Jumat, 06 Desember 2013

contoh skripsi STRATEGI KH. MUHAMMAD KHAIRUDDIN DALAM MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN ISLAM DI PP. NURUL HUDA SUKONOLO BULULAWANG MALANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia telah menunjukkan kemampuannya dalam mencetak kader – kader ulama dan telah berjasa turut mencerdaskan masyarakat Indonesia. Pesantren adalah sebuah komplek dengan lokasi yang umumnya terpisah dari kehidupan sekitarnya. Dalam komplek ini berdiri beberapa buah bangunan: rumah kediaman pengasuh, sebuah surau atau masjid: tempat pengajian diberikan (bahasa Arab, Madrasah yang juga sering mengandung konotasi Sekolah), dan Asrama tempat tinggal para siswa pesantren. Pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan agama islam yang tumbuh serta diakui oleh masyarakat sekitar dengan sistem asrama (kampus). Di mana santri – santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada di bawah kedaulatan dari leadership seorang atau beberapa orang dengan ciri – ciri khas yang bersifat independen dalam segala hal. Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa pada prinsipnya yang dimaksud dengan pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan yang bernafaskan Islam di mana di dalamnya mengandung komponen – komponen: kiai sebagai pengasuh sekaligus berperan sebagai pendidik, surau sauatu masjid sebagai saran peribadahan dan sekaligus berfungsi sebagai tempat pendidikan, santri sebagai peserta didik, asrama tempat tinggal para santri yang sekaligus menetap dalam pondok tersebut. Keberadaan pesantren beserta perangkatnya adalah sebagai lembaga pendidikan dan dakwah serta lembaga kemasyarakatan yang telah memberi warna daerah pedesaan. Ia tumbuh dan berkembang bersama warga masyarakat sejak berabad – abad yang lalu. Oleh karena itu, tidak hanya secara kultur lembaga ini dapat diterima, tapi bahkan telah ikut serta membentuk dan memberikan corak serta nilai kehidupan kepada masyarakat yang senantiasa tumbuh dan berkembang. Pesantren dapat disebut sebagai lembaga non formal, karena eksistensinya berada dalam jalur sistem pendidikan kemasyarakatan. Ia memiliki program pendidikan yang disusun sendiri dan pada umumnya bebas dari ketentuan yang bersifat formal. Pembangunan suatu pesantren amat tergantung pada daya tarik tokoh sentral ( kiai ) yang memimpin, meneruskan dan mewarisinya. Keberadaan seorang kiai sebagai pemimpin pesantren, ditinjau dari tugas dan fungsinya dapat dipandang sebagai fenomena kepemimpinan yang unik. Dikatakan unik seorang kiai sebagai pemimpin sebuah lembaga pendidikan Islam tidak sekedar bertugas menyusun kurikulum, membuat peraturan tata tertib,merancang sistem evaluasi, sekaligus melaksanakan proses belajar mengajar yang berkaitan dengan ilmu – ilmu agama di lembaga yang diasuhnya, melainkan bertugas pula sebagai pembina dan pendidik umat serta menjadi pemimpin suatu komunitas masyarakat. Kiai sebagai pemimpin pondok pesantren yang langsung terjun di masyarakat, di samping merupakan sistem paling essensial memiliki tugas dan tanggung jawab yang amat besar dalam menjalankan kepemimpinannya terhadap perkembangan pondok pesantren yang dipimpinnya. Ia bukan sekedar menempatkan dirinya sebagai pengajar dan pendidik santri – santrinya, melainkan juga aktif memecahkan masalah – masalah krusial yang dihadapi masyarakat. Ia memimpin kaum santri, memberikan bimbingan dan tuntunan kepada mereka yang sedang gelisah, menggerakkan pembangunan, memberikan ketetapan hukum tentang berbagai masalah aktual, bahkan tidak jarang Ia bertindak sebagai tabib dalam mengobati berbagai penyakit yang diderita orang yang memohon bantuannya. Akhirnya pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang paling otonomyang tidak bisa di intervensi pihak – pihak luar kecuali atas izin kiai. Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis merasakan adanya dorongan yang kuat untuk mengangkat permasalahan yang terkait dengan strategi seorang Kiai didalam mengembangkan mutu pendidikan Islam di Pesantren yang dibinanya. Penulis mengambil penelitian di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang karena beberapa keunikan antara lain: Berdasarkan hal tersebut di atas penulis terinspirasi untuk mengkaji dan mengangkat judul Strategi K.H. Muhammad Khairuddin Dalam Mengembangkan Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang. B. Fokus Penelitian Setelah peneliti melakukan penelitian, terdapat hal – hal yang perlu dipaparkan, yaitu: 1. Pondok pesantren Nurul Huda Sukonolo terletak di pertengahan kota namun bisa berkembang dengan pesat. Hal ini dikarenakan strategi yang cukup spektakuler dari seorang kiai. 2. Pembelajaran sangat ketat dan respon masyarakat sangat baik. C. Rumusan Masalah Berdasarkan pada uraian yang telah dikemukakan dalam latar belakang masalah, agar permasalahan yang diteliti lebih fokus, maka penelitian ini hanya difokuskan pada permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana strategi K.H. Muhammad Khairuddin dalam mengembangkan Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang? 2. Bagaimana faktor – faktor penghambat dan pendukung K.H. Muhammad Khairuddin dalam mengembangkan pendidikan Islam di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang? 3. Bagaimana solusi K.H. Muahammad Khairuddin dalam megatasi hambatan pengembangan pondok pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang? D. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui strategi K.H. Muhammad Khairuddin dalam mengembangkan pendidikan Islam di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang. 2. Untuk mengetahui faktor – faktor penghambat dan pendukung K.H. Muhammad Khairuddin dalam mengembangkan pendidikan Islam di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang. 3. Untuk mengetahui solusi K.H. Muahammad Khairuddin dalam megatasi hambatan Pengembangan pondok pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang. E. Kegunaan Penelitian Pembahasan ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Secara teoritis. Diharapkan bermanfaat sebagai sumbangan terhadap khasanah keilmuan yaitu perkembangan ilmu seluruh pendidikan Islam terutama perkembangan pendidikan di pondok pesantren secara umum. 2. Secara praktis. a. Bagi mahasiswa STIT Ibnu Sina, bisa memperoleh dan memadukan teori – teori yang diperoleh dibangku kuliah dengan kondisi yang ada di lembaga atau masyarakat, serta mengetahui praktek kepemimpinan pondok pesantren sehinggga menghasilkan orang – orang yang berhasil terutama di bidang agama. b. Bagi pondok pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam rangka mengatasi masalah yang dihadapi sekaligus sebagai wacana atau konsep baru dan menuju masa depan yang lebih maju. c. Bagi almamater bisa menjadi referensi bahan bacaan skripsi dan juga sebagai konsep awal rangka mengembangkan wawasan keilmuan pada masa yang akan datang. F. Penegasan Istilah Untuk mempermudah pemahaman dan menhindari kesalah pahaman, maka perlu adanya penegasan istilah. Penegasan ini berkaitan beberapa pengertian sebagai berikut: 1. Strategi disini adalah cara yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan. 2. Pengembangan pendidikan Islam adalah memberdayakan hukum Islam di masyarakat. 