baik tidak pernah ditemui oleh anak-anak dalam praktik kehidupan di sekolah.
Indikasi adanya keteladanan dalam pendidikan karakter adalah terdapat model peran dalam diri insan pendidik, secara kelembagaan / korporat terdapat contoh-contoh dan kebijakan serta perilaku yang bisa diteladani oleh peserta didik.
d. Praksis Prioritas
Praksis prioritas adalah bukti dilaksanakannya prioritas nilai pendidikan karakter tersebut. Berkaitan dengan tuntutan lembaga pendidikan atas prioritas nilai yang menjadi visi kinerja pendidikan, lembaga pendidikan harus membuat verifikasi sejauh mana visi sekolah telah dapat direalisasikan dalam lingkup pendidikan itu sendiri. Misalnya, sikap sekolah terhadap pelanggaran atas kebijakan sekolah dan sanksi yang diterapkan secara transparan sehingga menjadi praksis kelembagaan.
e. Refleksi
Karakter yang ingin dibentuk oleh lembaga pendidikan melalui berbagai macam program dan kebijakan senantiasa perlu dievaluasi dan direfleksi secara berkesinambungan dan kritis tanpa hal ini, tidak akan pernah terdapat kemajuan.
Refleksi merupakan kemampuan sadar khas manusiawi. Dengan ini, manusia mampu mengatasi diri dan meningkatkan kualitas hidup dengan lebih baik.
E. Faktor Yang Mempengaruhi Pendidikan Karakter Bangsa
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi karakter / kepribadian seseorang dapat dikelompokkan dalam dua faktor, yaitu :
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri orang itu sendiri. Faktor internal ini biasanya merupakan faktor genetis atau bawaan. Faktor genetis maksudnya adalah faktor yang berupa satu sifat yang dimiliki salah satu dari kedua orang tuanya. Oleh karena itu, sering kita mendengar istilah “buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”. Misalnya, sifat mudah marah yang dimiliki seorang ayah bukan tidak mungkin akan menurun pula pada anaknya.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar orang tersebut, faktor eksternal ini biasanya merupakan pengaruh yang berasal dari lingkungan seseorang mulai dari lingkungan terkecilnya yakni keluarga, teman, tetangga sampai dengan pengaruh dari berbagai media audiovisual seperti TV dan VCD, atau media cetak seperti koran, majalah, dan lain sebagainya.
Selain itu, faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembinaan karakter harus menjadi perhatian kita. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah “guru, selebriti, pejabat birokrasi, tokoh masyarakat, teman sejawat, kedua orang tua, media cetak, media elektronik”.
Guru, sebagai sosok panutan harus dapat memberikan contoh dalam bertindak, bersikap, dan bernalar dengan baik. Bahkan, ia pun harus menunjukkan sebagai guru yang berkarakter.
Adapun yang dimaksud dengan berkarakter adalah “berbudi pekerti berupa tanggapan atau reaksi individu yang berwujud dalam gerakan (sikap) tidak hanya bdan tetapi juga ucapan”.
Perilaku guru akan “memberi warna terhadap watak” peserta didik. Karena itu, guru harus berkarakter, yaitu :
1. Memiliki pengetahuan keagamaan yang luas dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari secara aktif.
2. Meningkatkan kualitas keilmuan secara berkelanjutan
3. Bersih jasmani dan rohani
4. Pemaaf, penyabar, dan jujur
5. Berlaku adil terhadap peserta didik dan semua stakeholders pendidikan
6. Tanggap terhadap berbagai kondisi yang mungkin dapat mempengaruhi jiwa, keyakinan, dan pola pikir peserta didik.
7. Menumbuhkan kesadaran diri sebagai penasehat.
Ada perbedaan antara konsep guru sebagai pengajar dan pendidik. “Sebagai pengajar”, guru lebih berperan sebagai orang yang mentransfer ilmu. Sedangkan “sebagai pendidik”, guru lebih berperan sebagai model bagi pembentukan karakter. Kehadiran, sikap, pemikiran, nilai-nilai, keprihatinan, komitmen, dan visi yang dimilikinya merupakan dimensi penting yang secara tidak langsung mengajarkan nilai yang membentuk karakter peserta didik. Adapun fungsi dan jabatan guru disekolah, guru tidak dapat menanggalkan keberadaan mereka sebagai pendidik karakter.
Pendidikan karakter lebih terbentuk ketika guru bersama-sama dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah berjuang untuk menghayati visi dan merealisasikan nilai-nilai pendidikan dalam hidup mereka secara bersama-sama.
Selebriti, khususnya artis yang menjadi idola anak-anak remaja harus dapat memberika contoh yang baik. Sebab yang mereka lakukan dan tampilkan (selalu diliput media massa) akan menjadi perhatian fans dan cenderung ditiru. Pejabat dan tokoh masyarakat juga demikian. Mereka harus dapat memberikan teladan bawahan dan masyarakat. Misalnya sikap low profile, mendengarkan aspirasi bawahan / masyarakat, sikap terbuka, dan sikap positif lainnya. Sebaliknya, sikap dan perilaku pejabat dan tokoh masyarakat yang arogan, “bertangan besi”, sikap tertutup tentu akan merusak ruh pendidikan karakter.
Orang tua dan teman sejawat juga harus memberikan cermin yang dapat ditiru. Misalnya, sikap familiar, siap menjadi tempat curhat, memperhatikan aspirasi, sikap yang menyejukkan, sportif, dan sebagainya. Sebaliknya, sikap mau menang sendiri, arogan, egois, dan sikap negatif lain harus dihindari.
Media massa, baik cetak maupun elektronik harus sadar bahwa yang ditampilkan selalu menjadi perhatian publik. Karena itu, berita yang ditampilkan harus melalui seleksi yang ketat ditinjau dari efek-efek negatif bagi publik. Tayangan televisi dalam bentuk sinetron, hiburan, dan acara lain yang tidak mendidik publik harus dihindari.
F. Nilai-nilai Dalam Pendidikan Karakter Bangsa
Nilai yang benar dan diterima secara universal adalah nilai yang menghasilkan suatu perilaku yang berdampak positif baik bagi yang menjalankan maupun orang lain. Nilai adalah kualitas yang dibedakan menurut :
1. Kemampuan untuk bertambah meskipun sering diberikan kepada orang lain,
2. Kenyataan atau hukum bahwa makin banyak nilai diberikan kepada orang lain, makin banyak pula nilai serupa yang dikembalikan dan diterima dari orang lain.
Terkait dengan itu, pendidikan karakter pada dasarnya berdiri di atas dua pijakan. Pertama, keyakinan bahwa pada diri manusia telah terdapat benih-benih karakter dan alat pertimbangan untuk menentukan tindakan kebaikan. Kedua, pendidikan berlangsung sebagai upaya pengenalan kembali sekaligus mengkonfirmasi apa yang sudah dikenal dalam aktualisasi tertentu.
Dalam mewujudkan pendidikan karakter, tidak dapat dilakukan tanpa “penanaman nilai-nilai”. Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu :
1. Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya
2. Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian
3. Kejujuran
4. Hormat dan santun
5. Kasih sayang, kepedulian dan kerjasama
6. Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah
7. Keadilan dan kepemimpinan
8. Baik dan rendah hati
9. Toleransi, cinta damai, dan persatuan.
Indikator keberhasilan sekolah dan kelas dalam pengembangan pendidikan karakter bangsa adalah sebagai berikut :
1. Religius
Religius merupakan sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun terhadap pemeluk agama lain.
Indikator sekolah :
a. Merayakan hari-hari besar keagamaan
b. Memiliki fasilitas yang dapat digunakan untuk beribadah
c. Memberikan kesempatan kepada semua peserta didik untuk melaksanakan ibadah.
Indikator Kelas :
a. Berdo’a sebelum dan sesudah pelajaran
b. Memberikan kesempatan kepada semua peserta didik untuk melaksanakan ibadah.
2. Jujur
Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
Indikator sekolah :
a. Menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang
b. Transparansi laporan keuangan dan penilaian sekolah secara berkala
c. Menyediakan kantin kejujuran
d. Larangan membawa fasilitas komunikasi pada saat ulangan atau ujian
Indikator kelas :
a. Menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang
b. Tempa pengumuman barang temuan atau barang hilang
c. Transparansi laporan keuangan dan penilaian kelas secara berkala
d. Larangan menyontek
3. Toleransi
Toleransi merupakan sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
Indikator sekolah :
a. Menghargai dan memberikan perlakuan yang sama terhadap seluruh warga sekolah tanpa membedakan suku, agama, ras, status sosial, status ekonomi, dan kemampuan khas.
b. Memberikan perlakuan yang sama terhadap stakeholders tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, dan status ekonomi.
Indikator kelas :
a. Memberikan pelayanan yang sama terhadap seluruh warga kelas tanpa membedakan suku, agama, ras, status sosial, dan status ekonomi.
b. Memberikan pelayanan terhadap anak kebutuhan khusus
c. Bekerja dalam kelompok yang berbeda
4. Disiplin
Disiplin merupakan tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan
Indikator Sekolah :
a. Memiliki catatan kehadiran
b. Memberikan penghargaan kepada warga sekolah yang disiplin
c. Memiliki tata tertib sekolah
d. Membiasakan warga sekolah untuk berdisiplin
e. Menegakkan aturan dengan memberikan sanksi secara adil bagi pelanggar tata tertib sekolah
f. Menyediakan peralatan praktik sesuai program studi keahlian (SMK)
Indikator Kelas :
a. Membiasakan hadir tepat waktu
b. Membiasakan mematuhi aturan
c. Menggunakan pakaian praktik sesuai dengan program studi keahliannya (SMK)
d. Penyimpanan dan pengeluaran alat dan bahan sesuai dengan prosedur keahliannya (SMK)
5. Kerja Keras
Kerja keras merupakan perilaku yang menunjukkan perilaku sungguh-sungguh dalam mengatasi hambatan belajar, tugas dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
Indikator sekolah :
a. Menciptakan suasana kompetisi yang sehat
b. Menciptakan suasana sekolah yang menantang dan memacu untuk bekerja keras
c. Memiliki pajangan tentang slogan atau motto tentang kerja
Indikator Kelas :
a. Menciptakan suasana kompetisi yang sehat
b. Menciptakan kondisi etos kerja, patang menyerah, dan daya tahan belajar.
c. Menciptakan suasana belajar yang memacu daya tahan kerja
d. Memiliki panjangan tentang segala slogan atau motto tentang giat bekerja dan belajar.
6. Kreatif
Kreatif merupakan berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. Menciptakan situasi yang menumbuhkan daya berfikir dan bertindak kreatif.
Indikator kelas: Menciptakan situasi yang menumbuhkan daya berpikir dan bertindak kreatif.
Indikator Kelas :
a. Menciptakan situasi belajar yang bisa menumbuhkan daya pikir dan bertindak kreatif.
b. Pemberian tugas yang menantang munculnya karya-karya baru baik yang autentif maupun modifikasi
7. Mandiri
Mandiri merupakan sikap perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
Indikator sekolah : menciptakan situasi sekolah yang membangun kemandirian peserta didik
Indikator kelas : menciptakan suasana kelas yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja mandiri.
8. Demokratis
Demokratis merupakan cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
Indikator sekolah :
a. Melibatkan warga sekolah dalam setiap pengambilan keputusan
b. Menciptakan suasana sekolah yang menerima perbedaan
c. Pemilihan ketua OSIS yang terbuka
Indikator Kelas :
a. Mengambil keputusan kelas secara bersama melalui musyawarah dan mufakat.
b. Pemilihan kepengurusan kelas secara terbuka.
c. Seluruh produk kebijakan melalui musyawarah dan mufakat
d. Mengimplementasikan model-model pembelajaran yang dialogis dan interaktif.
9. Rasa Ingin Tahu
Rasa ingin tahu merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas mengenai sesuatu yang dipelajari, dilihat dan didengar.
Indikator sekolah :
a. Menyediakan komunikasi atau informasi (media cetak atau elektronik) untuk berekspresi bagi warga sekolah.
b. Memfasilitasi warga sekolah untuk bereksplorasi dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.
Indikator kelas :
a. Menciptakan suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu
b. Eksplorasi lingkungan secara terprogram
c. Tersedia media komunikasi atau informasi (media cetak maupun elektronik)
10. Semangat Kebangsaan
Semangat kebangsaan merupakan cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri atau kelompokknya.
Indikator Sekolah :
a. Melakukan upacara rutin sekolah
b. Melakukan upacara hari-hari besar nasional
c. Menyelenggarakan peringatan hari kepahlawanan nasional
d. Memiliki program melakukan kunjungan ke tampat bersejarah
e. Mengiktuti lomba pada hari besar nasional
Indikator kelas :
a. Bekerja sama dengan teman sekelas yang berbeda suku
b. Mendiskusikan hari-hari besar nasional
11. Cinta Tanah Air
Cinta tanah air merupakan cara berfikir, bersikap dan berbuat yang mewujudkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik bangsa.
Indikator sekolah:
a. Menggunakan produk buatan dalam negeri
b. Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar
c. Menyediakan informasi (dari sumber cetak, elektronik) tentang kekayaan alam dan budaya Indonesia.