3. Pondok pesantren adalah sebuah komplek yang umumnya terpisah dengan kehidupan sekitar. BAB II KAJIAN TEORI A. Peranan Kiai Dalam Pondok Pesantren 1. Kiai Sebagai Tokoh Kharismatik Pondok pesantren yang merupakan realisasi dan inisiatif yang bersifat individualistik seorang kiai, menimbulkan corak kepemimpinan yang sangat pribadi pula sifatnya, yang berlandaskan pada penerimaan masyarakat sekitar dan warga pesantrennya secara mutlak. Adapun kepemimpinan yang kharismatik dapat dilihat dari aspek – aspek sebagai berikut: a. Didukung oleh tata nilai yang rasional, seperti kecintaan yang berlebih – lebihan, fanatisme keagamaan, kedudukan hirarkis yang diperoleh dari keturunan, kemampuan membuat agitasi kepada massa dengan demogogi (hasutan). Kemudian diberi bentuk hingga tampak rasional, namun pada dasarnya kepemimpinan kharismatik mengikuti pola kerja yang tak rasional pula. Pemimpin kharismatik lalu tidak senang dengan tata terperinci yang terlalu mengikat, membuat perencanaan secara terperinci, apalagi tunduk kepada pengawasan orang lain. b. Memiliki kemampuan besar untuk menggerakkan massa, menggalang keberatan hubungan antara mereka (biasanya dengan menciptakan kesatuan ikatan untuk dihadapkan kepada lawan bersama), menanamkan kepercayaan teguh akan kemampuan masyarakat akan mencapai impian gilang – gemilang dan menumbuhkan rasa kecintaan kepada impian itu. c. Dibalik itu terdapat kekurangan – kekurangan yang mendasar, yang dapat mengakibatkan malapetaka bagi masyarakat yang dipimpinnya. Ketiadaan terhadap kebutuhan essensial dibidang ekonomi, ketiadaan kepada soal – soal kecil yang melandasi kelancaran hidup masyarakat. Ketidak senangan terhadap perencanaan biasa yang tidak muluk – muluk dan melambung tinggi dan terparah lagi tidak mau menerima kritik. d. Kurangnya penguasaan terhadap berbagai jenis metode menjadi kendala dalam memilih dan menentukan metode. Itulah yang biasanya dirasakan oleh mereka yang berlatar belakang pendidikan guru. Kalau mengamati keadaan yang berkembang di lingkungan pesantren, maka bentuk kekuasaan kharismatik tersebut hampir terdapat dalam semua lingkungan pesantren. Kharismatik tersebut terletak pada pandangan terhadap miliknya dan hal ini merupakan sebutan yang disandang kepada pribadi yang kharismatik lebih hebat dari pada kenyataan tentang kemampuan sebagai pemimpin. Kharisma tetap merupakan sifat – sifat yang tidak bisa ditegaskan definitif dan hanya dikenali lewat sederetan kepribadian yang kuat, berpengaruh besar, tekun dan amat ekspresif,pemberani, tegas, penuh percaya diri,supel, berpandangan tajam dan energik yang menjelma dalam kata, ide, tindakan dan sikap. Kharisma adalah sebuah kualitas manusia yang sepenuhnya bisa diamati secara empirik, dan hal – hal yang berkaitan dengan perbuatan dan sikap manusia. Kharisma adalah sesuatu milik untuk dipercayai dan dipertahankan. 2. Kiai Sebagai Pemimpin Pondok Pesantren Seorang kiai merupakan unsur yang sangat vital dalam sebuah pondok pesantren, sebab selain sebagai pemilik dan pemimpin, kiai mempunyai peran penting dalam menentukan keberadaan dan fungsi pondok pesantren. Pesantren mirip dengan sebuah dinasti segalanya ditangani kiai, dan ketika ia meninggal maka kekayaan yang ada di dalamnya dan kepemimpinannya juga diturunkan kepada anaknya. Maka sang anakpun jadi pemegang otoritas tunggal pada dinasti pesantren warisan sang ayah. Walaupun otoritas penuh, tetap dan selalu ada ditangan kiai, tetapi dalam hal merealisasikan pelaksanaan program yang direncanakan dalam pesantren tersebut. Tenaga ini biasanya di ambil dari santri senior, dengan kadar domisili dalam pesantren tersebut relatif jauh lebih lama di banding santri lainnya. Yang di tunjang oleh tingkat keilmuan, paling tidak jumlah kitab yang pernah di kaji secara kualitas sudah memadai, yang di akui oleh kiai maupun para santri pada umumnya melalui pembentukan suatu kepengurusan. Walaupun telah di bentuk pengurus yang bertugas melaksanakan segala sesuatu yang berhubungan dengan jalannya pesantren sehari – hari. Kekuasaan mutlak senantiasa masih berada di tangan sang kiai. Karenanya, betapa demokratis sekalipun susunan pimpinan pesantren, masih terdapat jarak tak terjembatani antara kiai serta keluarganya satu pihak dan para asatidz serta santri di pihak lain, kiai bukan primus interperes, melainkan bertindak sebagai pemilik tunggal (directeur eigenaar). Dari pendapat tersebut jelaslah bahwa untuk melakukan perombakan maupun renovasi terhadap kondisi suatu pesantren, pada umumnya datang dari keinginan dan kemauan kiai. Seolah – olah tak ubahnya dengan penguasaan seorang raja dengan keabsolutan segla bentuk aktivitas yang ada di dalamnya, dan keseluruhan kebijakan didasarkan penuh kepada pemilik tunggal tersebut. Oleh karenanya kedudukan yang dipegang oleh seorang kiai pada umunya dan kebanyakan yang ada di pesantren jawa, disamping juga sebagai pengasuh juga sebagai pemmilik pesantren tersebut. Kedudukan yang dipegang oleh seorang kiai adalah kedudukan ganda sebagai pengasuh dan sekaligus sebagai pemilik pesantren dan secara kulturan kedudukan ini sama dengan kedudukan bangsawan feodal yang biasa dikenal dengan nama kanjeng di pulau jawa. Ia dianggap memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain disekitarnya, dan atas dasar ini hampir mengenai setiap kiai yang ternama berdasarkan legenda tentang keampuhannya yang umumnya bersifat magic. Dengan demikian nampak bahwa pola kovensional kepemimpinan di pesantren adalah kepemimpinan yang mempribadi (personal), dimana segala masalah kepesantrenan bertumpu pada kiai tanpa adanya perkecualian dan spesifikasi yang jelas dan tertentu. Hal ini ditunjang dengan tempaan pengalamannya mendirikan pesantren yang merupakan bentuk realisasi cita – citanya. 3. Kiai Sebagai Pendidik dalam Pondok Pesantren Sebagaimana lazimnya peranan yang diemban oleh seorang kiai dalam pesantren yang dibinanya adalah selain sebagai pemimpin, sekaligus juga sebagai pendidik dalam pesantren tersebut. Hal ini tidak terlepas dari pandangan serta penilaian masyarakat sebagai eksistensi seorang kiai, yang dengan penuh mengakui akan kemampuan keagamaan serta ketinggian tingkat keilmuan yang dimiliki oleh kiai sekaligus dijadikan panutannya. Dengan demikian peran sebagai pendidik disini jauh berbeda dengan peran dari guru – guru pada umumnya. Ada sejumlah peran yang harus dimainkan oleh guru dalam proses pendidikan seumur hidup yaitu: a. Sebagai co-balajar, maksudnya guru (kiai) harus menjadi dirinya juga sebagai pelajar seumur hidup dihadapan murid – muridnya (santri). b. Sebagai guide dan fasilitator, yang tidak lagi menjadi sentral kegiatan belajar, tetapi menjadi konsultan pendidikan yang membantu perkembangan setiap pelajar (santri). c. Sebagai pembimbing. d. Sebagai pendidik profesional dan pendidik hidup. Sebenarnya peranan kiai lebih besar dalam bidang penanaman ilmu, bimbingan ibadah amaliah, penyebaran dan pewarisan ilmu, pembinaan akhlak, pendidikan beamal, danpemimpin serta menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh santri dan masyarakat dari pada dalam bidang penulisan penciptaan dan penemuan dalam ilmu pengetahuan. Juga letak pengaruh kiai dalam hal pemikiran, lebih banyak berupa terbentuknya pola berpikir, setiap jiwa serta orientasi tertentu yang berlatar belakang pada kepribadian kiai. Dengan demikian peran seorang kiai sebagai pendidik dalam pesantren yang diasuhnya tidak dapat dihindarkan dan menjadikan suatu keharusan dimana hal itu merupakan suatu unsur utama dalam sebuah pesantren. B. Strategi Pengembangan Pendidikan Pondok Pesantren Kata strategi berasal dari bahasa Yunani "strategia" yang diartikan sebagai "the art of the general" atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan. Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau mecapai tujuan. Strategi pada dasarnya merupakan seni dan ilmu menggunakan dan mengembangkan kekuatan (ideologi, politik, ekonomi,sosial-budaya dan hankam) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Strategi adalah pengetahuan tentang penggunaan pertempuran untuk memenangkan peperangan. Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus - menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggakan di masa depan. Pesantren kecil akan berkembang secara signifikan manakala dikelola secara profesional. Dengan pengelolaan yang sama, pesantren yang sudah besar akan bertambah besar lagi. Sebaliknya, pesantren yang telah maju akan mengalami kemunduran manakala menejemennya tidak terurus dengan baik. Sementara itu jika pesantren mengabaikan manajemen, pesantren yang kecil akan gulung tikar dalam menghadapi tantangan multidimensi. Pendidikan yang merupakan bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Yang diselenggarakan oleh lembaga – lembaga formal, dalam perkembangannya dituntut adanya pembaharuan dalam berbagai aspek sesuai dengan tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. 1. Pengembangan Pemikiran Keagamaan dan Kemasyarakatan. Eksistensi kiai sebagai masyarakat telah diakui keberadaannya, bahkan kadang kala kepercayaan masyarakat kepada kiai sebagai figur pimpinan sangat berlebihan,tanpa ada sebuah penjelasan yang rasional. Seorang kiai menjadi pimpinan dalam masyarakat berdasarkan legimitasi yang diberikan oleh masyarakat itu sendiri, bukan dari ijazah pendidikan yang diterima atau kesarjanaannya dan bukan pula karena kekayaan yang berlimpah ruah. Dalam masyarakat disamping sebagai ahli agama, kepemimpinan kiai dalam masyarakat luas juga sering dipandang sebagai sesepuh, figur yang dituakan karena kiai selain berperan sebagai pemberi nasehat dalam berbagai aspek persoalan kehidupan umat, juga tidak sedikit kiai yang memiliki keahlian khusus, seperti halnya mempunyai keahlian melakukan pengobatan, atau ia memiliki keterampilan dalam bela diri, kekebalan, dan seterusnya. Petuah atau kata – kata dan keputusan – keputusannya selalu dipegang teguh dan dipatuhi oleh masyarakat. Bahkan boleh jadi masyarakat lebih mematuhi kiai dari pada pimpinan formal. Hal ini memang akan terlihat nyata apabila kita melihat fenomena keseharian masyarakat madura yang lebih mempercayai atau mematuhi kiai dari pada pimpinan lainnya, begitu pula terjadi pada setiap umat Islam pada umumnya. 2. Pengembangan Pendidikan Sekolah/Madrasah. Sejalan dengan arah perkembangan pendidikan pada umumnya, pesantren mengupayakan pensejajaran sistem pendidikannya dengan yang ada di luar lingkup pesantren pada umumnya. Hal ini terlihat dari adanya perubahan sisten mengajar yang semula hanya menggunakan sistem salaf dengan sistem mengajar secara tradisional dengan sistem sorogan dan bandongan sehingga di dalamnya tidak ada pembagian kedalam tingkat kemajuan belajar, karena masing – masing santri menentukan sendiri kemajuannya dengan menunjukkan kemampuan penguasaan buku – buku kepada kiai secara perorangan, kedalam sistem madrasi, dengan diberlakukan sistem kelas atau tingkatan – tingkatan pendidikan disertai dengan santri yang juga belajar dalam kelas – kelas. a. Materi dan Tujuan Pondok Pesantren. Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang pada mulanya hanya memberikan pengajaran diseputar bidang keagamaan saja. Pada perkembangan selanjutnya sudah mampu mengadakan penyesuaian dengan lingkungan pendidikan di luar dirinya. Secara umum pelajaran yang disajikan dalam pondok, antara pondok pesantren satu dengan lainnya tidaklah jauh berbeda. Adapun pada umumnya ilmu – ilmu yang diajarkan di pondok pesantren itu ada 12 macam yaitu: 1). Ilmu Nahwu 7). Ilmu Fiqih 2). Ilmu Sharaf 8). Ilmu Tafsir 3). Ilmu Ma’ani 9). Ilmu Hadits 4). Ilmu Bayan 10). Ilmu Musthalah Hadits 5). Ilmu Badi’ 11). Ilmu Usul Fiqh 6). Ilmu Tauhid 12). Ilmu Mantiq. Tujuan pendidikan pondok pesantren secara luas adalah untuk membina kepribadian para santri agar menjadi seorang muslim, mengamalkan ajaran – ajaran Islam serta menanamkan rasa keagamaan pada semua segi kehidupannya. Serta menjadi manusia yang berguna bagi agama, masyarakat, bangsa dan negara. Tujuan pokok pesantren secara khusus adalah untuk mendidik santri agar menjadi kader – kader ulama yang memiliki pengetahuan agama serta mengamalkannya, baik bagi diri pribadi maupun untuk kepentingan masyarakat. Untuk mencapai tujuan dari pendidikan pondok pesantren yang juga merupakan tujuan utama yang dicita – citakan agama Islam, maka pendidikan yang ada di pondok pesantren harus pula melahirkan yang searah dengan tiga dimensi yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Adapun tiga dimensi tersebut adalah: 1). Dimensi imanitas yang dapat menundukkan harkat manusia sebagai makhluk Allah yang tertinggi (insan ahsani taqwim), punya daya tahan terhadap ujian hidup dan berpihak kepada kebenaran. 2). Dimensi jiwa dan pandangan hidup Islam yang membawa cita Rahmatan lil’alamin; dan 3). Dimensi kemajuan yang akan menempatkan manusia bertafaqquh terhadap yang dititihkan Allah dan terhadap segala kejadian serta perubahan yang ada. Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa tujuan pendidikan yang diselenggarakan di beberapa pondik pesantren adalah perubahan dan pembaharuan yang disesuaikan dengan tuntutan dan tingkat kebutuhan yang diharapkan oleh masyarakat. b. Metode Penyampaian dalam Pesantren. Model pengajaran yang dilangsungkan dalam pomdok pesantren pada umumnya bersifat tradisional. Adapun karakteristik yang terdapat dalam pendidikan pesantren adalah: 1). Dalam pendidikan tradisional ini para santri yang belajar dan tinggal di pesantren mempunyai kebebasan yang lebih besar dibanding murid – murid di sekolah moderndalam bertindak dan berinisiatif, sebab antara hubungan kiai dan santri bersifat dua arah, sedangkan hubungan antara guru dengan murid di sekolah dan universitas bersifat satu arah yang harus dipertajam lagi. 2). Kehidupan pesantren menanamkan semangat demokrasi di kalangan para santri, karena mereka praktis harus bekerja sama untuk mengatasi semua problem non-kurikula mereka. 3). Para santri tidak mengidap penyakit ijazah sebab sebagian besar pesantren tidak mengeluarkan ijazah, ini membuktikan ketulusan motivasi mereka dalam belajar agama. Maka sebagai hasilnya atau lebih tepat secara teoritis, mereka akan mendapatkan keridhaan Allah 4). Selain mengajar berbagai pelajaran agama, pesantren juga menekankan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan, persamaan di hadapan Tuhan, rasa percaya diri bahkan keberanian hidup. 5). Para alumni pesantren – pesantren tidak berkeinginan menduduki jabatan – jabatan pemerintah, dan karenanya hampir tidak dapat dikuasai oleh penguasa. c. Organisasi pesantren. Perkembangan pesantren yang melalui rentang waktu yang sangat panjang selain memperhatikan jumlah yang sangat panjang, juga telah mengalami corak – corak pertumbuhan yang beraneka ragam, sehingga kadang terasa aulut membuat gambaran suatu pola pesantren dan yang lebih sulit lagi mengadakan generalisasi tentang lembaga tersebut. Aspek pengorganisasiannya, dimana kenyataan menunjukkan bahwa pondok pesantren tidak memiliki keseragaman dalam kultur organisasi serta administrasi, bahkan tidak sama dalam tingkat keilmuan dan ketakhassusan keilmuan, untuk itu perlu diadakan semacam guidance (petunjuk) yang berupa pola – pola struktur organisasi dan administrasi dasar yang dapat berlaku bagi pondok – ppondok pesantren dalam segala jenis atau katagori, yang meliputi: 1). Pengkatagorian pondok pesantren a). Pondok pesantren modern sebagai teladan b). Pondok pesantren takhassus. b.1). takhassus ilmu alat b.2). Takhassus ilmu fiqih/ushul fiqh. b.3). Takhassus ilmu tafsir/hadits b.4). Takhassus ilmu tasawuf/thariqat b.5). Takhassus ilmu qira’at Al – Qur’an. c). Pondok pesantren campuran. Dari pengkatagorian tersebut sejalan dengan perkembangan yang terjadi di beberapa pesantren, dimana kepemimpinan dari pola perkembangan yang dilaksanakan tidak lagi menerapkan pola kepemimpinan tunggal. Dengan gejala baru ini, maka organisasi pesantren menjurus kearah impersonal. Tanpa mengurangi peran kiai sebagai pemimpin tertingginya, maka kepemimpinannya mengarah pada pola kreatif sesuai dengan hirarki kepemimpinan sebuah organisasi yayasan. Dengan demikian pesantren pesantren menjadi salah satu lembaga modern, lembaga legal yang berbadan hukum, dan kelangsungan eksistensi pesantren kemudian tidak lagi tergantung pada kiai sebagai pemimpin tertinggi secara manunggal. Maka dipandang perlu adanya pola dasar struktur organisasi pesantren yang sama, yaitu sebagai berikut: 1). Pimpinan tertinggi: kiai beserta pembantunya. 2). Pengurus pondok pesantren terdiri dari: a. Lurah b. Sekretaris c. Pembina – pembina dalam bidang: c.1. Ilmiah (pengajian/madrasah). c.2. Administrasi. c.3. Keuangan dan dana. c.4. Kesejahteran dan kesehatan. c.5. Hubungan luar (public relation). d. Dewan musyawarah, yang anggotanya terdiri dari kiai sebagai ketua, pembantu kiai dan pengurus keseluruhannya ditambah dengan santri yang dipandang pantas menjadi anggota. Melalui pembenahan dan pembinaan kearah perbaikan pola organisasi yang ada pada tiap pesantren yang dimungkinkan sekali terjadinya pertumbuhan dan perkembangan pola pendidikan yang ada di pesantren tanpa harus tersisihkan dengan perkembangan yang terjadi pada lembaga – lembaga pendidikan umum diluar lingkungannya. 3. Pengembangan Hubungan dengan Masyarakat dan Pemerintah. Pranata kehidupan sosial yang diwarnai tradisionalisme sebagaimana yang ada dalam kehidupan pesantren di dalamnya mengandung elemen – elemen yang kuat dan cukup basar pengaruhnya dalam menangi masyarakat luas. Untuk itu diperlukan dana peningkatan kapasitas intelektual dan wawasan psikologis, sehingga mampu sejalan dengan tingkat perkembangan yang diinginkan oleh karena pesantren – pesantren di Indonesia yang masih digolongkan kepada pranata kehidupan sosial yang diwarnai tradisionalisme sudah sejajar bukan mendapatkan pengakuan sebagaimana halnya lembaga – lembaga pendidikan formal lainnya. a. Hubungan Fungsional Pondok Pesantren dengan Masyarakat Luas. Eksitensi pesantren beserta perangkat yang ada didalamnya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah juga lembaga kemasyarakatan yang telah memberikan warna tersendiri bagi daerah sekitarnya atau lingkungannya, ia pun tumbuh dan berkembang bersama – sama dengan masyarakat setempat sejak berabad – abad yang lalu. Oleh karena itu tidak hanya kultural lembaga ini dapat diterima, akan tetapi bahkan telah ikut serta membentuk corak serta nilai kehidupan pada masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan. Hal tersebut tidak terlepas dari produk yang dihasilkan. Adapun produk – produk yang dihasilkan pondok pasantren yaitu: 1). Pondok pasantren telah membuktikan dirinya mampu menyiapkan manusia yang menjadi agen perubahan atau transformator dalam lingkungan masyarakat. 2). Pondok pasantren telah terbukti mampu mangembangkan sikap mandiri dikalangan para santrinya. 3). Pondok pasantren telah terbukti telah mengembangkan sikap dan kepribadian para santrinya secara mantab. Dari uraian di atas nampak keeratan dan adanya saling berkaitan hubungan antara pasantren dengan masyarakat sekitarnya, dimana satu dengan lainnya saling menunjang kearah stabilitas yang diinginkan. Untuk lebih meningkatkan hubungan yang ada dimungkinkan adanya perumusan beberapa azas pengembangan yang akan dilandasi pelaksanaan program secara oprasional. b. Hubungan fungsional pasantren dengan pemerintah. Pendekatan polit yang mulai digantikan pendekatan dakwah yang berorientasi rekonstruksi kultural dalam perjuangan Islam tersebut. Perjuangan Islam kemudian dipandang sebagai suatu proses pentahapan perubahan kepribadian seseorang dan masyarakat. Kecenderungan ini merupakan wahana baru yang menempatkan seluruh lapisan muslim yang semula fragmentaris dalam satu cakupan budaya yang toleran terhadap keber-agama-an. Pluralitas sosial kemudian dipandang sebagai suatu tahap yang harus dilalui oleh usaha sosial dengan pendekatan budaya. Kondisi tersebut diatas memberi peluang semua lapisan muslim dengan keberagaman sosial, politik serta ekonomi bahkan keberagaman dalam kualitas beragama yang menghindarkan diri dari koflik yang bersumber dari pluralitas sosial. Dengan suasana baru ini memberikan keberanian berbagai kalangan muslim disemua lapisan sosial untuk menyatakan diri secara terus terang sebagai muslim melalui pernyataan verbal maupun simbolis. Secara umum, kontak hubungan integratif pondok pesantren dengan pemerintah yaitu: 1). Secara internal, memang sudah saatnya bagi kalangan pesantren untuk menyadari keberadaan sebagai aset bangsa untuk back to basic kepada alur besar perkembangannya, dengan menata kembali orientasi keilmuan, manajemen pengelolaan serta rekontruksi, terhadap kurikulum yang ada. dan yang lebih penting adalah kemauan pesantren untuk senantiasa mengikuti ritme perkembangan dan alur pembangunan secara selektif dan penuh tanggung jawab. Serta memperkaya dengan nuansa relegiusitas yang trandensentif. 2). Bahwa pesantren, dengan tradisinya yang hidup di khas Indonesia memiliki potensi survive untuk tetap hidup dan berkembang. Bahkan hal yang absurd, untuk menjadikannya sebagai “model” dan miniatur pembangunan bangsa. Karena dalam nilai – nilai dan tradisi itu kaya akan simbol – simbol seperti kerakyatan, kebangsaan dan demokratisasi. Tentunya dengan mengadakan modifikasi pada beberapa bagian dari tradisi itu sendiri. 3). Dari realitas yang ada bahwa masyarakat pesantren merupakan bagian terbesar dari masyarakat Indonesia, merupakan aset terbesar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dalam mendukung lancarnya proses pembangunan secara massif. Dari beberapa pendapat diatas dapatlah disimpulkan bahwa kehidupan pesantren dengan keberlangsungan sistem pemerintahan yang ada di Indonesia sangat untegral dan saling terkait di dalamnya, hal itu tidaklah terlepas dari kesejahteraan yang turut menciptakan lahirnya kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan demikian seluruh program yang dilaksanakan dalam lembaga pesantren haruslah berkesesuaian dengan program yang dilaksanakan oleh pemerintah. C. Pondok Pesantren 1. Pengertian Pondok Pesantren Pondok beasal dari bahasa Arab, berasal dari kata funduq yang berarti rumah tumpangan, hotel. Pondok sebagai rumah untuk sementara waktu, dan dalam masyarakat jawa diartikan sebagai madrasah/asrama (tempat mangaji, belajar agama Islam). Sedangkan pesantren berasal dari kata santri dengan awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat tinggal para santri. Pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan agama islam yang tumbuh serta diakui oleh masyarakat sekitar dengan sistem asrama (kampus). Di mana santri – santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada di bawah kedaulatan dari leadership seorang atau beberapa orang dengan ciri – ciri khas yang bersifat independen dalam segala hal. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan dengan cara non klasikal (sistem bandongan dan sorogan). Dimana seorang kiai mengajar santri – santri berdasarkan kitab – kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama – ulama besar sejak abad pertengahan, sedang para santri biasanya tinggal dalam pondok atau asrama dalam pesantren tersebut.Perlu diketahui bahwa pondok pesantren bukanlah merupakan sekolah – sekolah umum yang termasuk dalam jalur pendidikan yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Agama atau Departemen lainnya. Tetapi sebagimana telah tertuang dalam pokok pikiran diatas bahwa pondok pesantren merupakan lembaga dan pengajaran yang mempunya ciri – ciri tertentu, yaitu dengan sistem pengajarannya yang non klasikal, kiai yang merupakan pengasuh sekaligus pengajar, ada siswa yang biasanya disebut santri, ada kitab – kitab klasik yag berbahasa Arab, ada pondok/asrama yang dujadian tempat tinggal bagi santri, dan yang penting lagi adanya masjid pada pondok pesantren tersebut. pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada dasarnya sama dengan pondok pesantren tersebut diatas tetapi para santrinya tidak disediakan komplek pesantren, namun tinggal terbesar di seluruh penjuru desa sekeliling pesantren tersebut (satri kalong) dimana cara dan metode pendidikan dan pengajaran agama Islam diberikan dengan sistem weton yaitu para santri datang berduyun – duyun pada waktu – waktu tertentu (umpamanya setiap hari jum’at, minggu dan sebagainya). Pondok, masjid, santri, pengajian kitab Islam klasik serta kiai merupakan lima elemen dasar dalam tradisi pesantren. Dengan demikian maka jelaslah bahwa pondok pesantren berbeda dengan lembaga – lembaga pendidikan lainnya. Apabila dipelajari sejarah pendidikan Indonesia di masa lalu, maka akan sampai kepada penemuan sejarah bahwa pondok pesantren adalah salah sati bentuk kebudayaan asli Indonesia. Sebab lembaga pendidikan dengan pola kiai, saantri dan asrama telah dikenal dalam kisah dan cerita rakyant Indonesia khususnya di pulau jawa. Keberadaan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisi di Indonesia, khususnya di jawa, sudah cukup lama dikenal oleh masyarakat sejak lebih dari limaratus tahun yang lalu, yakni ketika Syeh Maulana Malik Ibrahim memperhatikan pondok pesantren yang pertama kali di daerah Gresik. 2. Tujuan dan Fungsi Pondok Pesantren a. Tujuan Pondok Pesantren. Sebagaimana telah diketahui bahwa pondok pesantren merupakan salah satu dari lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia. Oleh karena itu pondok pesantren harus beroriebtasi pada tujuan yang selalu didasarkan pada pendidikan dan pengajaran agama. Tujuan tersebut dapat kita asumsikan sebagai berikut: 1. Tujuan umum. Membentuk mubalgh mubaligh Indonesia yang berjiwa Islam. Pancasilais, bertaqwa dan mempunyai kemampuan bauk rohaniah maupun jasmaniah, mengamalkan ajaran Islam bagi kepentingan dan kebahagiaan hidup dirinya sendiri, keluarga, bangsa dan negara Indonesia. 2. Tujuan khusus. a. Membina suasana hidup keagamaan dalam pesantren sebaik mungkin sehingga berkesan pada anak didiknya (santri). b. Memberika pengertian keagamaan melalui pengajaran ilmu agama Islam. c. Mengembangkan sikap beragama melalui praktek – praktek ibadah. d. Mewujudkan ukhuwah Islamiyah dalam pondok pesantren dan sekitarnya. e. Memberikan pendidikan keterampilan, kesehatan dan olah raga pada anak didik. f. Mengusahakan terwujudnya segala fasilitas dalam pondok pesantren yang memungkinkan pencapaian tujuan umum tersebut. Tujuan pondok pesantren adalah membentuk kepribadian, menetapkan akhlak dan melengkapi denga pengetahuan. Mereka diharapkan setelah kembali ke kampung halamannya menempuh hidup sebagai muslim teladan yang memantulkan sosialisasi pesantren, serta mempromosikan, menyiarkan nilai – nilai dan gambaran kemasyarakatan Islam. Dengan demikian pondok pesantren sebagai salah satu lembaga keislaman diharapkan dapat membentuk kepribadian yang benar – benar Islam dengan indukato iman, taqwa, cakap melakukan ibadah, berakhlak mulia, dewasa jasmani dan rohani, serta bercita – cita dan berusaha untuk hidup bahagia di duna dan akhirat sesuai dengan agama Islam. b. Fungsi Pondok Pesantren. Fungsi dasar pondok pesantren mencakup lima aspek yaitu: 1). Pendidikan formal dibidang keagamaan dan kemasyarakatan melalui sistem sekolah dan kursus 2). Pelayanan masyarakat melalui kegiatan konsultasi, bimbingan dan pengembangan masyarakat. 3). Dakwah melalui pengajian umum dan khusus. 4). Penegembangan pemikiran keagamaan dan kemasyarakatan melalui majelis – majelis hukum agama kajian dan penyebaran informasi. 5). Pembentukan jaringan komunikasi eksternal yang bersifat antar golongan. 3. Bentuk dan Sistem Pengajaran Pondok Pesantren 1. Bentuk pondok Pesantren Adapun penyelenggaraan sistem pondok pesantren dan pengajaran ini berbeda antara satu pondok pesantren dengan pondok pesantren lainnya, dalam arti tidak ada keseragaman dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. Pada sebagian sistem penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran yang seperti ini semakin lama semakin berubah karena dipengaruhi oleh perkembangan pendidikan di tanah air, serta tuntutan dari masyarakat di lingkungan pondok pesantren itu sendiri dan sebagian pondok pesantren lagi tetap mempergunakan sistem pendidikan yang semula. 3. Sistem Pengajaran Pondok Pesantren Dalam perkembangan selanjutnya, metode yang dipergunakan di lingkungan pesantren setelah diberlakukannya sistem klasikal/madrasi terdapat beberapa penyasuaian – penyesuauan sesuai dengan tingkat kebutuhan yang diperlukan, yang meliputi: a. Metode tanya jawab b. Metode diskusi c. Metode muthala’ah/ricital d. Metode proyek e. Metode dialog f. Metode karyawisata g. Metode hafalan/verbalisme h. Metode sosiodrama i. Metode widyawisata j. Metode problem solving k. Metode Pemberian situasi l. Metode Reinforcemant m. Metode pembiasaan n. Metode percontohan tingkah laku o. Metode berdasarkan teori concsionisme p. Metode penyampaian melalui sistem modul. Adapun sistem pendidikan di pondok pesantren yaitu: 1). Tradisional Pondok pesantren meupakan lembaga gabung antara sistem pondok dan pesantren yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama Islam dengan sisitem bandong, sorogan atau wetonan dengan para santri disediakan pondokan ataupun merupakan santri kalong yang dalam istilah pondok modern memenuhi pendidikan non formal serta menyelenggarakan juga pendidikan formal bentuk madrasah bahkan sekolah umum dalam berbagai bentuk tingkatan dan aneka kejuruan menurut kebutuhan masyarakat masing – masing. Salah satu sarana yang efektif untuk membina dan mengembangkan manusiadalam masyarakat adalah pendidikan yang teratur dan rapi, berdaya guna dan berhasil guna. Maka pondok pesantren perlu diorganisasikan dan dikelola secara rapi, efektif dan efisien melalui sisten dan metode yang tepat Dalam sistem ini santri mempunyai kebebasan dengan memilih mata pelajarannya dan menentukan kehadiran tingkat pelajaran, sikap mengikuti pelajaran dan waktu beajar. Santri yang merasa puas dan cukup ilmunya akan meninggalkan pesantren untuk pulang ke kampung halamannya atau pergi belajar ke pondok lainuntuk menambah ilmunya dan pengalamannya. Dengan sistem klasikal ini maka pengajaran di pondok pesantren menjadi lebih jelas, baik tujuan maupun materi yang diberikan kepada santri serta dapat terprogram secara rapi dan tertib. Adapun uraian – uraiannya adalah sebagai berikut: a. Sistem Wetonan. Wetonan adalah metode kuliah, dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kiai yang menerangkan pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing – masing dan membuat catatan padanya. Kiai membacakan suatu kitab dalam waktu tertentu, dan santri membawa kitab yang sama, kemudian mendengarkan dan menyimak tentang bacaan kiai tersebut. Metode pengajaran ini adalah bebas sebab absensi santri tidak ada. Santri boleh datang boleh tidak,tidak ada pula sistem kenaikan kelas atau ujian. Apakah santri memahami yang dibaca kiai atau tidak, hal tersebut tidak bisa diketahui, dalam sistem ini dapat dikatakan bebas untuk belajar dan bebas tidak belajar. Seorang kiai duduk diantara santri – santrinya, sekelompok santri mengikuti kiai dalam membaca, menerjemahkan, menjelaskan dan mengulas kitab dalam bahasa Arab. Sekelompok santri itu disebut halaqoh. Setiap santri memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan (baik arti maupun keterangan) tentang buah fikiran atau kata – kata yang