Indikator kelas :
a. Memajang foto presiden dan wakil presiden, bendera negara, lambang negara, peta Indonesia, gambar kehidupan masyarakat Indonesia
b. Menggunakan produk dalam negeri
12. Menghargai Prestasi
Menghargai prestasi merupakan sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain
Indikator sekolah :
a. Memberikan penghargaan atas hasil prestasi kepada warga sekolah
b. Memajang tanda-tanda peghargaan prestasi
Indikator Kelas :
a. Memberikan penghargaan atas hasil karya peserta didik
b. Memajang tanda-tanda penghargaan prestasi
c. Menciptakan suasana pembelajaran untuk memotivasi peserta didik berprestasi
13. Besahabat/Komunikatif
Bersahabat/Komunikatif merupakan tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan berkerja sama dengan orang lain
Indikator sekolah :
a. Suasana sekolah yang memudahkan terjadinya interaksi antar warga sekolah
b. Berkomunikasi dengan bahasa yang santun
c. Saling menghargai dan menjaga kehormatan
d. Pergaulan dengan cinta kasih dan rela berkorban
Indikator kelas :
a. Pengaturan kelas yang memudahkan terjadinya interaksi peserta didik
b. Pembelajaran yang dialogis
c. Guru mendengarkan keluhan-keluhan peserta didik
d. Dalam berkomunikasi guru tidak menjaga jarak dengan peserta didik
14. Cinta Damai
Cinta Damai merupakan sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
Indikator sekolah :
a. Menciptakan suasana sekolah dan bekerja dengan nyaman, tentram, dan harmonis
b. Membiasakan perilaku warga sekolah yang anti kekerasan
c. Membiasakan perilaku warga sekolah yang tidak bias gender
d. Perilaku seluruh warga sekolah yang penuh kasih sayang
Indikator Kelas :
a. Menciptakan suasana kelas yang damai
b. Membiasakan perilaku warga sekolah yang anti kekerasan
c. Pembelajaran yang tidak bias gender
d. Keakraban di kelas yang penuh kasih sayang
15. Gemar Membaca
Gemar membaca merupakan kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebijakan bagi dirinya.
Indikator Sekolah:
a. Program wajib baca
b. Frekuensi kunjungan perpustakaan
c. Menyediakan fasilitas dan suasana menyenangkan untuk membaca
Indikator Kelas:
a. Daftar buku atau tulisan yang dibaca peserta didik
b. Frekuensi kunjungan perpustakaan
c. Saling tukar bacaan
d. Pembelajaran yang memotivasi anak menggunakan referensi
16. Peduli Lingkungan
Peduli Lingkungan merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi
Indikator Sekolah :
a. Pembiasaan memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah
b. Tersedia tempat pembuangan sampah dan tempat cuci tangan
c. Menyediakan kamar mandi dan air bersih
d. Pembiasaan hemat energi
e. Membuat biopori di area sekolah
f. Melakukan pembiasaan memisahkan sampah organik dan anorganik
g. Penugasan pembuatan kompos dari sampah organik
h. Penanganan limbah hasil praktik
i. Menyediakan peralatan kebersihan
j. Membuat tandon penyimpanan air
k. Memprogramkan cinta lingkungan bersih
Indikator Kelas :
a. Memelihara lingkungan kelas
b. Tersedia tempat pembuangan sampah di dalam kelas
c. Pembiasaan hemat energi
d. Memasang stiker perintah mematikan lampu dan menutup kran air pada setiap ruangan apabila selesai digunakan(SMK)
17. Peduli Sosial
Peduli sosial merupakan sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan
Indikator Sekolah :
a. Menfasilitasi kegiatan bersifat sosial
b. Melakukan aksi sosial
c. Menyediakan fasilitas untuk menyumbang
Indikator Kelas :
a. Berempati kepada sesam taman kelas
b. Melakukan aksi sosial
c. Membangun kerukuan kelas
18. Tanggung Jawab
Tanggung jawab merupakan sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dilakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME
Indikator Sekolah :
a. Membuat laporan setiap kegiatan yang dilakukan dalam bentuk lisan maupun tertulis
b. Melakukan tugas tanpa disuruh
c. Menunjukkan prakarsa untuk mengatasi masalah dalan lingkup terdekat
d. Menghindari kecurangan dalam pelaksanaan tugas
Indikator Kelas :
a. Pelaksanaan tugas piket secara teratur
b. Peran serta aktif dalam kegiatan sekolah
c. Mengajukan usul pemecahan masalah
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian (riset) berarti “pencarian teori, pengujian teori, atau pemecahan masalah”.
Penelitian penting bagi seorang peneliti dalam pemecahan permasalahan atau menjawab pertanyaan tentang fenomena yang ada. Untuk menemukan metode alternatif aktualisasi pendidikan karakter bangsa secara optimal dengan unsur-unsur yang harus ditemukan sesuai dengan butir-butir fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, maka digunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif.
Metode penelitian deskriptif tepat digunakan dalam ilmu-ilmu tingkah laku termasuk karakter, karena berbagai bentuk tingkah laku termasuk karakter yang menjadi pusat perhatian peneliti tidak dapat disengaja “diukur” dalam latar (setting) realitas.
Consuelo G Sevilla, dkk sebagaimana diterjemahkan oleh Alimuddin Tuwu bahwa pengertian metode penelitian deskriptif yaitu :
Kegiatan yang meliputi pengumpulan data dalam rangka menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan yang menyangkut keadaan pada waktu yang sedang berjalan dari pokok suatu penelitian yang menentukan dan melaporkan keadaan sekarang.
Penelitian kualitatif pada hakikatnya ialah “mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya”. Penelitian kualitatif juga merupakan “penelitian yang menghasilkan prosedur analisa yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantitatif lainnya”.
Sedangkan menurut pengertian lain, penelitian kualitatif adalah :
Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat post positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisa data bersifat induktif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Adapun pola jenis penelitiannya menggunakan studi khusus. Seperti yang dikemukakan Arikunto bahwa penelitian studi kasus adalah “penelitian yang dilakukan secara intensif, terperinci, dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu”.
Consuelo G Sevilla, menyebutkan bahwa :
Metode penelitian deskriptif kualitatif akan melibatkan kita dalam penyelidikan yang lebih mendalam dan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap tingkah laku seorang individu yang berubah ketika menyesuaikan diri dan memberikan reaksi terhadap lingkungannya.
Jadi deskriptif kualitatif adalah penelitian yang datanya berupa kata-kata (bukan angka-angka yang bersal dari wawancara, catatan laporan, dokumen dan lain-lain) atau penelitian yang di dalamnya mengutamakan pendeskripsian secara analisa suatu peristiwa atau proses sebagaimana adanya dalam lingkungan yang alami untuk memperoleh makna yang mendalam dari hakikat tersebut.
Penggunaan penelitian jenis ini, bukan karena jenis penelitian baru atau lebih trend tetapi memang permasalahan lebih tepat dicarikan datanya dengan penelitian kualitatif.
Dengan penelitian kualitatif, maka akan diperoleh data yang lebih tuntas, pasti, lebih lengkap, lebih mendalam dan bermakna sehingga memiliki kredibilitas yang tinggi.
Dengan penelitian kuantitatif hanya bisa diteliti beberapa variabel saja, sehingga seluruh permasalahan yang menjadi fokus penelitian tidak terjawab. Selain itu tidak ditemukan data yang berupa proses aktualisasi, perkembangan suatu kegiatan, deskripsi yang luas dan mendalam, karakter, norma dan keyakinan, sikap, mental, etos kerja, dan budaya yang dianut seseorang maupun sekelompok orang dalam lingkungannya. Dengan demikian penelitian kuantitatif hanya dapat digali fakta-fakta yang bersifat empirik dan teratur.
B. Subyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02, Jln. Raya Pantai Wisata Pantai Ngliyep No. 05 Donomulyo, Malang.
Yang menjadi subyek penelitian dalam penelitian ini adalah populasi yang meliputi semua komponen yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran baik guru, peserta didik maupun seluruh warga sekolah.
Penentuan subyek penelitian ini didasarkan bebrap pertimbangan, yaitu:
1. Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 mempunyai kualitas yang bagus.
2. Seluruh tenaga kependidikan memiliki kompetensi profesionalitas yang baik (minimal lulusan Strata 1)
3. Warga sekolah memiliki tingkat kedisiplinan, religiusitas dan kecintaan terhadap tanah air yang cukup tinggi.
4. Guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik agar peserta didik tidak hanya memiliki kecerdasan secara kognitif saja akan tetapi cerdas secara emosional maupun spiritual. Maksudnya bahwa sasaran pembelajaran adalah seluruh ranah, baik kognitif, afektif maupun psikomotorik.
5. Adanya hubungan yang harmonis antara sekolah dan masyarakat sehingga sekolah ini memiliki peserta didik yang banyak.
6. Sekolah ini menggunakan media pembelajaran yang multidimensional dengan fasilitas-fasilitas yang memadai. Seperti adanya komputer, masjid, lapangan oleh raga dan lain-lain.
C. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini instrumen penelitian yang utama adalah peneliti sendiri, namun setelah fokus penelitian menjadi jelas mungkin dapat dikembangkan instrumen penelitian sederhana yang diharapkan dapat digunakan untuk menjaring data pada sumber data yang lebih luas dan mempertajam serta melengkapi hasil pengamatan atau observasi.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini disesuaikan dengan fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, kondisi objek penelitian, dan variabelnya.
Dalam penelitian kualitatif, sampel sumber data dipilih dan mengutamakan perspektif emic artinya mementingkan pandangan informan yakni bagaimana mereka memandang dan menafsirkan pada pendiriannya. Peneliti tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk mendapatkan data yang diinginkan.
Sesuai dengan fokus penelitian dan rumusan masalah, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Observasi Partisipan (Participant Observation)
Dalam penelitian ini peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data/subyek penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa saja yang dilakukan sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.
Partisipan adalah proses dimana peneliti atau pengamat melihat situasi penilaian yang sesuai digunakan dalam penelitian, meliputi pengamatan kondisi, interaksi belajar mengajar, tingkah laku, dan interaksi kelompok.
Sugiono mengutip pernyataan dari Susan Stainbach bahwa :
Observasi pertisipan adalah peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpartisipasi dalam aktivitas mereka.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik observasi partisipan untuk memperoleh data tentang:
a. Aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang
b. Faktor-faktor yang mendukung aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang
c. Faktor-faktor yang menghambat aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang dan solusinya
d. Aplikasi pendidikan karakter bangsa dalam pembelajaran yaitu aktualisasi pendidikan karakter bangsa melalui implementasi keterpaduan pembelajaran (terintegrasi dalam semua mata pelajaran)
e. Perilaku staf (guru), dan peserta didik di sekolah
2. Wawancara Mendalam (Indepth Interview)
Teknik wawancara adalah “proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab secara langsung antara pewawancara dengan penjawab (informan)”. Menurut Mulyana, wawancara adalah “bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seseorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan”.
Sedangkan wawancara mendalam adalah “tanya jawab kepada informan secara alamiah, tak berstruktur dan mendalam”.
Secara garis besar wawancara dibagi menjadi tiga, yaitu “wawancara terstruktur, semi terstruktur, dan tidak terstruktur”. Dalam hal ini, peneliti menggunakan penelitian tidak terstruktur dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang lebih dalam tentang informan.
Teknik ini peneliti gunakan untuk mencari data tentang:
a. Aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang
b. Tujuan dari aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang
c. Faktor-faktor yang mendukung aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang
d. Faktor-faktor yang menghambat aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang dan solusinya
e. Aplikasi pendidikan karakter bangsa dalam pembelajaran
f. Perilaku warga sekolah terutama guru dan peserta didik di sekolah
Adapun yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Kepala Sekolah : Drs. A. Bambang Sukamto
b. Wakil Kepala Sekolah : Slamet, S.Pd.
c. Guru : a) Hj. Siti Aminah, S.Pd.I
b) Sukarni, S.Pd
c) Sumini, S.Pd
d. Peserta didik : a) Dani Setiawan
b) Eva Kurniasari
c) Efendi Atok Illah
3. Dokumentasi
Dokumentasi menurut Arikunto adalah “pencarian data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya”.
Menurut Sugiyono dokumen adalah “catatan peristiwa yang sudah berlalu berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental”.
Sedangkan Margono menyatakan bahwa :
Teknik dokumentasi adalah teknik pengumpulan data melalui peninggalan tertulis seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapatan, teori, dalil, atau hukum-hukum, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian.
Teknik ini peneliti gunakan untuk memperoleh data tentang :
a. Sejarah dan latar belakang berdirinya sekolah
b. Dokumentasi struktur organisasi
c. Keadaan guru, peserta didik dan karyawan
d. Visi dan misi sekolah
e. Letak geografis sekolah
f. Perangkat mengajar khususnya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan nilai-nilai karakter yang harus diterapkan dalam pembelajaran.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif (teknik non statistik).
Analisa data kualitatif adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga mudah dapat dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.
Menurut Moleong analisa deskriptif adalah “memasukkan konteks dari tindakan, intensitas dari peneliti dan proses di mana tindakan itu terjadi”.
Teknik non statistik yaitu “pengolahan data yang tidak menggunakan analisis statistik melainkan dengan analisis kualitatif”.
Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas, datanya sampai jenuh. Data berwujud kalimat yang dinyatakan dalam bentuk narasi bersifat deskriptif mengenai situasi kegiatan, pernyataan dan perilaku yang telah dikumpulkan dalam catatan lapangan, transkrip wawancara. Teknik analisis data dalam penelitian ini mengikuti konsep Miles dan Huberman yang meliputi :
1. Reduksi Data (Data reduction)
Reduksi data merupakan :
Proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyerdehanaan, pengabsahan dan tranformasi data mentah atau data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, menfokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema dan polanya.
2. Penyajian data (Data Display)
Penyajian data merupakan :
Proses penyusunan informasi yang kompleks dalam bentuk sistematis sehingga menjadi sederhana selektif serta dapat dipahami maknanya untuk menentukan pola-pola yang bermakna serta memberikan kemungkinan adanya penarikan simpulan yang paling sering digunakan adalah teks yang bersifat naratif data lebih terorganisasikan sehingga akan mudah dipahami.
3. Penarikan Kesimpulan (Conclusing Drawing)
Penarikan kesimpulan merupakan :
Langkah akhir setelah melalui proses analisis data, baik selama pengumpulan data maupun sebelummnya. Dimaksudkan agar makna yang mucul dari data harus diuji kebenaran, kekuatan, dan kecocokan yang merupakan validitas data.
F. Teknik Pengujian Keabsahan Data
Pemeriksaan terhadap keabsahan pada dasarnya untuk :
Membuktikan keilmiahan data, juga sebagai unsur yang tidak dapat dipisahkan dari tubuh pengetahuan penelitian kualitatif. Apabila peneliti melaksanakan pemeriksaan terhadap keabsahan data secara cermat sesuai dengan teknik yang diuraikan sehingga hasil penelitian benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Uji keabsahan data hasil penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan cara :
1. Perpanjangan pengamatan
Perpanjangan pengamatan adalah “peneliti tinggal di lapangan sampai kejenuhan pengumpulan data”.