sulit. Untuk jawa barat sistem ini disebut bandongan, sedangkan di Sumatra dipakai istilah halqoh, sistem ini dikenal juga dengan sebutan balaghan. b. Sistem Sorogan Sorogan adalah santri menghadap kiai/guru seorang demi seorang dengan membaca kitab yang akan dipelajari. Kiainya membacakan pelajaran bahasa Arab itu kalimat demi kalimat kemudian menerjemahkannya, dan menerangkan maksudnya, santri menyimak dan mengesahkan dengan memberi catatan pada kitabnya untuk mensyahkan bahwa ilmu itutelah diberikan oleh kiai. Tata cara dalam sitem sorogan yaitu seorang santri menyodorkan sebuah kitab dihadapan kiai, kemudian kiai memberikan tuntuntan bagaimana cara membacanya, menhafalkannya, dan bila telah meningkat termasuk tentang terjemah dan tafsirnya lebih mendalam. Kitab – kitab yang dipakai dalam sistem sorogan adalah kitab gundul (tanpa harakat) untuk itu seorang santri dalam membaca memerlukan bimbingan guru yang dapat mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal santri itu dalam berbahasa Arab. c. Sistem bandongan Bandongan berarti mengikuti dan memperhatikan. Proses pengajarannya kiai membacakan kata – perkata, atau kalimat – perkalimat dan menerjemahkan serta dijelaskan arti maksud yang lebih jauh. Dalam pengajaran itu santri hanya mengikuti atau memperhatikan dengan menandainya menurut kode – kode tertentu apa yang dibaca kiai dalam kitabnya masing – masing. Tanda – tanda tersebut biasanya berasal dari bahasa jawa. 2). Pendidikan klasikal Dengan sistem pondok, kesempatan yang belum ada di kelas, dapat dilanjutkan di luar kelas dimana guru dan murid berada disuatu komplek. Bukan hanya persoalan –persoalan yang berhubungan denga pengajaran di kelas saja dapat dikerjakan dengan segera, melainkan juga kesulitan – kesulitan yang timbul di luar kelas dapat dimintakannya keterangan kepada guru atau teman lain yang berada di dalam asrama lain. Adapun sistem yang digunakan dalam sistem klasikal adalah sebagai berikut: a. Sistem strata Selain menggunakan sistem di atas juga menggunakan sistem strata atau tingkatan bagaimana uraian berikut: Pada tingkat rendah, pelajaran diberikan pada murid – murid seorang demi seorang dengan berganti – ganti. Diberikan oleh guru – guru bantuan dari mahasiswa di pesantren itu. Mula – mula guru membacakan matan kitab dalam bahasa Arab, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa daerah. Kemudian diterangkan maksudnya, setelah itu murid disuruh membaca dan mengulang pelajaran. Pada tingkat tinggi yang dihadiri tingkat mahasiswa, pelajaran diberikan dengan cara berhalaqoh oleh kiai guru besar. Caranya ialah dengan membaca matan kitab, kemudian menerjemahkannya kata demi katasesudah itu baru diterangkan. b. Sistem muhawaroh Muhawaroh adalah suatu kegiatan bercakap – cakap dengan berbahasa Arab yang diwajibkan oleh pesantren kepada santri selama mereka tinggal di pondok. Di beberapa pesantren muhadatsah diwajibkan setiap hari. Kemudian satu kali atau dua kali dalam seminggu digabungkan dalam latihan muhadloroh atau khitobah, yang bertujuan melatih keterampilan anak didik berpidato. Para santri harus mempelajari sendiri kitab yang ditunjuk kiai untuk memimpin kelas musyawarah seperti dalam seminar dan lebih banyak dalam bentuk tanya jawab, biasanya hampir semua duselenggarakan dengan menggunakan bahasa Arab dan merupakan latihan untuk menguji keterampilannya dalam menyadap sumber – sumber argumentasi dalam kitab – kitab Islam klasik sebelum menghadap kiai biasanya santri mengadakan diskusi terlebih dahulu dan menunjuk seseorang untuk menjadi juru bicara dalam menyampaikan kesimpulannya disodorkan oleh kiainya baru setelah itu diikuti oleh diskusi bebas. Mereka dinilai oleh kiai yang cukup matang untuk mengalih referensi, mempunyai keluasan bahan bacaan dan mampu menemukan dan menyelesaikan problem problem erutama menurut sistem yurisprudensi madzhab Syafi’i akan diwajibkan menjadi pengajar untuk kitab – kitab yang lebih tinggi. Sistem muhawaroh biasanya diterapkan untuk santri senior (tingkat tinggi), sebab dalam hal ini santri sudah cukup bekal untuk mengkaji kitab – kitab sebagai acuan untuk menyelesaikan permasalahan yang sekitarnya bisa diselesaikan melalui kitab – kitab sebagai dasar. c. Sistem mudhakaroh Sistem mudhakaroh merupakan suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik membahas masalah diniyah seperti ibadah dan aqidah serta maslah agama pada umumnya. Pada metode ini dibedakan menjadi dua tingkatna yakni dilakukan antar santri sebagai latihan memecahkan suatu masalah yang berpedoman pada kitab – kitab yang tersedia dan mudhakaroh yang berlangsung tersebut dipimpin oleh kiai. Dalam penerapan dua sistem ini (sistem klasikal dan non klasikal) terbagi menjadi dua kelompok yaitu: 1). Pesantren salafi tetap mengajarkan kitab – kitab klasik sebagai inti pendidikan pesantren. Sistem madrasah diterapkan untuk memudahkan metode sorogan yang dipakai dalam lembaga – lembaga bentuk lama, tanpa mengenal pelajaran umum. 2). Pesantren kholafi yaitu pesantren yang dimasukkan pelajaran umum dalam madrasah – madrasah yang dikembangkan atau membuka tipe – tipe sekolah umum dalam lingkungan pesantren. Dengan demikian dapatlah dipahami dan diketahui apa yang dianggap sebagai sistem pendidikan pesantren adalah sangat bervariasi, dengan pengertian tiap pesantren berbeda dengan pesantren yang lain. Hanya saja masing – masing mempunyai kelebihan dan keistimewaan tersendiri dan kesemuanya saling melengkapi. Adapun yang membedakan adalah keistimewaan sistemnya yang dimiliki oleh masing – masing pesantren tersebut. Pesantren salafi keistimewaan pengajarannya dengan menggunakan sistem ini santri akan lebih memahami kitab – kitab yang akan dipelajari. Sedangkan pesantren kholafi keistimewaan sistem engajarannya dengan menggunakan sistem strata, muhawaroh dan mudhakaroh. Karena dengan menggunkan sistem ini, wawasan keilmuan santri lebih luas, tidak hanya dalam lingkup kitab – kitab klasik saja. D. Mengembangkan Pendidikan Agama Islam Pendidikan Islam sebagai proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat. Pendidikan Islam mempunyai cakupan yang sama luasnya dengan pendidikan umum bahkan melebihinya. Karena pendidikan Islam juga membina dan mengembangkan pendidikan agama, dimana titik beratnya terletak pada internalisasi nilai iman, Islam dan ihsandalam pribadi manusia muslim yang berilmu pengetahuan luas. Dengan demikian, apa yang kita kenal dengan pendidikan agama Islam di negeri kita merupakan bagian dari pendidikan Islam. Tujuan utama dari pendidikan Islam ialah membina dan mendasari kehidupan anak didik dengan nilai – nilai agama sekaligus mengajarkan ilmu agama Islam. Sehingga ia mampu mengamalkan syariat Islam secara benar sesuai pengetahuan agama. Empat hal yang perlu menjadi perhatian bersama guna meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Indonesia, keempat hal tersebut sebagai berikut: 1. Peran Masyarakat dalam Peningkatan Kualitas Madrasah Pada artikel tentang problematika pendidikan Islam telah dipaparkan sejumlah fenomena penyelenggaraan pendidikan Islam dengan berbagai problematika yang melingkupinya. Namun hal ini bukan tanpa peluang dan potensi yang memungkinkan penyelenggaraan pendidikan bisa lebih bermutu. Oleh sebab itulah ilmu pendidikan termasuk pendidikan Islam hanya berada pada tataran idealistik belaka tanpa teruji di lapangan. Dengan sendirinya banyak kebijakan pendidikan di Indonesia bukan ditentukan oleh data dan informasi di lapangan, tetapi berdasarkan subyektivitas karena menggunakan epistema-epistema ilmu lainnya yang tidak relevan dengan kebutuhan peserta didik. Sejarah berdirinya madrasah seperti diketahui adalah lembaga pendidikan yang lahir dari masyarakat. Inisiatif dan kemandirian disatu pihak, kebersamaan dan partisipasi masyarakat dilain pihak merupakan ciri khas munculnya madrasah. Pengakuan pemerintah atas munculnya madrasah diejawantahkan dengan menegerikan madrasah. Sebenarnya dengan masuknya Pemerintah sebagai pemilik madrasah negeri justeru dapat mengekang prakarsa dan keterlibatan masyarakat. Madrasah yang pada awalnya lahir didasarkan pada kepemilikan lingkungan diakui sisi pemerintah. Sesuatu yang muncul atas prakarsa masyarakat (community based education) tidak perlu diambil alih Pemerintah. 