Penelitian dengan perpanjangan pengamatan, dengan tujuan peneliti dapat berorientasi dengan situasi serta memastikan konteks itu dapat dipahami dan dan dihayati. Dalam hal ini peneliti terjun ke lokasi dan dalam waktu yang cukup panjang guna mendeteksi dan memperhitungkan distori yang mengotori data.
2. Ketekunan Pengamatan
Meningkatkan ketekunan berarti “melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan, sehingga peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang hal yang diamati”.
Ketekunan pengamatan berarti “mencari secara konsisten interpretasi dengan berbagai cara dalam kaitannya dengan proses analisis yang konstan atau tentatif”.
Ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan pemisahan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci (menyediakan kedalaman). Peneliti mengadakan pengamatan dengan teliti terhadap faktor-faktor yang menonjol kemudian menelaahnya secara rinci sampai pada suatu titik sehingga pada salah satu atau seluruh faktor yang telah dipahami dengan cara biasa.
3. Triangulasi
Triangulasi adalah “teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding data tersebut”.
Sedangkan Sugiyono menyatakan bahwa :
Triangulasi dalam pengujian keabsahan data diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu.
a. Triangulasi Sumber/Data
Triangulasi data untuk mengecek keabsahan, dilakukan dengan cara “mengecek data yang telah diperoleh melalui berbagai sumber”.
Teknik triangulasi sumber, dicapai dengan jalan :
1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2) Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi
3) Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.
4) Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan, orang berada, orang-orang pemerintah.
5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
b. Triangulasi Teknik
Teriangulasi teknik dapat diartikan sebagai :
Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi.
c. Triangulasi Waktu
Teriangulasi waktu dapat diartikan :
Dalam rangka pengujian kredibilitas data dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atasu situasi yang berbeda.
4. Analisis Kasus Negatif
Kasus negatif adalah “kasus yang tidak sesuai atau berbeda dengan hasil penelitian pada saat tertentu”.
Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah dapat dipercaya. Tetapi bila peneliti masih mendapatkan data-data yang bertentangan dengan data yang ditemukan, maka peneliti mungkin akan merubahnya.
5. Menggunakan Bahan Referensi
Yang dimaksud dengan bahan referensi adalah “adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti”.
6. Member Chek
Member Chek adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.
7. Pemeriksaan Sejawat
Pemeriksaan sejawat menurut Moleong :
Pemeriksaan yang dilakukan dengan jalan mengumpulkan rekan-rekan sebaya yang memiliki pengetahuan umum yang sama tentang apa yang sedang diteliti, sehingga bersama mereka peneliti dapat mereveiw persepsi, pandangan dan analisis yang dilakukan.
Teknik ini mengandung maksud sebagai salah satu teknik pemeriksaan keabsahan data, yaitu membuat agar peneliti tetap mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran dan memberikan kesempatan awal yang baik untuk menjajaki dan menguji hipotesis kerja yang muncul dari pemikiran peneliti.
BAB IV
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Paparan Data
1. Aktualisasi Pendidikan Karakter Bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang
Aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang dilakukan melalui dua jalan yaitu sebagai berikut :
a. Penanaman Nilai-Nilai Karakter Bangsa
Kepala Sekolah menjelaskan mengenai maksud dari penanaman nilai-nilai yaitu :
Penanaman nilai-nilai maksudnya itu guru menanamkan nilai-nilai karakter pada diri siswa dan mengembangkannya sehingga nilai-nilai itu dapat tumbuh dan berkembang, serta membekas pada diri mereka yang selanjutnya akan membentuk sebuah karakter yang mulia.
Penanaman nilai-nilai karakter di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang dilakukan melalui dua pendekatan yaitu :
1) Pendekatan Keteladanan
Kunci utama pendidikan karakter bangsa adalah keteladanan, hal ini seperti yang diungkapkan oleh Wakil Kepala Sekolah, yaitu :
Kunci utama pendidikan karakter bangsa adalah keteladanan. Sehebat-hebatnya teori yang menopangnya, tanpa adanya keteladanan dari pemangku kepentingan, maka pendidikan karakter bangsa hanya akan menemui kegagalan. Teladan pertama dan utama pendidikan karakter bangsa adalah guru. Guru sebagai pendidik dituntut tidak hanya menyampaikan teori bagaimana menjadi pribadi berkarakter tetapi lebih dari itu mereka harus memberikan contoh bagaimana menerapkan pendidikan karakter bangsa dalam perilaku keseharian. Untuk itu seorang guru harus profesional. Berkaitan dengan profesionalisme, setidaknya guru harus menguasai empat kompetensi yaitu kompetensi profesional, pedagogik, sosial dan kepribadian. Kepribadiannya harus unggul.
Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) juga memiliki pendapat yang sama mengenai hal ini, yaitu:
Dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa pendekatannya adalah keteladanan. Guru harus memberikan keteladanan melalui pembelajaran. Keteladanan ini sekarang kita kait-kaitkan dengan adanya tunjagan profesi, paling tidak guru harus menguasai 4 hal: 1. menguasai kompetensi profesional, 2. memiliki kompetensi pedagogik (kompetensi mengajar yang bagus), 3. kompetisi sosial (guru harus bersosialisasi dengan masyarakat, siswa, dan sekolah), 4. kompetisi kepribadian yaitu kepribadiannya harus unggul seperti pantang menyerah. Ada satu ikon di dalam karakter bangsa itu adalah pantang menyerah. Guru harus pantang menyerah di sekolah, kalau tidak ada alat, guru harus membuat alat. Dia harus inovatif, kreatif. Dia harus memberikan keteladanan bahwa tidak alat bisa mengajar dengan cara membuat alat sederhana.
Aktualisasi pendidikan karakter bangsa berupa penanaman nilai-nilai karakter, nilai-nilai yang ditanamkan merupakan nilai religius, dan kedisiplinan seperti sholat dhuhur berjamaah, datang dan pulang tepat waktu, tepat waktu dalam memasuki kelas, mengikuti kegiatan keagamaan yang ada, dimana seluruh guru menjadi pelopor akan hal tersebut. Keterlibatan para guru dalam berbagai kegiatan tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi peserta didik dalam bertingkah laku, hal inilah yang dimaksud dengan pendekatan keteladanan / uswatun khasanah.
2) Pendekatan Pembiasaan
Nilai-nilai yang sudah ada pada diri peserta didik dikembangkan dan dibiasakan untuk diaplikasikan dalam tingkah laku keseharian. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh wali kelas V :
Nilai-nilai yang sudah ada pada anak-anak ditumbuhkembangkan menjadi sebuah karakter yang mulia. Anak-anak dibiasakan untuk melakukan kebajikan dalam tingkah laku kesehariannya. Dengan demikian, anak akan terbiasa melakukannya dan membekas sebagai sebuah karakter. Misalnya: membiasakan hidup bersih, buang sampah ditempatnya, dan lain-lain.
Ada beberapa nilai karakter bangsa yang diaktualisasikan dan ditanamkan pada diri peserta didik di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02, antara lain :
1) Religius
a) Peringatan hari besar agama Islam, biasanya diadakan lomba-lomba (tingkat sekolah) dan mengikuti lomba tingkat kecamatan seperti lomba ceramah/pidato, adzan, kaligrafi, tilawatil Qur’an, lomba busana muslim, dan puisi islamic. Selain itu juga diadakan pawai akbar dan pangajian.
b) Tersedianya fasilitas peribadatan (mushola/masjid)
c) Melaksanakan shalat dhuhur berjamaah
d) Siswa datang mengucap salam dan mencium tangan guru
e) Guru datang mengucap salam dan berjabat tangan dengan guru lain
f) Seluruh guru perempuan yang beragama Islam dianjurkan memakai jilbab
g) Adanya majelis ta’lim kepala sekolah setiap 1 bulan sekali, bagi guru setiap 2 bulan sekali.
2) Disiplin
a) Datang dan pulang tepat waktu
(1) Guru : masuk jam 07.15 WIB pulang 13.00 WIB.
(2) Siswa : masuk jam 07.15 WIB pulang 11.50 WIB.
b) Ijin apabila ada kepentingan (berlaku bagi seluruh warga sekolah)
c) Tidak meninggalkan kelas ketika KBM berlangsung
d) Berbaris sebelum masuk kelas
e) Guru tidak merokok di sekolah terutama di dalam kelas
f) Adanya tata tertib dan sanksi bagi yang melanggar.
3) Jujur
Siswa dilarang menyontek ketika ujian berlangsung
4) Semangat kebangsaan dan Cinta Tanah Air
a) Sebelum pelajaran dimulai siswa menyanyikan lagu-lagu nasional atau lagu-lagu daerah dan membanca teks Pancasila
b) Diadakan upacara bendera tiap hari Senin dan hari-hari besar Nasional
c) Memanjang foto Presiden dan Wakil Presiden, lambang negara, peta Indonesia, dan foto-foto pahlawan
5) Demokratis
Dalam pemilihan kepengurusan sekolah dan kelas dilaksanakan secara terbuka melalui musyawarah
6) Rasa Ingin Tahu dan Gemar Membaca
Sekolah menfasilitasi warga sekolah untuk bereksplorasi dalam pendidikan , IPTEK, dan budaya yaitu dengan penyediaan perpustakaan
7) Penghargaan Prestasi
a) Memajang piala-piala penghargaan
b) Memberikan penghargaan bagi guru yang berprestasi
c) Bagi siswa yang berprestasi diberi piagam penghargaan, alat-alat tulis dan beasiswa prestasi
8) Kepedulian lingkungan
a) Pembagian tugas piket kebersihan
b) Ada kamar mandi dan tempat pembuangan sampah
c) Di dalam kelas ada tempat sampah, tempat cuci tangan, dan alat-alat kebersihan.
9) Kepedulian Sosial
a) Program amal Jum’at, disumbangkan bagi siswa tidak mampu, yatim/yatim piatu. Siswa tidak mampi juga diberi tas, sepatu, alat-alat tulis.
b) Bakti sosial membersihkan tempat-tempat ibadah (mushola) dan lingkungan sekitar sekolah.
10) Tanggung Jawab dan Mandiri
a) Ada ekstrakulikuler Pramuka untuk melatih kemadirian dan tanggung jawab.
b) Guru wajib membuat desain pembelajaran terutama RPP berkarakter.
b. Implementasi Keterpaduan Pembelajaran
Mengenai hal ini wali kelas I mengungkapkan bahwa :
Implementasi keterpaduan pembelajaran maksudnya itu nilai-nilai luhur bangsa diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran, tidak terkecuali materi yang ada didalamnya. Jadi tidak hanya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) saja yang memuat nilai-nilai karakter bangsa, akan tetapi mata pelajaran secara keseluruhan. Ini diaplikasikan dalam pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berkarakter.
Implementasi keterpaduan pembelajaran dilaklukan karena aktualisasi pendidikan karakter bangsa adalah kewajiban seluruh tenaga kependidikan. Hal tersebut seperti yang dijelaskan Kepala Sekolah :
Aktualisasi pendidikan karakter bangsa merupakan kewajiban seluruh pengajar di sekolah ini, dimana nilai-nilai luhur karakter bangsa senantiasa ditanamkan pada peserta didik baik di dalam maupun di luar kelas, itu tidak hanya tugas guru PAI dan PKn saja tetapi tugas guru secara keseluruhan.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh pernyataan Wakil Kepala Sekolah, beliau menyatakan bahwa :
Pendidikan karakter bangsa merupakan kewajiban seluruh pemangku pendidikan. Oleh karena itu pendidikan karakter tidak berdiri sendiri sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi disisipkan dalam tiap materi pelajaran. Kalau satu keinginan, konsep dijadikan mata pelajaran, tetapi tidak mungkin.
Di dalam pengintegrasian nilai-nilai ke seluruh mata pelajaran (implementasi keterpaduan pembelajaran), pemerintah mewajibkan seluruh guru pengampu mata pelajaran untuk membuat RPP berkarakter. Seperti yang diungkapkan Wali Kelas V :
Sebagai wujud aktualisasi pendidikan karakter bangsa melalui implementasi keterpaduan pembelajaran, pemerintah mewajibkan guru-guru untuk membuat RPP berkarakter. Nilai-nilai karakter haruslah terintegrasikan ke seluruh mata pelajaran dan diaplikasikan dalam kegiatan belajar mengajar.
Prinsip pendidikan karakter bangsa adalah berkelanjutan dan membutuhkan peran serta semua pihak. Sebagaimana dipaparkan Wali Kelas I :
Prinsip pendidikan karakter adalah berkelanjutan / tidak putus. Contohnya: Jepang/Korea. Pendidikan karakter bangsa cuma satu, disiplin, semua aspek disiplin melalui semua mata pelajaran. Harus individu-individu dan satuan pendidikan. Nilai tidak diajarkan tetapi dikembangkan melalui proses belajar, melalui keteladanan. Budaya bersih, religius. Jangan menyuruh anak shalat sementara ia tidak shalat. Nilai tidak diajarkan karena kalau diajarkan itu konsep atau teori saja. Tetapi dikembangkan melalui proses belajar mengajar. Proses pendidikan dilaksanakan siswa secara aktif dan menyenangkan. Pendidikan Karakter Bangsa bukan hanya di sekolah, di masyarakat, dan di rumah. Jadi pendidikan karakter bangsa tidak hanya di sekolah tetapi juga membutuhkan peran serta yang lain.
Di dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa, perlu adanya evaluasi dari waktu ke waktu mengenai keberhasilan pendidikan karakter bangsa terhadap nilai-nilai karakter peserta didik. Ini sesuai pernyataan Wakil Kepala sekolah :
Guru harus bisa mengevaluasi keberhasilan pendidikan karakter terhadap diri siswa dari waktu ke waktu. Contoh evaluasinya, anak diajarkan sopan santun kemudian dievaluasi dengan pendekatan non tes seperti pengamatan untuk peningkatan perbaikan. Di sekolah ada prestasi dan non prestasi. Dalam Ujian Nasional menjadi salah satu faktor kelulusan. Ada cara penilaiannya, instrumennya sekolah dan guru punya yang disebut instrumen non tes melalui pengamatan, peer group.
2. Tujuan Aktualisasi Pendidikan Karakter Bangsa Di Sekolah Dasar Kedungsalam 02 Donomulyo Malang.
Aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Kedungsalam 02 Donomulyo Malang memiliki tujuan sebagai berikut :
a. Untuk mewujudkan bangsa yang berkarakter yaitu bangsa yang tangguh, kompetitif, dan berakhlak mulia. Sebagaimana yang diungkapkan Kepala Sekolah :
Pemerintah mencanangkan pendidikan karakter bangsa agar tercipta bangsa yang berkarakter yaitu bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan sebagainya.
b. Untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi pribadi yang berkualitas, berperilaku baik dan bermartabat serta untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter bangsa. Hal ini sesuai pernyataan Wakil Kepala Sekolah :
Pendidikan karakter bangsa itu ditujukan untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi pribadi yang berkualitas, berperilaku baik dan bermartabat. Yang tidak kalah penting, pendidikan karakter ini ditujukan untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter luhur bangsa kita.
c. Agar terbentuk generasi muda yang tangguh, berkompeten dan berdaya saing tinggi, serta kepribadian unggul. Selain itu pendidikan karakter juga bertujuan menanamkan jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan mandiri pada diri peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. Seperti yang diungkapkan wali kelas I :
Dengan adanya kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yaitu dengan diadakannya pendidikan karakter bangsa, diharapkan terbentuk generasi muda yang tangguh, berkompeten, berdaya saing tinggi, dan berkepribadian unggul. Selain itu juga untuk menanamkan jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan mandiri pada diri siswa sebagai generasi penerus bangsa.
d. Untuk mengembangkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki kecakapan hidup (life skill), tingkat intelektual, emosional dan spiritual yang tinggi, serta berwawasan kebangsaan yang tinggi, jujur, penuh kreatifitas. Seperti yang dikemukakan wali kelas V :
Hakikatnya pendidikan karakter bangsa itu ada untuk mengembangkan kemampuan anak didik menjadi manusia yang memiliki kecakapan hidup (life skill), tingkat intelektual, emosional dan spiritual yang tinggi, berwawasan kebangsaan yang tinggi, jujur, serta penuh kreatifitas.
e. Untuk mengembangkan potensi kalbu peserta didik sebagai manusia-manusia yang berkarakter, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji serta sejalan dengan tradisi budaya bangsa yang religius. Seperti dikemukakan oleh Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)
Munculnya pendidikan karakter itu bertujuan untuk mengembangkan potensi kalbu peserta didik sebagai manusia-manusia yang berkarakter dan juga mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan tradisi budaya bangsa yang religius.
3. Faktor-Faktor Pendukung Aktualisasi Pendidikan Karakter Bangsa Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang.
Faktor-faktor pendukung pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang adalah sebagai berikut:
a. Input yang Bagus
Dalam penerimaan peserta didik baru di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang cukup selektif. Persyaratannya harus cukup umur (minimal berumur 6 tahun). Sebagaimana dikemukakan Kepala Sekolah :
Disini cukup selektif dalam penerimaan siswa baru. Harus cukup umur, minimal usia 6 tahun. Ini dimaksudkan, pembentukan karakter anak kedepannya lebih mudah karena sudah ada pondasi dari pendidikan sebelumnya.
b. Guru yang Berkompeten
Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 guru-guru harus berkompeten. Seluruh tenaga pengajarnya lulusan sarjana (minimal Strata-1). Di dalam pembelajaran, guru dianjurkan bisa berperan sebagai motivator dan agen pembudayaan. Sebagaimana dipaparkan oleh Wali Kelas V :
Dalam pembelajaran, guru dianjurkan bisa berperan sebagai motivator. Memberi motivasi kepada siswa agar jangan sampai ada siswa yang tereabaikan. Biasanya guru memperhatikan hanya beberapa hal, yang paling pintar dan yang paling bodoh. Guru tidak boleh menjadikan siswa menjadi obyek. Guru harus menjadikan siswa sebagai subyek. Kalau obyek, apa kata guru, siswa harus menurut. Padahal pendidikan tidak seperti ini. Proses pembelajarannya harus memperhatikan konsep CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), CTL (Contextual Teaching Learning), PAKEM. Guru harus menjadi agen pembudayaan, contohnya: budaya bersih, disiplin.
c. Kerjasama yang Harmonis Antar Komponen Pendidikan
Pembangunan pendidikan karakter bangsa adalah seluruh komponen pendidikan baik orang tua, masyarakat, pemerintah maupun sekolah. Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang, sekolah bekerjasama dengan orangtua dan masyarakat dengan membentuk komite sekolah untuk mempermudah pengaktualisasian pendidikan karakter bangsa di sekolah ini. Seperti yang dipaparkan oleh Wakil Kepala Sekolah :
Yang membangun potret pendidikan karakter bangsa ada seluruh komponen pendidikan baik rumah (keluarga), sekolah, masyarakat, maupun pemerintah. Diantara kompenen-komponen tersebut harus punya hubungan yang baik dan saling mendukung. Dan konsentrasi penuh pembangunan karakter pada sekolah. Untuk itu disini dibentuk sebuah komite sekolah yang melibatkan partisipasi orang tua dan masyarakat.
d. Sarana dan Prasarana yang Memadai
Sarana dan prasarana yang memadai dapat mendukung aktualisasi pendidikan karakter bangsa. Hal ini sesuai pernyataan Kepala Sekolah :
Sarana Prasarana disini cukup memadai seperti adanya perpustakaan, lapangan olah raga, UKS (Unit Kesehatan Sekolah), mushola, kantin, dan fasilitas-fasilitas lainnya dapat dimanfaatkan oleh siswa dan hal itu mempermudah pelaksanaan pendidikan karakter bangsa.
e. Program yang Terarah
Ada beberapa program intensif yang dilakukan sekolah guna meningkatkan kepribadian dan prestasi peserta didik yaitu ekstrakurikuler Pramuka setiap hari Sabtu sepulang sekolah dan bimbingan belajar oleh guru bidang studi sepulang sekolah. Hal ini sesuai pemaparan Wali Kelas I :
Di sekolah ini juga ada program ekstrakurikuler pramuka yang dilaksanakan setiap hari Sabtu sepulang sekolah. Ekstra ini mengajarkan pada siswa akan kepemimpinan, kemandirian, dan tanggung jawab serta rasa kebangsaan yang tinggi. Ekstra ini diwajibkan bagi seluruh siswa, baik siaga maupun penggalang.
Selain ekstrakulikuler Pramuka juga diadakan bimbingan belajar yang dilakukan oleh guru bidang studi sepulang sekolah, seperti dipaparkan oleh wali kelas V :
Disini ada kegiatan bimbingan belajar, apalagi kalau mau ujian ada Try Out juga. Biasanya setiap sepulang sekolah. Setiap guru punya bagian-bagian sendiri. Seperti saya setiap Rabu sepulang sekolah memberi les Bahasa Indonesia.
f. Tata Tertib yang Mendukung
Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 terdapat tata tertib baik tertulis maupun tidak tertulis. Terhadap pelanggaran yang terjadi, tata tertib ini memiliki ketegasan yang sama. Seperti diungkapkan Kepala Sekolah bahwa :
Tata tertib sangat ditegakkan di sini dan diperlakukan bagi seluruh warga sekolah. Seperti datang dan pulang tepat waktu serta Shalat Dhuhur berjamaah. Apabila ada yang melanggar pasti mendapat teguran bahkan menulis di buku merah (buku pelanggaran).
g. Lingkungan Sekolah yang Kondusif
Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 secara continue melakukan pembenahan terhadap lingkungan sekolah agar tercipta lingkungan yang positif dan kondusif sebab akan memberikan pengaruh yang cukup besar dalam pembangunan karakter. Sebagaimana dijelaskan oleh Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) bahwa :
Sekolah secara berkelanjutan melakukan perbaikan dan pembenahan terhadap lingkungan. Sekolah berusaha menciptakan lingkungan yang positif bagi pembangunan karakter siswa. Dengan ini anak-anak akan termotivasi untuk melakukan hal-hal yang positif pula karena lingkungannya yang kondusif.
h. Kesadaran Akan Nilai-nilai yang Cukup Tinggi
Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02, kesadaran akan nilai-nilai cukup tinggi. Ini terlihat dari perilaku mereka yang begitu tertib dan teratur bahkan terkesan sangat religius. Contohnya : datang dan pulang tepat waktu, semangat ketika shalat berjama’ah, datang / pulang saling berjabat tangan dan mengucap salam, dan lain-lain.
i. Visi dan Misi yang Jelas
Sebuah tujuan akan mudah tercapai apabila memiliki visi dan misi yang jelas. Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 memiliki visi dan misi yang jelas sesuai dengan pendidikan karakter bangsa, yaitu :
Visi :
Unggul dalam pembelajaran dan bersaing dalam prestasi belajar berdasarkan akhlak mulia
Misi :
1) Mengembangkan intelektual, emosional dan spiritual untuk membentuk pribadi yang berkualitas
2) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan sarana pendidikan,
3) Mengembangkan kecakapan hidup (life skill).
4. Faktor-Faktor Penghambat Aktualisasi Pendidikan Karakter Bangsa Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Dan Solusinya
a. Faktor Penghambat
1) Kesadaran Guru
Setiap guru memiliki tanggung jawab yang sama dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa, akan tetapi masih ditemui adanya beberapa guru yang acuh tak acuh terdapat hal tersebut. Misalnya : kurang disiplin contohnya: datang terlambat, meninggalkan kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, Hal ini berdasarkan paparan Kepala Sekolah :
Guru yang ada bagus, tetapi ada juga yang tidak bagus. Guru harus memiliki keteladanan kepada siswanya. Misalnya, datang tepat waktu, tidak merokok di kelas. Terkadang memang kesabaran dalam penanaman nilai-nilai luhur ini harus diuji, contohnya dengan adanya beberapa guru yang kurang memiliki kesadaran berdisiplin, padahal kedisiplinan mereka menjadi contoh bagi siswa.
2) Kesadaran Peserta Didik
Mengenai kesadaran peserta didik, Wali Kelas V mengatakan bahwa :
Masih saja ditemui siswa yang tidak masuk sekolah tanpa ijin, terlambat masuk kelas, dan lain-lain. Ini bukti masih kurangnya kesadaran mereka akan nilai-nilai terutama kedisiplinan.
3) Perbedaan Karakter Peserta Didik
Mengenai perbedaan karakter peserta didik ini, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) mengatakan bahwa :
Setiap anak memiliki bawaan sendiri-sendiri, bahkan akhlak mereka pun berbeda-beda. Ada yang sulit diatur, ada yang mudah. Ini bisa menjadi penghambat bagi terlaksananya pendidikan karakter bangsa.
4) Kemajuan Teknologi Informasi yang Multidimensional
Menurut Ibu Sumini Wali Kelas I, mengenai hal ini beliau mengatakan bahwa :
Kemajuan teknologi terutama teknologi informasi yang begitu pesat akan menjadi kendala tersendiri bagi aktualisasi pendidikan karakter bangsa. Bukan hal yang aneh lagi jika kita temukan anak SD bawa HP dan main Internet. Mereka begitu fasih. Anak-anak seumur mereka masih sangat labil dan mudah terpengaruh. Misalnya, ketika anak diberikan contoh kebaikan, mereka lupakan begitu saja ketika asik nonton TV atau main internet.
b. Solusi
1) Pengawasan Terhadap Guru
Dalam pendidikan karakter bangsa ada pengawasan terhadap guru. Sebagimana yang dipaparkan oleh Kepala Sekolah :
Dalam pendidikan karakter ada pengawasan terhadap guru yang disebut dengan evaluasi kinerja guru dan dilaksanakan oleh pemerintah, namanya PKG (Penilaian Kinerja Guru). Kalau gurunya bagus diberi reward. Kalau tidak bagus bukan di punishment, tetapi ditingkatkan kompetensinya melalui PKB (Peningkatan Kompetensi Berkelanjutan) seperti training, penelitian-penelitian, peningkatan kualifikasi. Reward dipilih guru-guru yang berprestasi, diberi hadiah seperti laptop.
2) Evaluasi Nilai Karakter Peserta Didik
Dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa, perlu adanya evaluasi dari waktu ke waktu. Keberhasilan pendidikan karakter bangsa terhadap nilai karakter peserta didik. Ini sesuai pernyataan Wakil Kepala Sekolah yaitu:
Guru harus bisa mengevaluasi keberhasilan pendidikan karakter terhadap diri siswa dari waktu ke waktu. Contoh evaluasinya, anak diajarkan sopan santun kemudian dievaluasi dengan pendekatan non tes seperti pengamatan untuk peningkatan perbaikan. Di sekolah ada prestasi dan non prestasi. Dalam Ujian Nasional menjadi salah satu faktor kelulusan. Ada cara penilaiannya, instrumennya sekolah dan guru punya, disebut non tes melalui pengamatan, peer group.
3) Adanya Teguran dan Sanksi
Mengenai hal ini Kepala Sekolah mengungkapkan :
Saya akan menegur siapapun yang melanggar aturan, apalagi sampai melenceng dari nilai-nilai kebijakan saya pasti akan memberi sanksi. Isi saya lakukan agar mereka sadar akan nilai-nilai dan benar-benar bisa menjadi manusia yang berkarakter yang berakhlak mulia.
4) Pembenahan Lingkungan
Wali kelas V mengatakan bahwa :
Sekolah terus menerus melakukan pembenahanmulai dari fasilitas-fasilitas, sarana prasarana, sampai lingkungan. Hal ini dimaksudkan agar tercipta lingkungan yang positif sehingga pendidikan karakter akan mudah terlaksana.
5) Pemimpin / Guru Tampil Sebagai Uswatun Khasanah
Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) mengenai hal ini berpendapat bahwa :
Agar pendidikan karakter bangsa berjalan lancar maka pemimpin harus bisa menjadi panutan bagi bawahannya. Terutama guru, dia harus benar-benar bisa menjadi teladan yang baik murid-muridnya.