2. Penguatan Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah dan Guru Pentingnya setiap lembaga pendidikan memiliki guru dan kepala sekolah yang berkualitas seharusnya sudah menjadi kesadaran kita bersama. Jika tujuan sistem pendidikan yang dirancang dan diarahkan untuk menciptakan siswa lulusan yang berkualitas dan berprestasi tinggi (higher student achievement), kita dengan dibantu data pendidikan tersedia seharusnya sudah dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang mampu mendukung/menopang pencapaian tujuan tersebut. Perdebatan di kalangan masyarakat yang peduli pendidikan tentang pentingnya guru yang efektif dalam menopang pencapaian tujuan pendidikan sudah lama berlangsung, dan bahkan sejumlah penelitian juga sudah banyak yang mengungkapkan tentang pengaruh guru berkualitas terhadap keberhasilan pembelajaran siswa. 3. Peningkatan Soft Skills Kepala Sekolah/Madrasah dan Guru Konsep kecerdasan emosional diwujud nyatakan dalam bentuk kompetensi emosional yang merupakan engine bagi pengembangan program-program pelatihan bersifat soft skills (SS). Kepiawaian seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain di tempat kerja dikerjakan dalam bentuk kerjasama yang efektif dan produktif. Sebagai kepala sekolah dan guru kepiawaian berinteraksi sangat penting, oleh karena itu pengembangan tenaga pendidikan kedepannya mesti mengkaitkan programnya dengan hal ini. Kecakapan pendukung atau SS tidak semata-mata berwujud kemampuan berkomunikasi secara langsung (verbal dan non verbal) dengan orang lain, namun juga berupa kemampuan menampilkan diri secara maksimal yang kemudian dapat "menular" kepada rekan sejawat, serta memberi kesan positif kepada orang lain yang berinteraksi kerja dengannya. Bahkan kekuatan SS niscaya bisa diperluas tidak hanya bermanfaat untuk dunia usaha, tetapi juga bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara termasuk di dalam mengelola dan menjalankan roda pemerintahan. 4. Penilaian Baku Kinerja Kepala Sekolah/Madrasah dan Guru Penilaian kinerja semacam ini akan mengukur dan menilai tingkat keberhasilan kegiatan guru/kepala sekolah tidak hanya dari sisi hasil (the what) tetapi juga cara (the how) memperoleh hasil yang diperoleh, dibuat di lembaran-lembaran terpisah (what & how). Proses dalam mencapai tujuan yang ditetapkan berkaitan dengan nilai-nilai etika dan moralitas sebagai tenaga pendidikan dalam meraih sasaran tujuan. Melalui sistem penilaian unjuk kerja guru dan kepala sekolah paling tidak kita akan mampu menilai seoramg guru atau kepala sekolah itu efektif, berhasil atau tidak, dapat diterima secara lebih obyektif, karena memiliki patokan yang disepakati bersama. Dengan demikian diharapkan guru/kepala sekolah akan bekerja keras berdasarkan acuan sistem penilaian unjuk kerja yang baku. Dengan begitu kerja guru dan kepala sekolah akan lebih terpantau dengan baik. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ( research ) adalah merupakan rangkaian kegiatan ilmiah dalam rangka memecahkan suatu masalah. Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka jenis penelitian penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif, karena peneliti menggambarkan atau melukiskan secara sitematis, faktual dan aktual mengenai fakta atau kejadian – kejadian terhadap kelompok manusia. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu gejala / suatu masyarakat tertentu. Dalam penelitian deskriptif biasanya harus diperkecil dan tingkat keyakinan harus maksimal. B. Kehadiran Peneliti Kedudukan seorang peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai perencana, analisis, pelaksana pengumpulan data dan penafsir pelapor hasil penelitian. Dalam hal ini, peneliti sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Penelitian tentang Strategi KH. Muhammad Khairuddin Dalam Meningkatkan Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Nurul Huda ini, penulis secara langsung hadir untuk mendapatkan data – data yang diperlukan, baik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan obyek yang diteliti. Penulis terus - menerus menggali data dalam keadaan yang tepat dan sesuai dengan kesempatan para informan. C. Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian ini adalah Pondok Pesantren Nurul Huda Jl. Raya Pabrian RT. 14 RW. 03 Telp: 081333904007 desa Sukonolo Bululawang Malang. Peneliti memilih pondok pesantren Nurul Huda ini berdasarkan beberapa alasan, yaitu: 1. Pondok pesantren Nurul Huda Sukonolo terletak di pertengahan kota namun bisa berkembang dengan pesat. Hal ini dikarenakan strategi yang cukup spektakuler dari seorang kiai. 2. Pembelajaran sangat ketat dan respon masyarakat sangat baik. D. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah subyek dari mana data diperoleh. Apabila peneliti menggunakan wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data tersebut responden, yaitu orang – orang yang merespon atau menjawab pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis atau lisan dan apabila peneliti menggunakan tekhnik observasi, maka sumber datanya bisa berupa benda, gerak atau proses sesuatu, serta apabila peneliti menggunakan observasi, maka dokumentasi atau catatanlah yang menjadi sumber data. Sedang isi catatan sebagai subyek penelitian atau variabel penelitian. Untuk menentukan sumber data dari kalangan siswa maupun guru, penulis menggunakan tekhnik purposive sampling atau sampel bertujuan yaitu mengambil subyek bukan berdasarkan atas strata, random atau daerah tetapi berdasarkan atas adanya tujuan tertentu. Sumber data dalam penelitian ini ada dua, yaitu: 1. Sumber data primer yaitu sumber data dimana peneliti memperoleh data secara langsung, dan yang menjadi data disini antara lain: pengasuh Pondok Pesantren, ustadz, pengurus, dan santri Podok Pesantren Nurul Huda. 2. Sumber data sekunder yaitu sumber dimana penelliti memperoleh data secara tidak langsung, data diperoleh dari data yang mempunyai hubungan dengan masalah yang diteliti atau sumber data pelengkap yang berfungsi melengkapi data – data primer, antara lain berupa kitab – kitab yang berkaitan dengan penelitian. E. Metode Pengumpulan Data Metode – metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1. Metode obsevasi partisipan (observasi participation). Metode observasi adalah teknik pengumpulan data dimana penyelidik mengadakan pengamatan secara langsung terhadap gejala – gejala yang dihadapi, baik pengamatan dilaksanakan dalam situasi sebenarnya maupun dilakukan situasi kegiatan yang khusus diadakan. Metode observasi partisipan adalah sebagai suatu cara mengumpulkan data melalui pengamatan indrawi, dengan melakukan pencatatan terhadap gejala – gejala yang terjadi pada objek penelitian serta peneliti ikut aktif berpartisipasi pada aktifitas yang sedang diamati. Observasi atau pengamatan sering dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan manusia atau keadaan, kondisi, dan situasi lainnya. Pengamatan bisa dilakukan terhadap orang, keadaan tertentu, kondisi tertentu, kegiatan – kegiatan tertentu, proses tertentu, dan sebagainya. Dengan mengadakan observasi secara langsung yang harus diobservasi setidaknya ada tiga elemen meliputi: a. Lokasi atau fisik tempat suatu situasi sosial itu berlangsung. b. Manusia – manusia pelaku atau posisi tertentu dan memainkan peranan – peranan tertentu; dan c. Kegiatan atau aktifitas para pelaku pada lokasi atau tempat berlangsungnya suatu situasi sosial. Metode ini digunakan untuk mempermudah penulis dalam mengenal lebih dekat mengenai objek yang akan diselidiki melalui pengamatan langsung tentang: a. Situasi dan kondisi Pondok Pesantren Nurul Huda. b. Sarana prasarana pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Huda. c. Kegiatan belajar mengajar. 