6) Pembinaan Mental
Melalui pembelajaran peserta didik diberi nasehat-nasehat, misalnya efek dari pekembangan arus informasi seperti layanan internet. Bagi peserta didik yang bermasalah dibina oleh BP (Bimbingan Penyuluhan) atau BK (Bimbingan Konseling). Sesuai pernyataan wali kelas V : “Melalui bidang studi siswa diberi nasehat-nasehat dan bagi anak-anak yang bermasalah ditangani BP/BK”.
B. Temuan Penelitian
Temuan penelitian merupakan sebuah temuan yang dapat digunakan sebagai bahan acuan atau rujukan untuk bisa diterapkan dilembaga lain. Berdasarkan data yang telah dipaparkan sebelumnya, maka di dalam penelitian ini ditemukan beberapa hal yaitu :
1. Aktualisasi di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang dilakukan melalui dua jalan yaitu penanaman nilai-nilai karakter bangsa dan implementasi keterpaduan pembelajaran. Penanaman nilai-nilai karakter dilakukan melalui pendekatan keteladanan dan pembiasaan.
2. Tujuan aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang yaitu untuk mewujudkan bangsa yang berkarakter, mengembangkan potensi kalbu peserta didik, menyaring budaya bangsa sendiri / bangsa asing, membentuk generasi muda yang tangguh, berkompeten, dan berdaya saing tinggi, berkepribadian unggul, dan sebagainya.
3. Faktor-faktor pendukung aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang yaitu input yang bagus, guru yang berkompeten, kerjasama yang harmonis antar komponen pendidikan, sarana dan prasarana yang memadai, program yang terarah, tata tertib yang mendukung, lingkungan sekolah yang kondusif, kesadaran akan nilai-nilai yang cukup tinggi, visi dan misi yang jelas.
4. Faktor-faktor penghambat aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang yaitu kurangnya kesadaran guru terhadap tanggung jawabnya dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa, kurangnya kesadaran peserta didik terhadap nilai-nilai karakter bangsa terutama nilai kedisiplinan, perbedaan karakter peserta didik, dan kemajuan teknologi informasi yang multidimensional. Sedangkan solusinya yaitu pengawasan terhadap guru, evaluasi nilai karakter peserta didik, adanya teguran dan sanksi, pembenahan lingkungan, pemimpin, guru tampil sebagai uswatun khasanah, dan pembinaan mental.
BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Aktualisasi Pendidikan Karakter Bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang
Pembinaan karakter malalui pendidikan tampaknya merupakan solusi preventif dalam upaya membentengi generasi muda dari degradasi moral yang berkelanjutan dan meningkatkan kualitas manusia ke arah yang lebih baik agar selain cerdas juga berakhlak dan berbudi luhur. Watak yang tidak bermoral perlu dicegah kehadirannya dalam pergaulan kehidupan manusia, watak tidak berbudi yang sering tampak dalam masyarakat harus segera diakhiri, dan untuk jangka panjang perlu pembinaan generasi muda berbudi luhur yaitu harus dimulai sejak dini atau sejak masa kecil baik di lingkungan keluarga maupun disekolah. Oleh karena itu di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang pun diaktualisasikan pendidikan karakter bangsa. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa “pendidikan budi pekerti di sekolah dimulai dari sekolah dasar, sesungguhpun pada dasarnya sudah terjadi di lingkungan keluarga.
Proses dan hasil dari upaya pendidikan dampaknya akan terlihat melalui proses yang agak lamban, tetapi melalui upaya tersebut setidaknya generasi muda akan lebih memiliki daya tahan dan tangkal terhadap setiap permasalahan dan tantangan. Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang proses pendidikan ini berupa aktualisasi pendidikan karakter bangsa yang di lakukan secara berkelanjutan.
Aktualisasi pendidikan karakter bangsa di sekolah tidak hanya harus berkelanjutan seperti yang dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang akan tetapi juga harus bertahap, terprogram, dan berkesinambungan. Sebagaimana menurut Hasan bahwa :
Pembinaan karakter generasi muda dapat ditempuh dengan berbagai upaya termasuk melalui pendidikan yang dilakukan secara terprogram, bertahap, dan berkesinambungan.
Aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 melalui dua jalan yaitu sebagai berikut:
1. Penanaman Nilai-Nilai Karakter Bangsa.
Penanaman nilai-nilai karakter bangsa maksudnya adalah penanaman nilai-nilai karakter luhur bangsa oleh guru pada diri peserta didik dan mengembangkannya sehingga nilai-nilai tersebut akan tumbuh dan berkembang bahkan membekas pada diri peserta didik sebagai sebuah karakter yang mulia. Nilai-nilai ini akan menjadi acuan bagi seluruh diri dan perilaku keseharian baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Hal ini bersesuaian dengan teori yang menyatakan bahwa :
Karakter berintikan nilai-nilai yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Nilai-nilai merupakan standar perbuatan dan sikap yang menentukan siapa kita, bagaimana kita hidup dan memperlakukan orang lain.
Penanaman nilai-nilai karakter bangsa di Sekolah dasar Negeri Kedungsalam 02 melalui dua pendekatan:
a. Pendekatan Keteladanan
Pendekatan keteladanan adalah seluruh tenaga kependidikan harus tampil sebagai teladan yang baik / uswatun hasanah. Teori yang baik tanpa diimbangi oleh keteladanan dari para pemangku pendidikan, maka pendidikan karakter bangsa akan mengalami kegagalan. Sebab, kunci utama pendidikan karakter bangsa adalah keteladanan.
Melihat hal tersebut, pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan bukan hanya ditentukan untuk aplikasi teori-teori pendidikan semata, akan tetapi ada suatu hal yang penting yaitu faktor keteladanan. Ini menyanggah teori pendidikan yang dikemukakan oleh Amori bahwa “setiap pengembangan pendidikan harus dilandasi dengan teori-teori pendidikan”.
Ardana menambahkan bahwa :
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan diperlukan aplikasi dari berbagai teori pendidikan. Apabila melihat sejarah, reformasi pendidikan hampir selalu berakhir dengan keadaan lebih buruk.
Teladan pertama dan utama pendidikan karakter bangsa adalah guru. Guru tidak hanya dituntut menyampaikan teori bagaimana menjadi pribadi yang berkarakter, akan tetapi mereka juga harus memberi contoh bagaimana menerapkan pendidikan karakter bangsa dalam perilaku keseharian. Oleh karena itu seorang guru harus profesional.
Berkaitan dengan profesionalisme guru, guru harus menguasai empat kompetensi, yaitu :
1) Kompetensi Profesional (Minimaml lulusan Strata -1)
2) Kompetensi Paedagogik (Kompetensi mengajar yang bagus)
3) Kompetensi Sosial (Guru harus bisa bersosialisasi dengan masyarakat, peserta didik, dan sekolah)
4) Kompetensi Kepribadian yaitu kepribadiannya harus unggul, seperti pantang menyerah, inovatif, dan kreatif. Misalnya : apabila tidak ada alat, guru harus membuat alat. Guru harus memberi keteladanan bahwa meskipun tidak ada alat tetapi tetap bisa mengajar yaitu dengan membuat alat sederhana.
Sejalan dengan realita yang ditemukan peneliti diatas terdapat konsep yang menyatakan bahwa :
Sebagai suatu profesi, terdapat sejumlah kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru, meliputi :
1) Kompetensi Pribadi
Guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal. Karena itu, pribadi guru sering dianggap sebagai model atau panutan (yang harus di gugu dan di tiru). Sebagai seorang model, guru harus mempunyai kompetensi yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian (Personal Competencies).
2) Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional adalah kompetensi atau kemampuan yang berhubungan dengan penyelesaian tugas keguruan.
3) Kompetensi Sosial
Kompetensi ini berhubungan dengan kemampuan guru sebagai anggota masyarakat dan sebagai makhluk sosial.
Di dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang, para guru berusaha ikut terlibat (berpartisipasi) dalam berbagai kegiatan yang ada. Hal ini dapat menjadi motivasi tersendiri bagi peserta didik dalam bertingkah laku. Inilah yang dimaksud dengan pendekatan keteladanan / uswatun khasanah.
b. Pendekatan Pembiasaan
Pendekatan pembiasaan merupakan pendekatan yang dilakukan oleh guru untuk membiasakan nilai-nilai kebijakan pada peserta didik dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, nilai-nilai karakter mulai yang sudah ada pada diri peserta didik ditumbuh kembangkan dengan cara: peserta didik dibiasakan untuk melakukan kebijakan dalam tingkah laku kesehariannya. Dengan demikian, peserta didik akan terbiasa melakukannya dan membekas sebagai sebuah karakter. Contohnya: pembiasaan disiplin waktu, hidup bersih, buang sampah di tempat sampah, dan lain-lain.
Terdapat berbagai nilai karakter bangsa yang diaktualisasikan dan ditanamkan pada diri peserta didik di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang, antara lain : religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Religius merupakan sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun terhadap agama lain. Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang tercermin perilaku religius yang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari beberapa aktivitas mereka antara lain: peringatan hari besar agama Islam, biasanya diisi dengan lomba-lomba baik tingkat sekolah maupun tingkat kecamatan seperti lomba ceramah/pidato, adzan, tilawatil Qur’an, kaligrafi, puisi Islamic, dan lomba busana muslim. Selain itu diadakan juga pawai akbar sekecamatan dan pengajian. Hal ini dapat ditemuai adalah tersedianya fasilitas peribadatan (masjid/mushola) untuk pelaksanaan shalat dhuhur berjamaah atau shalat Jum’at, peserta didik datang mengucap salam dan mencium tangan guru serta berjabat tangan dengan peserta didik lain, guru datang mengucap salam dan saling berjabat tangan antara guru yang satu dengan yang lainnya, seluruh guru perempuan yang beragama Islam dianjurkan memakai jilbab, berdo’a sebelum dan sesudah pelajaran. Yang tidak kalah pentingnya sebagai peningkatan religiusitas para pendidik maka diadakan majelis ta’lim. Bagi guru diadakan dua bulan sekali, sedangkan bagi kepala dilaksanakan sebulan sekali.
Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, misalnya, tercermin dari perilaku larangan menyontek ketika ujian berlangsung, larangan membawa fasilitas komunikasi saat ulangan/ujian, tranparansi laporan keuangan dan penilaian kelas secara berkala, menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang, dan lain-lain.
Toleransi merupakan sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, etnis, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang, sekolah memberikan perlakuan dan palayanan yang sama terhadap seluruh warganya tanpa membedakan suku, agama, ras, status sosial, status ekonomi, dan kemanpuan khas. Selain itu sekolah juga memberikan terhadap anak yang berkebutuhan khusus dengan pendekatan individual dan didalam pembelajaran peserta didik dilatih untuk bekerja dalam kelompok yang berbeda.
Disiplin merupakan tindakan yang menunjukkan pelaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Penerapan nilai-nilai disiplin di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang terlihat dari datang dan pulang tepat waktu (guru masuk jam 07.15 WIB dan pulang 13.00 WIB, peserta didik masuk jam 07.15 WIB dan pulang 11.50 WIB), memiliki catatan kehadiran, memiliki tata tertib sekolah, membiasakan warga sekolah untuk berdisiplin, menegakkan aturan dengan memberikan sanksi secara adil bagi pelanggar tata tertib sekolah, ijin apabila ada kepentingan (berlaku bagi seluruh warga sekolah), tidak meninggalkan kelas ketika kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung, berbaris ketika masuk kelas, guru tidak merokok di sekolah terutama di dalam kelas.
Kerja keras merupakan perilaku yang menunjukkan perilaku sungguh-sungguh dalam mengatasi hambatan belajar, tugas, dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya. Ini terlihat dari adanya pajangan tentang slogan/motto tentang giat bekerja dan belajar. Selain itu Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang berusaha menciptakan suasana sekolah/belajar yang memacu etos kerja, pantang menyerah, dan daya tahan belajar.
Kreatif merupakan berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. Penanaman nilai ini diwujudkan dengan menciptakan situasi belajar yang bisa menumbuhkan daya pikir dan bertindak kreatif, pemberian tugas yang menantang munculnya karya-karya baru (misalnya tugas membuat kaligrafi, puisi Islamic, dan lain-lain).
Demokratis merupakan cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang penanaman nilai demokratis tercermin dari dilibatkannya warga sekolah dalam setiap pengambilan keputusan, menciptakan suasana sekolah yang menerima perbedaan, pengambilan keputusan/pemilihan kepengurusan kelas secara bersama dan terbuka melalui musyawarah dan mufakat, seluruh kebijakan melalui musyawarah, mengimplementasikan model-model pembelajaran dialogis dan interaktif.
Rasa ingin tahu merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas tentang sesuatu yang dipelajari, dilihat dan didengar. Terlihat dari tersedianya media komunikasi / informasi (media cetak / elektronik), menciptakan suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu. Selain itu sekolah memfasilitasi warganya untuk bereksplorasi dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya.
Semangat kebangsaan merupakan cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya. Hal ini dapat diketahui dari diadakannya upacara bendera tiap hari Senin dan hari-hari besar nasional, menyelenggarakan peringatan hari kepahlawanan, mengikuti lomba pada hari besar nasional seperti lomba gerak jalan, karnaval pada hari kemerdekaan (peringatan 17 Agustus-an), kunjungan ke tempat bersejarah (kegiatan tapak tilas jejak gerilyawan, kunjungan ke museum misalnya museum Brawijaya Malang). Dalam pembelajaran aktualisasi nilai semangat kebangsaan ini diwujudkan melalui bekerjasama dengan teman sekelas yang berbeda latar belakang, mendiskusikan hari-hari besar nasional.
Cinta tanah air merupakan cara berfikir, bersikap dan berbuat yang mewujudkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. Wujud dari pengaktualisasian nilai karakter ini yaitu penggunaan produk dalam negeri, berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, memajang foto presiden dan wakil presiden, bendera negara, lambang negara, peta Indonesia, foto-foto pahlawan, selain itu di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang sebelum pelajaran dimulai peserta didik menyanyikan lagu-lagu nasional atau lagu-lagu daerah dan membaca teks Pancasila.
Menghargai prestasi merupakan sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilakn sesuatu yang berguna bagi masyarakat, mengakui, dan menghormati keberhasilan orang lain. Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang aktualisasi nilai karakter ini yaitu memajang piala-piala penghargaan, memberikan penghargaan bagi guru yang berprestasi, bagi peserta didik yang berprestasi diberi piagam penghargaan, alat-alat tulis dan beasiswa prestasi, menciptakan suasana pembelajaran yang memacu prestasi peserta didik.
Bersahabat atau komunikatif merupakan tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerjasama dengan orang lain. Perwujudan dari aktualisasi nilai karakter ini yaitu berkomunikasi dengan bahasa yang santun, saling menghargai dan menghormati, suasana sekolah mempermudah interaksi antar warganya, pergaulan dengan cinta kasih dan rela berkorban, pengaturan kelas yang memudahkan interaksi, pembelajaran yang dialogis, guru tidak menjaga jarak dengan peserta didik dan mau mendengarkan keluhan-keluhan mereka.
Cinta damai merupakan sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. Indikator dari aktualisasi nilai karakter ini di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang adalah menciptakan suasana sekolah yang nyaman, tentram dan harmonis, membiasakan perilaku warga sekolah yang anti kekerasan, pembelajaran yang tidak bias gender dan keakraban di kelas yang penuh kasih sayang.
Gemar membaca merupakan kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebijakan bagi dirinya. Aktualisasinya meliputi frekuensi kunjungan perpustakaan, Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang menyediakan fasilitas berupa perpustakaan dan menciptakan suasana menyenangkan untuk membaca. Di dalam pembelajaran, diciptakan pembelajaran yang memotivasi anak menggunakan referensi.
Peduli lingkungan merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang berupa pembagian tugas piket kebersihan, ada kamar mandi dan tempat pembuangan sampah, tempat cusi tangan, alat-alat kebersihan. Selain itu membuat biopori di area sekolah bahkan ada penugasan pembuatan kompos dari sampah organik.
Peduli sosial merupakan sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang diwujudkan dengan kegiatan berupa program amal Jum’at, disumbangkan bagi peserta didik yang tidak mampu, yatim/yatim piatu. Mereka diberi tas, sepatu, dan alat-alat tulis. Selain itu juga dilakukan bakti sosial untuk membersihkan tempat-tempat ibadah (masjid / mushola) dan lingkungan sekitar sekolah.
Tanggung jawab merupakan sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dilakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini ditunjukkan dengan pembuatan laporan kegiatan, melakukan tugas tanpa disuruh, berperan serta secara aktif dalam kegiatan sekolah, pelaksanaan tugas piket secara teratur, menghindari kecurangan dalan pelaksanaan tugas. Bagi guru, wajib membuat desain pembelajaran terutama Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berkarakter. Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang juga diadakan ekstrakulikuler PRAMUKA untuk melatih tanggung jawab.
Mandiri merupakan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang berusaha menciptakan situasi sekolah yang membangun kemandirian peserta didik. Selain itu juga menciptakan suasana kelas yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja mandiri.
Nilai-nilai karakter tersebut diatas, atas partisipasi seluruh pihak berusaha diaktualisasikan di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang.
Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang, aktualisasi dan penanaman nilai-nilai karakter bangsa tidak hanya berlaku bagi peserta didik semata akan tetapi seluruh warga sekolah meskipun sasaran utama dari aktualisasi nilai-nilai karakter bangsa ini adalah peserta didik. Nilai-nilai ini ditetapkan oleh pemerintah dan dirujuk oleh sekolah.
Yang dilakukan oleh Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang ini menyanggah teori yang memiliki pandangan bahwa pendidikan karakter hanya terpaku pada pengembangan perilaku peserta didik semata sebab realita yang ada sasaran pendidikan karakter bangsa atau seluruh warga civitas akademika yang terdapat pada setiap suatu pendidikan. Semua warga sekolah yang meliputi para peserta didik, guru, karyawan, administrasi, dan pimpinan sekolah. Teori tersebut yaitu :
Pendidikan karakter dalam setting sekolah sebagai pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk untuk sekolah.
2. Implementasi Keterpaduan Pembelajaran
Implementasi keterpaduan pembelajaran merupakan nilai-nilai luhur bangsa diintregrasikan ke seluruh mata palajaran dan materi yang ada di dalamnya. Jadi tidak hanya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) saja yang memuat nilai-nilai karakter, akan tetapi mata pelajaran secara keseluruhan.
Aktualisasi pendidikan karakter bangsa merupakan kewajiban dan tanggung jawab bersama (seluruh tenaga kependidikan), dimana semua guru harus mampu menjadi suri tauladan yang dapat dicontoh oleh peserta didik, baik di dalam maupun di luar kelas. Oleh karena itu, pendidikan karakter bangsa tidak berdiri sendiri sebagai suatu mata pelajaran akan tetapi diintregrasikan ke sluruh mata pelajaran.
Nilai-nilai karakter bangsa harus teraktualisasikan ke dalam seluruh perilaku peserta didik dan terintegrasaikan dalam pembelajaran. Untuk memudahkan integrasi nilai-nilai karakter bangsa dalam pembelajaran maka guru diwajibkan membuat desain pembelajaran terutama Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berkarakter. (terlampir).
Selain pembuatan desain pembelajaran, guru juga harus berperan secara optimal dalam proses pembelajaran baik sebagai mediator, fasilitator, demonstrator, motivator, maupun evaluator. Jadi, guru memiliki peran yang sangat penting dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya bahwa :
Guru dalam proses pembelajaran mempunyai peran yang sangat penting. Bagaimanapun hebatnya kemajuan teknologi yang konon bisa memudahkan manusia mencari dan mendapatkan informasi dan pengetahuan, tidak mungkin mengganti peran guru. Lalu apa peran guru dalam kondisi demikian?. Guru sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, motivator, dan evaluator.
Prinsip pendidikan karakter bangsa adalah berkelanjutan. Penanaman nilai-nilai karakter bangsa dilakukan dengan keteladanan dan pembiasaan, serta diintregrasikan ke seluruh mata pelajaran. Nilai tidak diajarkan tetapi dikembangkan terutama melalui proses belajar mengajar. Proses ini dilaksanakan peserta didik secara aktif dan menyenangkan. Hal ini membutuhkan peran serta semua pihak secara keseluruhan.
Di dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa, guru harus mengevaluasi keberhasilan pendidikan karakter bangsa terhadap nilai-nilai karakter peserta didik dari waktu ke waktu. Contohnya: anak diajarkan sopan santun kemudian dievaluasi dengan pendekatan non tes seperti pengamatan, peer group untuk peningkatan perbaikan.
B. Tujuan Aktualisasi Pendidikan Karakter Bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang
Aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Kedungsalam 02 Donomulyo Malang memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mewujudkan bangsa yang berkarakter yaitu bangsa yang tangguh, kompetitif, dan berakhlak mulia.
2. Untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi pribadi yang berkualitas, berperilaku baik dan bermartabat serta untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter bangsa.
3. Agar terbentuk generasi muda yang tangguh, berkompeten dan berdaya saing tinggi, serta berkepribadian unggul.
4. Untuk menamamkan jiwa kepemimpinan, tanggung jawab dan mandiri pada diri peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.
5. Untuk mengembangkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki kecakapan hidup (life skill), tingkat intelektual, emosional dan spiritual yang tinggi, serta berwawasan kebangsaan yang tinggi, jujur, penuh kreatifitas.
6. Untuk mengembangkan potensi kalbu peserta didik sebagai manusia-manusia yang berkarakter, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji serta sejalan dengan tradisi budaya bangsa yang religius.
Tujuan tersebut di atas tidak tertulis secara resmi di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang akan tetapi terakumulasi dalam visi dan misi yang ditetapkan untuk sekolah ini dan tertulis secara rinci dan jelas. Tujuan-tujuan dari aktualisasi pendidikan karakter bangsa yang dikemukakan untuk para informan kepada peneliti di atas mencerminkan tujuan pendidikan nasional. Rumusan tujuan pendidikan nasional harus menjadi dasar pengembangan pendidikan karakter bangsa sehingga pengembangan pendidikan karakter bangsa sangat strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa kini dan masa mendatang. Dengan demikian visi, misi, dan tujuan yang ditetapkan dalam aktifitas pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang sesuai dengan rumusan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Pasal 3 yang menyatakan bahwa :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepata Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
C. Faktor-Faktor Pendukung Aktualisasi Pendidikan Karakter Bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang.
Faktor-faktor pendukung pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang adalah sebagai berikut :
1. Input yang Bagus
Dalam penerimaan siswa baru di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang cukup selektif. Persyaratannya harus cukup umur (minimal berumur 6 tahun). Ini dimaksudkan agar pembentukan karakter peserta didik kedepannya lebih mudah terlaksanakan sebab telah memiliki dasar-dasar pengetahuan akan nilai-nilai sebelumnya dari jenjang pendidikan yang sudah ditempuh.
2. Guru yang Berkompeten
Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang guru-guru harus berkompeten. Minimal seorang guru harus menguasai empat kompetensi: a. Kompetensi profesional, b. Kompetensi pedagogik, c. Kompetensi sosial, d. Kompetensi kepribadian. Selain itu didalam pembelajaran guru-guru dianjurkan bisa berperan sebagai motivator dan agen pembudayaan. Guru sebagai motivator yaitu memberi motivasi kepada peserta didik agar tidak ada peserta didik yang terabaikan. Yang paling banyak ditemui adalah guru hanya memperhatikan beberapa hal saja yaitu peserta didik yang paling pintar dan peserta didik yang paling bodoh. Peserta didik tidak menjadi obyek (apa kata guru harus menurut), tetapi menjadi subyek pendidikan. Di dalam pembelajaran guru memperhatikan konsep CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), CTL (Contextual Teaching Learning), dan PAKEM. Guru juga harus menjadi agen pembudayaan melalui media apapun, seperti budaya bersih, disiplin religius. Selain itu, guru harus melakukan penguatan terus menerus terhadap aktualisasi nilai-nilai karakter bangsa tersebut.
Yang diterapkan untuk sekolah bagi guru dalam pembelajaran diatas sebagai salah satu faktor pendukung dari aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang tersebut sesuai dengan teori tentang basis desain pendidikan karakter bangsa yang disebut dengan desain pendidikan berbasis kelas. Teori tersebut menyatakan bahwa :
Desain berbasis kelas berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar di dalam kelas dalam konteks pembelajaran. Relasi guru pembelajar bukan monolog., melainkan dialog dengan banyak arah sebab komunitas kelas terdiri dari guru dan siswa yang sama-sama berinteraksi dengan materi. Memberikan pemahaman dan pengertian akan keutamaan yang benar-benar terjadi dalam konteks pengajaran, termasuk di dalamnya adalah ranah noninstruksional (manajemen kelas, konsesus kelas, dan lain-lain yang membantu terciptanya suasana belajar yang nyaman).
3. Kerjasama yang Harmonis Antar Komponen Pendidikan
Aktualisasi pendidikan karakter bangsa dimaksudkan untuk mewujudkan bangsa yang berkarakter yaitu bangsa yang tangguh, kompetitif, dan berakhlak mulia. Untuk itu, diantara komponen-komponen pendidikan sebagai pembangun pendidikan karakter bangsa harus memiliki hubungan yang harmonis dan saling mendukung (bekerja sama). Komponen-komponen yang membangun potret pendidikan karakter bangsa adalah keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah. Dan konsentrasi sepenuhnya di sekolah.
Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang, kerjasama ini diwujudkan dengan dibentuknya sebuah komite sekolah yang melibatkan tenaga kependidikan, masyarakat, orang tua, dan perangkat desa.
Kerjasama yang dilakukan untuk Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang tersebut, di dalam teori pendidikan karakter bangsa disebut dengan desain pendidikan karakter berbasis komunitas. Lebih lanjut di jelaskan bahwa :
Dalam mendidik, komunitas sekolah tidak berjuang sendirian. Masyarakat di luar lembaga pendidikan seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka. Ketika lembaga negara lemah dalam penegakan hukum, ketika mereka yang bersalah tidak pernah mendapatkan sanksi yang setimpal, negara telah mendidik masyarakat untuk menjadi manusia yang tidak menghargai tatanan sosial bersama.
Yang dilakukan oleh Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang adalah wujud kerjasama secara formal saja dan ini sesuai dengan teori tersebut diatas. Akan tetapi fakta menunjukkan bahwa saat ini antara komponen bangsa kurang optimal dalam berkolaborasi dalam menanamkan kesadaran nilai-nilai karakter bangsa. Antar komponen masih memiliki kecenderungan untuk bekerja sendiri-sendiri, bahkan saling berkompetisi guna memenangkan kepentingan masing-masing sehingga terjadi ketidakharmonisan / ketidaksesuaian visi dan misi yang dimiliki untuk menanamkan kesadaran nilai-nilai karakter bangsa kepada generasi muda. Nilai karakter yang dianjurkan di lembaga pendidikan sering dinegosiasikan dengan nilai-nilai yang dipertontonkan di media massa, demikian pula nilai-nilai yang diajarkan di lembaga agama sering tidak dijumpai dalam kehidupan keseharian di lingkungan, masyarakat maupun media massa.
4. Sarana dan Prasarana yang Memadai
Sarana dan prasarana yang memadai memiliki peran yang cukup besar dalam keberrhasilan aktualisasi pendidikan karakter bangsa. Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang, sarana dan prasarana yang dimiliki cukup memadai. Seperti adanya perpustakaan, masjid, Unit Kesehatan Sekolah (UKS), kantin, lapangan olah raga, Badan Penyuluhan (BP) Bimbingan Konseling (BK), pintu gerbang.
Selain itu ada beberapa sarana dan prasarana lainnya yang mendukung aktualisasi pendidikan karakter bangsa, antara lain :
a. Sekolah mempunyai lingkungan aman, bersih, sehat, rindang, kebun dan taman bunga yang indah, jauh dari polusi dan kebisingan.
b. Mushola/masjid sebagai tempat pemeluk agama Islam untuk melaksanakan kewajiban shalat seperti shalat dhuhur dan shalat Jum’at
c. Ruangan besar yang dapat digunakan untuk ceramah keagamaan, peringatan hari-hari besar keagamaan atau kegiatan lainnya.
d. Tempat wudhu, kamar mandi dan WC yang terjaga kebersihannya dan menjadi tanggung jawab bagi semua untuk menjaganya
e. Hiasan dinding yang dipasang ditempat-tempat strategis, dan perpustakaan yang nyaman serta menyediakan buku-buku yang ada kaitannya dengan aktualisasi pendidikan karakter bangsa, selain buku lainnya yang berguna bagi proses belajar mengajar.
Sarana prasarana yang memadai ini dapat dimanfaatkan oleh peserta didik dan hal itu mempermudah aktualisasi pendidikan karakter bangsa.
Dari realita yang terjadi di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang dapat diketahui bahwa keberadaan sarana dan prasarana sangat mutlak dibutuhkan dalam pelaksanaan pendidikan, sebab hal tersebut dapat menunjang jalannya proses pengajaran. Ini sesuai pernyataan Mujamil Qomar dalam buku Manajemen Pendidikan Islam bahwa :
Keberadaan sarana pendidikan mutlak dibutuhkan dalam proses pendidikan, sehingga termasuk dalam komponen-komponen yang harus dipenuhi dalam melaksanakan proses pendidikan. Tanpa sarana pendidikan proses pendidikan akan mengalami kesulitan yang sangat serius, bahkan bisa menggagalkan pendidikan. Suatu kejadian yang mesti dihindari untuk semua pihak yang terlibat dalam pendidikan.
Fakta membuktikan tidak hanya sarana dan prasarana yang memadai / megah yang dibutuhkan dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa, akan tetapi yang terpenting adalah pengoptimalisasian sarana dan prasarana pendidikan tersebut. Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang, sekolah senantiasa mengoptimalisasikan fungsi sarana dan prasarana yang ada dalam kegiatan pendidikan terutama aktualisasi pendidikan karakter bangsa.
Hal tersebut sesuai teori pendidikan yang diungkapkan oleh Madhi bahwa :
Pada dasarnya, yang terpenting bagi bangunan fisik bukanlah kemegahannya, tetapi optimalisasi fungsinya. Penampilan fisik sekolah yang mendukung upaya peningkatan mutu pendidikan tidak mengutamakan penampilan yang megah, tetapi lebih mengutamakan keberfungsian fisik tersebut.
5. Program yang Terarah
Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang terdapat beberapa program intensif yang dilakukan sekolah guna meningkatkan kepribadian dan prestasi peserta didik yaitu ekstrakurikuler Pramuka dan bimbingan belajar. Ekstrakulikuler Pramuka dilaksanakan setiap hari Sabtu sepulang sekolah. Ekstra ini mengajarkan pada peserta didik tentang kepemimpinan, kemandirian dan tanggung jawab serta rasa kebangsaan yang tinggi/cinta tanah air. Ekstra ini diwajibkan bagi seluruh peserta didik bai siaga maupun penggalang. Sedangkan bimbingan belajar dilaksanakan setiap hari sepulang sekolah dengan satu mata pelajaran. Setiap guru mempunyai bagian sendiri-sendiri. Misalnya: Senin bimbingan Matematika, Selasa bimbingan Bahasa Indonesia, dan seterusnya. Khusus kelas VI untuk menghadapi ujian nasional diadakan try out dan laithan soal-soal.
Selain program-program tersebut diatas, masih banyak lagi program kegiatan sekolah yang dilakukan bagi aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang antara lain menata lingkungan sekolah secara baik dan secara teratur seperti taman dan kebun sekolah, halaman tempat bermain, tempat istirahat, pepohonan serta bangunan fisik sekolah. Program harus dilakukan dan memberikan tanggung jawab kepada peserta didik secara kelompok dan diatur secara bergantian. Jadi semua kegiatan aktualisasi pendidikan karakter bangsa selain bimbingan belajar dan ekstrakulikuler yang dilakukan oleh guru mata pelajaran, kegiatan-kegiatan lain seperti kebersihan lingkungan sekolah diorganisir oleh peserta didik dengan bimbingan kepala sekolah, guru, dan staf lainnya. Dengan ini diharapkan mamapu menumbuhkan nilai tanggung jawab pada peserta didik.
Ada teori yang sejalan dengan palaksanaan program-program aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang ini yaitu:
Semua program kegiatan hendaknya peserta didik sebagai pusat dan pemeran utama. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan agar diorganisir oleh siswa dengan bimbingan kepala sekolah, guru agama, guru PPKN, dan guru mata pelajaran lainnya. Apabila siswa yang mengorganisir kegiatan, maka siswa akan mendapat pengalaman langsung, sehingga kegiatan tersebut melatih siswa untuk memahami, manghayati dan bertanggungjawab sepenuhnya terhadap apa yang dilakukan.
Jadi program yang terarah yang dimaksudkan oleh peneliti disini adalah program-program pengembangan kegiatan aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang direncanakan, dikoordinasi, dan dilaksanakan secara serentak oleh semua warga sekolah tanpa terkecuali.
6. Tata Tertib yang Mendukung
Semua ketentuan/peraturan dan program yang dihasilkan oleh sekolah harus mendukung pengaktualisasian nilai-nilai karakter bangsa dan tidak boleh ada aturan/kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai budi pekerti. Peraturan-peraturan yang ada di sekolah antara lain peraturan tata tertib sekolah yang memuat hak, kewajiban, sanksi, penghargaan, baik untuk peserta didik, kepala sekolah, guru, dan warga sekolah lainnya. Tata tertib ini harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab oleh semua warga sekolah tanpa terkecuali.
Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang terdapat tata tertib baik tertulis maupun tidak tertulis. Terhadap pelanggaran yang terjadi, tata tertib ini memiliki ketegasan yang sama dan berlaku bagi seluruh warga sekolah. Seperti datang dan pulang tepat waktu serta shalat dhuhur berjamaah. Apabila ada yang melanggar pasti dapat teguran bahkan harus menulis di buku pelanggaran dan mendapatkan sanksi. Sanksi bisa berupa sanksi akademis dan kalau sudah fatal biasanya dianjurkan untuk pindah ke sekolah yang lain.
Sebagaimana diketahui bahwa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang tata tertib/ peraturan yang berlaku memiliki ketegasan yang sama bagi seluruh warga sekolah sehingga tata tertib ini harus disepakati dan dilaksanakan bersama. Ini bersesuaian dengan sebuah teori yaitu:
Peraturan sebaiknya dibuat dan dibahas bersama-sama dengan melibatkan semua unsur warga sekolah, sehingga nilai-nilai norma dan aturan yang dibuat dan disepakati dan dilaksanakan bersama-sama dengan rasa penuh tanggung jawab.
Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang tata tertib benar-benar ditegakkan untuk meminimalisir tumbuhnya nilai-nilai keburukan pada diri peserta didik. Sebab apabila nilai tersebut telah merambah ranah moralitas maka akan berakibat fatal. Mereka akan menganggap bahwa peraturan itu ada untuk dilanggar. Hal ini dapat membuka peluang tumbuhnya benih-benih kejahatan pada diri seseorang sebagaimana realita itu bersesuaian dengan pernyataan antagonis Soedjatmoko bahwa: “Jika sudah timbul tata nilai moralitas yang menganggap bahwa melanggar peraturan merupakan suatu hal yang patut dibanggakan, maka kualitas kejahatan segera meningkat”.
7. Lingkungan Sekolah yang Kondusif
Lingkungan memberikan kontribusi atau sumbangan yang tidak sedikit bagi penciptaan suasana yang menunjang kehidupan berbudi luhur. Suatu lingkungan sosial betapapun kecilnya tetap memiliki nilai-nilai luhur untuk dijalankan dalam interaksi sosialnya. Oleh karena itu lingkungan harus menjadi perhatian setiap warganya.
Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang secara berkelanjutan melakukan pembenahan terhadap lingkungan sekolah agar tercipta lingkungan yang positif dan kondusif sebab akan memberikan pengaruh yang cukup besar dalam pembangunan karakter. Dengan ini peserta didik akan termotivasi untuk melakukan hal-hal yang positif.
8. Kesadaran Akan Nilai-nilai yang Cukup Tinggi
Aktualisasi pendidikan karakter bangsa tidak akan menemui titik keberhasilan tanpa adanya kesadaran dari individu-individu yang terlibat di dalamnya. Kesadaran merupakan kepekaan yang tumbuh dalam diri individu secara otomatis tanpa paksaan dan berlangsung secara alamiah tanpa dibuat-buat. Bila seseorang memiliki kesadaran yang tinggi akan nilai-nilai karakter bangsa maka ia akan senantiasa berkeinginan untuk melakukan nilai-nilai luhur karakter tersebut. Sebaliknya bila berupa paksaan maka aktualisasi karakter bangsa tersebut tidak akan berlangsung lama sebab tidak tumbuh dari keinginan diri pribadinya.
Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang, kesadaran akan nilai-nilai cukup tinggi. Ini terlihat dari perilaku mereka yang begitu tertib dan teratur bahkan terkesan sangat religius. Contohnya : datang dan pulang tepat waktu, semangat ketika shalat berjama’ah, datang / pulang saling berjabat tangan dan mengucap salam, dan lain-lain.
9. Visi dan Misi yang Jelas
Sebuah tujuan akan mudah tercapai apabila memiliki visi dan misi yang jelas. Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 memiliki visi dan misi yang jelas sesuai dengan pendidikan karakter bangsa, yaitu :
Visi : Unggul dalam pembelajaran dan bersaing dalam prestasi belajar berdasarkan akhlak mulia
Misi : 1. Mengembangkan intelektual, emosional dan spiritual untuk membentuk pribadi yang berkualitas
2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan sarana pendidikan,
3. Mengembangkan kecakapan hidup (life skill).
Hal tersebut sesuai teori yang dikemukakan oleh Koesoma bahwa:
Pendidikan karakter lebih terbentuk ketika guru bersama dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah berjuang untuk menghayati visi dan merealisasikan nilai-nilai pendidikan dalam hidup mereka secara bersama-sama .
D. Faktor-Faktor Penghambat Aktualisasi Pendidikan Karakter Bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Dan Solusinya
1. Faktor Penghambat
a. Kesadaran Guru
Setiap guru memiliki tanggung jawab yang sama dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa, akan tetapi masih ditemui adanya beberapa guru yang acuh tak acuh terhadap hal tersebut. Misalnya : kurang disiplin. Hal ini akan menjadi masalah serius apabila dibiarkan terus menerus terjadi sebab mereka adalah sosok panutan bagi murid-muridnya.
b. Kesadaran Peserta Didik
Masih saja ditemui adanya peserta didik yang tidak masuk sekolah tanpa ijin, terlambat masuk kelas, dan lain-lain. Ini bukti masih kurangnya kesadaran mereka akan nilai-nilai terutama nilai kedisiplinan.
c. Perbedaan Karakter Peserta Didik
Setiap anak memiliki bawaan sendiri-sendiri, bahkan akhlak dan karakter merekapun juga berbeda-beda. Ada yang sulit diatur/dididik adapula yang mudah. Ini dapat menjadi hambatan yang cukup serius apabila guru tidak memahami karakter masing-masing peserta didik.
d. Kemajuan Teknologi Informasi yang Multidimensional
Kemajuan teknologi yang multidimensial terutama di bidang informasi yang begitu pesat akan menjadi kendala tersendiri bagi aktualisasi pendidikan karakter bangsa. Bahkan hal yang tidak asing lagi apabila kita menemui anak-anak sekolah dasar yang sudah terampil menggunakan handphone dan layanan-layanan di dalamnya. Tidak terkecuali layanan internet, facebook, tweeter, dan lain sebagainya. Memang ada dampak positifnya akan tetapi lebih banyak negatifnya sebab anak-anak seumur mereka masih labil sehingga mudah terpengaruhi. Misalnya, ketika anak diberi contoh kebaikan mereka akan melupakannya begitu saja ketika mereka asik menonton televisi atau bermain situs-situs yang tersedia di handphone mereka.
Media massa, baik cetak maupun elektronik harus sadar bahwa yang ditampilkan selalu menjadi perhatian publik. Karena itu, berita yang ditampilkan harus melalui seleksi yang ketat ditinjau dari efek-efek negatif bagi publik. Tayangan televisi dalam bentuk sinetron, hiburan, dan acara lainnya yang tidak mendidik publik harus dihindari. Bila hal ini tidak diperhatikan maka akan berakibat buruk bagi aktualisasi pendidikan karakter bangsa.
2. Solusi
a. Pengawasan Terhadap Guru
Dalam pendidikan karakter bangsa ada pengawasan terhadap guru yang disebut dengan evaluasi kinerja guru yang dilaksanakan oleh pemerintah , namanya PKG (Penilaian Kinerja Guru). Kalau gurunya bagus diberi reward. Kalau tidak bagus bukan di punishment, tetapi ditingkatkan kompetensinya melalui PKB (Peningkatan Kompetensi Berkelanjutan) seperti training, penelitian-penelitian, peningkatan kualifikasi. Reward dipilih guru-guru yang berprestasi, diberi hadiah seperti laptop.
Selain itu, untuk mencapai kesadaran akan nilai-nilai karakter bangsa yang tinggi maka pemerintah semakin menggalkkan peningkatan keesadaran nilai-nilai karakter bangsa melalui berbagai pembinaan karakter seperti penyelenggaraaan pendidikan dan latihan, penataran, workshop, seminar, diskusi, dan lain-lain. Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang guru-gurunya juga sering mengikuti workshop dan pelatihan-pelatihan.
b. Evaluasi Nilai Karakter Peserta Didik
Dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa, perlu adanya evaluasi dari waktu ke waktu tentang keberhasilan pendidikan karakter bangsa terhadap nilai karakter peserta didik.
Guru harus bisa mengevaluasi keberhasilan pendidikan karakter terhadap diri siswa dari waktu ke waktu. Contoh evaluasinya, anak diajarkan sopan santun kemudian dievaluasi dengan pendekatan non tes seperti pengamatan untuk peningkatan perbaikan. Di sekolah ada prestasi dan non prestasi. Dalam Ujian Nasional menjadi salah satu faktor kelulusan. Ada cara penilaiannya, instrumennya sekolah dan guru punya, disebut non tes melalui pengamatan, peer group.
c. Adanya Teguran dan Sanksi
Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang, agar warga sekolah memiliki kesadaran akan nilai-nilai dan benar-benar bisa menjadi manusia yang berkarakter/berakhlak mulia, maka teguran akan dilakukan bagi siapapun yang melanggar peraturan yang berlaku apalagi bila terjadi perbuatan yang melenceng dari nilai-nilai kebijakan pasti akan diberi sanksi.
d. Pembenahan Lingkungan
Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang, sekolah terus menerus melakukan pembenahan mulai dari fasilitas-fasilitas, sarana prasarana, sampai lingkungan. Hal ini dimaksudkan agar tercipta lingkungan yang positif sehingga pendidikan karakter akan mudah terlaksana.
e. Pemimpin / Guru Tampil Sebagai Uswatun Khasanah
Agar pendidikan karakter bangsa berjalan lancar maka pemimpin harus bisa menjadi panutan bagi bawahannya. Terutama guru, dia harus benar-benar bisa menjadi teladan yang baik murid-muridnya. Ini sesuai pernyataan pakar pendidikan bahwa:
Guru sebagai sosok panutan harus dapat memberikan contoh dalam bertindak, bersikap, dan bernalar dengan baik. Bahkan, ia pun harus menunjukkan sebagai guru yang berkarakter.
Jadi guru tidak hanya sebagai pengajar yang berperan sebagai orang yang mentransfer ilmu (transfer of knowledge) tetapi juga sebagai pendidik yang berperan sebagai model bagi pembentukan karakter (transfer of value). Kehadiran, sikap, pemikiran, nilai-nilai, keprihatinan, komitmen dan visi yang dimilikinya merupakan dimensi penting yang secara tidak langsung mengajarkan nilai-nilai yang membentuk karakter peserta didik.
Koesoema menyatakan hal yang sama mengenai fakta ini bahwa: “adapun fungsi dan jabatan guru di sekolah, guru tidak dapat meninggalkan keberadaan mereka sebagai pendidik karakter”.
f. Pembinaan Mental
Melalui bidang studi/pembelajaran, peserta didik diberi nasehat-nasehat dan dibangun mentalnya. Selain itu bagi anak-anak yang bermasalah dibina oleh BP (Bimbingan Penyuluhan) / BK (Bimbingan Konseling).
Selain itu pembinaan mental juga dilakukan melalui kegiatan-kegiatan keagamaan. Di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang juga sering diadakan pengajian dengan mendatangkan tokoh agama. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai religius dalam diri warga sekolah semakin kuat dan terasah.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan landasan teori dan pembahasan hasil penelitian yang terurai sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut
1. Aktualisasi di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang dilakukan melalui dua jalan yaitu penanaman nilai-nilai karakter bangsa dan implementasi keterpaduan pembelajaran. Penanaman nilai-nilai karakter dilakukan melalui pendekatan keteladanan dan pembiasaan.
2. Tujuan aktualisasi pendidikan karakter bangsa di sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang adalah mewujudkan bangsa yang berkarakter ; mengembangkan potensi peserta didik menyaring budaya bangsa sendiri dan bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter bangsa; menanamkan jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan mandiri pada diri peserta didik; mengembangkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki kecapakan hidup, tingkat intelektual, emosional, spiritual yang tinggi berwawasan kebangsaan yang tinggi, jujur serta sejalan dengan tradisi budaya bangsa yang religius.
3. Faktor pendukung aktualisasi pendidikan karakter bangsa di Sekolah Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang adalah input yang bagus, guru yang berkompeten, kerjasama yang harmonis antar komponen pendidikan, sarana dan prasarana yang memadai, program yang terarah, tata tertib yang mendukung, lingkungan sekolah yang kondusif, kesadaran akan nilai-nilai yang cukup tinggi, visi dan misi yang jelas
4. Faktor penghambat aktualisasi pendidikan karakter bangsa karakter bangsa adalah kurangnya kesadaran guru terhadap tanggung jawabnya dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa, kurangnya kesadaran peserta didik terhadap nilai-nilai karakter bangsa terutama nilai kedisiplinan, perbedaan karakter peserta didik, kemajuan teknologi informasi yang multidimensional. Solusinya adalah pengawasan terhadap guru, evaluasi nilai karakter peserta didik, adanya teguran dan sanksi, pembenahan lingkungan, pemimpin/guru tampil sebagai uswatun khasanah, pembinaan mental.
B. Saran
1. Bagi guru
Di dalam aktualisasi pendidikan karakter bangsa, pendidikan karakter bangsa diharapakan menjadi kegiatan diskusi, simulasi, dan penampilan dari berbagai kegiatan sekolah. Untuk itu, guru diharapkan lebih aktif dalam pembelajaran, lebih profesional, lebih berkompeten dan berkarakter/berakhlak mulia sehingga bisa menjadi teladan bagi peserta didiknya.
2. Bagi Komponen Pendidikan ( Guru, peserta didik, masyarakat, pemerintah)
Agar tujuan pendidikan karakter bangsa dapat tercapai secara optimal maka perlu adanya hubungan yang harmonis antar komponen-komponennya. Baik antara lembaga terutama guru, peserta didik, masyarakat maupun pemerintah.
3. Bagi Lembaga ( Sekolah Negeri Dasar Negeri Kedungsalam 02 Donomulyo Malang)
a. Lingkungan sekolah yang positif akan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap pembangunan karakter. Untuk itu, perlu adanya pembenahan terhadap lingkungan sekolah agar menjadi lingkungan yang positif dan kondusif.
b. Manajemen yang bagus akan mempermudah pelaksanaan suatu kegiatan, bahkan dapat meminimalisir hambatan-hambatan yang ada. Sekolah harus dapat memberikan solusi-solusi yang tepat dalam menghadapi hambatan-hambatan tersebut.
DAFTAR RUJUKAN
A.A, Wahab, “Budi Pekerti” Education, Bandung : CICED,1999
Ali, Muhammad, Penelitian Kependidikan, Bandung : Askara, 1985
Amori, A, Game Object Model Version II:a Theoritical Framework For Educational Game Development, Educational Tecnologi Research And Development, ttp, 2007
Anonim, Kurikulum Berbasi Kompetensi : Pendidikan Budi Pekerti (Untuk Sekolah Madrasah Ibtidaiyah), Jakarta : Rineka Cipta, 1990
Ardhana, Peran Penelitian Dalam Teknologi Pembelajaran, Malang : tp, 2008
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Dan Suatu Pendekatan Praktek , Jakarta : Rineka Cipta, 2006
- - - - - - - - , Manajemen Penelitian, Jakarta :Rineka Cipta, 1990
Azzumardi, Azra, Paradigma Baru Pendidikan Nasional Rekontruksi Dan Demokratisasi, Jakarta:Kompas,2002
B, Darsono, Dasar dan Konsep Pendidikan Moral,Semarang:Aneka Ilmu,1986
Bernadid, Iman, Filsafat Pendidikan Suatu Tinjauan, Yogyakarta: Andi Offset, 1986
BS, Basuki , Resume tentang pendidikan budi pekerti, Jakarta : Ditjen Dikdasmen, 2000
- - - - - - - - , dan Ismail Arianto, Pedoman Penciptaan Suasana Sekolah Yang Kondusif Dalam Rangka Pembudayaan Budi Pekerti Luhur Bagi Warga Sekolah, Jakarta : Ditjen Dikdasmen Depdiknas, 2003
Dahlan, Tentang P4 Abad 21 : Globalisasi Wawasan Dan Informasi, Surabaya : tp, 1998
Darmodiharjo, Santiaji Pancasila, Surabaya : Usaha Nasional, 1984
Depdiknas, Pendidikan Budi Pekerti, Jakarta : Pusat Kurikulum Balitbang, 2002
Djahiri, Kosasih dan Aziz Wahab, Dasar Konsep Pendidikan Moral, 2002
E, Durkheim, Moral Education, Terjemahan Oleh Lukas Ginting, Jakarta : Erlangga, 1961
Elmubarok, Zaim, Membumikan Pendidikan Nilai, Bandung : Alfabeta, 2009
E, Sedyawati, Pedoman Penanaman Budi Pekerti luhur, Jakarta : balai Pustaka , 1997
Faisal, Sanapiah, Metode Penelitian Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional, 1981
G, Sevilla, Consuelo dkk, Terjemahan Alimuddin Tuwu, Pengantar Metode Penelitian, Jakarta : UI-Press, 1993
Gynanjar, Ary, Emotional Spiritual Question, Jakarta : Arga, 2002
Hadi, Sutrisno, Metode Reseach, Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi Universitas Gajahmada, 1987
Hamid, Pendekatan Multikultural Untuk Penyempurnaan Kurikulum Nasional, Jakarta : Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 2000
Hernowo, Warisan Keluarga, Wasiat Seorang Ayah Kepada Putera Puterinya Dengan Menggunakan Metode “Permata Pikiran”, Jakarta : Hikmah,2003
H.S, Hasan, Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa, Jakarta : Litbang Puskur Kemdiknas, 2010
Idris, Dasar-Dasar Kependidikan, Padang : Angkasa Raya, 1982
I,R Poedjawiyatna, Etika Filsafah Tingkah Laku, Jakarta : Rineka Cipta 1990
J Moleong, Lexi, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006
Kartadinata, Sunaryo, Resureksi Ilmu Pendidikan (Pedagogik) Bagi Pemulihan Penyelenggaraan Pendidikan, Bahan kajian Seminar Internasional tentang : Pedagogik Praktis dalam Perspektif Pendidikan Modern, Bandung : Fakultas Pendidikan UPI, 2010
Kesuma, Darma, Cepi Triatna dan Johar Permana, Pendidikan Karakter : Kajian Teori Dan Praktek Di Sekolah, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2001
Koesoma A, Doni Memahami Pendidikan Karakter Secara Lebih Utuh Dan Menyeluruh /Intorduktion To An Intregreted Approuch Of Character Education, Jakarta: PT Grasindo,2007
- - - - - - - - , Pendidikan Karakter : Strategi Mendidik Anak Di Zaman Global, Jakarta : PT Grasindo, 2007
Linda dan Richard Eyre, Mengajar Nilai-Nilai Kepada Anak, Jakarta : Gramedia, 1995
Madhi, Jamal, Menjadi Pemimpin yang Efektif dan Berpengaruh : Tinjauan Manajemen Kepemimpinan Islam, terj. Anang Syafrudin dan Ahmad Fauzan, Bandung : Sgaamil Cipta Media, 2002.
Majid, Abdul Dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset, 2011
Margono, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006
Megawangi, Ratna, Pendidikan Karakter Untuk Membangun Masyarakat Madani, Cimanggis : IPPk Indonesia Heritage Fondation, 2003
M.E, Wibowo, Etika dan Moral Dalam Pembelajaran, Jakarta : Universitas Terbuka Dan Dirjen Dikti Depdiknas, 2001
Moeliono, Anton M, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1996
Mulyana, Deddy, Metodologi penelitian Kualitatif, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006
Munir, Abdullah, Pendidikan Karakter, Yogyakarta : Pedagogia, 2010
Muslich, Mansur, Pendidikan Karakter : Menjawab Tantangan Multidimensional, Jakarta : PT Bumi Aksara, 2011
Nasution, Metode Naturalistik Kualitatif, Bandung : Tarsito, 1998
Nazir, Moh, Metodologi Penelitian, Bogor : Ghalia Indonesia, 2005
Paul, Suparno, dkk, Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah:Suatu Tinjauan Umum, Yogyakarta:Kanisius,2002
Prayitno, Budi Pekerti Dan Pendidikan, Jakarta:Balitbang Dikbud,1984
Purwanto, Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1996
- - - - - - - - , Psikologi Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1990
Qomar, Mujamil, Manajemen Pendidikan Islam, Malang : Erlangga, 2007
Rachman, M, Implementasi Pendidikan Budi Pekerti Dalam Keterpaduan Pembelajaran, Jakarta : Depdiknas, 2001
- - - - - - - - , Reposisi, Revolusi Dan Redevinisi Pendidikan Nilai Bagi Generasi Muda Bangsa, Jurnal pendidikan dan Kedudayaan Tahu Ke 7 , t.t.p, 2000
- - - - - - - - , Pendidikan Karakter, Cimanggis : IPPk Indonesia Heritage Fondation, 2003
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Bandung : Kencana, 2006
Sedyawati, Edi dkk, Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Jakarta : Balai Pustaka, 1999
Sekretariat RI, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003, Bandung: Citra Umbara,2003
Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak : Peran Modal, Intelektual,Emosional, dan sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri, Jakarta : Bumi Aksara, 2006
Soedjatmoko, Masalah Sosial Budaya Tahun 2000, Yogyakarta : Tiara Wacana, 1986
Soekodjo, Notoatmojo, Metode Penelitian, PT. Rineka Cipta, 2005
Sudjana, Nana, Metode Statistik, Bandung : Tarsit, 1989
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung : ALFABETA, 2010
- - - - - - - - , Metode Penelitian Kuantitatid, Kualitatif, R&D, Bandung : CV ALFABETA, 2010
Suryabrata, Sumadi, Psikoklogi Pendidikan, Jakarta : CV Rajawali, 1984
S. Winaputra, Udin Dkk, Pendidikan Budi Pekerti Pada Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah, Jakarta : Dtjen Dikdasmen Depdiknas, 2003
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 1995
Tafsir, Ahmad, Pendidikan Budi Pekerti, Bandung :Maestro, 2009
Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1987
U.S, Winaputra, Pendidikan Budi Pekerti : Perspektif Sistemik Pedagogik, Jakarta:Universitas Terbuka, 2006
Yusuf, Syamsu & Ahmad Juntika, Teori Kepribadian, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2008
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Langganan:
Postingan (Atom)