2. Metode Wawancara Mendalam (in-depth interview). Metode interview atau wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab antara penanya yang disebut pewawancara dengan penjawab yang disebut responden atau informan. Jadi, metode interview adalah suatu percakapan yang diarahkan pada masalah tertentu dan ini merupakan proses tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap – hadapan secara fisik. Wawancara mendalam adalah tanya jawab kepada informan secara alamiah, tak berstruktur dan mendalam. Metode ini untuk mencari data tentang informasi biografi K.H. Muhammad Khairuddin, strategi yang ditempuh K.H. Muhammad Khairuddin, serta solusi mengatasi hambatan yang dihadapinya. Adapun key informan dalam in-depth interview antara lain: a. K.H. Muhammad Khairuddin tentang strategi yang diaplikasikan hambatan serta faktor pendukung dalam meningkatkan perkembangan pendidikan Islam. b. Ahmad Husain selaku pungurus pondok pesantren Nurul Huda memperoleh data tentang keadaan dan perkembangan Pondok Pesantren. c. M. Choirul Anam selaku ustadz di Pondok Pesantren. Data yang diperoleh perkembangan Pondok pesantren Nurul Huda Sukonolo. d. M. Nizar selaku teman terdekat K.H Muhammad Khairuddin. Data yang diperoleh adalah strategi K.H. Muhammad Khairuddin, hambatan serta faktor pendukung dalam meningkatkan pendidikan Islam di Pondok Pesantren Nurul Huda. 3. Metode Dokumentasi. Metode ini adalah suatu cara mengumpulkan data yang dilakukan dengan cara menganalisis data – data tertulis dalam dokumen – dokumen seperti catatan harian, transkip, surat kabar, buku, dan media cetak lainnya. Jadi, metode dokumenter adalah suatu penyelidikanyang ditujukan pada penguraian dan penjelasan apa yang telah lalu melalui sumber – sumber dokumenter. Metode ini penulis gunakan untuk mencari data tentang perkembangan pondok pesantren Nurul Huda. 4. Metode Analisis Data. Metode analisis data dalam menganalisis data, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif yang terdiri dari tiga kegiatan. Yaitu pengumpulan data dan sekaligus reduksi data, penyajian dan pemeriksaan kesimpulan. Dalam penelitian ini, data berwujud kalimat yang dinyatakan dalam bentuk narasi bersifat deskriptif mengenai situasi kegiatan pernyataan dan perilaku yang telah dikumpulkan dalam catatan lapangan dan transkip wawancara. a. Reduksi Data (Data Reduktion). Reduksi data adalah menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan pengorganisasian sehingga data terpilah – pilah untuk mendapatkan keabsahan data. b. Penyajian Data (data display). Penyajian data adalah proses penusunan informasi yang komplek dalam bentuk sistematis sehingga menjadi sederhana, selektif serta dapat dipahami maknanya. c. Penarikan Kesimpulan (conclusing drawing). Penarikan kesimpulan adalah langkah akhir setelah melalui proses analisis data, baik dalam pengumpulan data maupun sebelumnya agar makna yang muncul data diuji kebenaran, kekuatan dan kecocokan yang merupakan validitas data. F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Agar data yang kita kumpukan benar maka diperlukan metode untuk mengetahui data itu benar atau salah yaitu : 1. Perpanjangan Keikutsertaan. Perpanjangan keikutsertaan adalah peneliti tinggal dilapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data. Jadi, peneliti dalam hal ini ikut berpartisipasi di lokasi yang diteleti guna mendapatkan data yang akurat. 2. Ketekunan Pengamatan. Ketekunanan pengamatan adalah mencari secara konsiten interpretasi dengan berbagai cara dalam kaitan dengan proses analisis yang konstan atau tentative. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian berulang – ulang dalam rangka mendapatkan data yang spektakuler. 3. Triangulasi. Triangulasi adalah tekhnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Triangulasi yang dipakaipeneliti antara lain: a. Triangulasi data, yaitu dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, data hasil wawancara dengan dokumentasi dan data hasil pengamatan dengan dokumentasi. Hasil perbandingan ini diharapkan dapat menyatukan persepsi atas data yang diperoleh. b. Triangulasi metode, yaitu dengan cara mencari data lain tentang sebuah fenomena yang diperoleh dengan menggunakan metode yang berbeda yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Kemudian hasil yang diperoleh dengan menggunakan metode ini dibandingkan dan disimpulkan sehingga memperoleh data yang bisa dipercaya. c. Triangulasi sumber, yaitu dengan cara membandingkan kebenaran suatu fenomena berdasarkan data yang diperoleh peneliti, baik dilihat dari dimensi waktu maupun sumber yang lain. 4. Pengecekan Teman Sejawat. Pengecekan sejawat adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan jalan mengumpulkan rekan – rekan sebaya, yang memiliki pengetahuan umum yang sama tentang apa yang sedang diteliti, sehingga bersama mereka peneliti dapat me-review persepsi, pandangan dan analisis yang sedang dilakukan. BAB IV HASIL PENELITIAN A. Penyajian Data 1. Strategi KH Muhammad Khairuddin dalam Mengembangkan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Strategi dalam perkembangan pendidikan dan pengajaran pondok pesantren erat kaitannya dengan tipologi pondok pesantren sebagaimana yang dituangkan dalam ciri – ciri yang telah dituangkan sebelumnya. Kualitas kiai menentukan berhasil tidaknya organisasi itu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan efisien dan ekonomis. Tugas terpenting dan terutama dari seorang pimpinan ialah memimpin orang, memimpin pelaksanaan pekerjaan dan menggerakkan sumber – sumber material. Sperti yang diungkapkan oleh KH. Muhammad Khairuddin, yaitu: “Saya memakai strategi dimana pembelajaran di pondok pesantren Nurul Huda ini masih menggunakan metode - metode yang lama, dan tidak meninggalkannya sehingga dalam pembelajarannya mudah dilaksanakan dan banyak yang dilakukan berhasil dalam pembinaannya mulai dari hafalan, setoran baca kitab kuning, nahwu, shorof dan yang terpenting adalah penekanan masalah akhlakul karimah.” (Hasil interview dengan KH. Muhammad Khairuddin di dalem/kediamannya pada tanggal 10 Januari 2013 pukul 20.30 WIB). Santri diharapkan untuk menjadi orang yang berguna baik dari segi agama dan keilmuan yang dimilikinya sehingga menjadi santri yang berkompeten oleh karena itu sistem pendidikan di pesantren mengadopsi nilai – nilai yang berkembang di masyarakat. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh KH. Muhammad Khairuddin yaitu: …dalam mengembangkan sebuah lembaga pendidikan, seorang pemimpin harus mempunyai kepercayaan diri dalam menjalankan tugasnya sebagai pimpinan lembaga. Karena dengan tidak adanya kepercayaan diri tersebut maka sebuah lembaga tidak akan menjadi maju atau berkenbang. (wawancara dengan KH. Muhammad Khairuddin pada hari senin 15 Januari 2013). Hal yang sama juga disampaikan oleh KH. Muhammad Khairuddin: Awal timbulnya atau munculnya metode sorogan di pondok pesantren Nurul Huda adalah dikarenakan banyaknya prestasi santri yang menurun. Hal ini terlihat dari hasil tamrin (evaluasi) di pondok. Maka dari itu untuk mengatasi hal itu dibutuhkan suatu metode, yang mana metode ini benar – benar akurat dalam mengatasi permasalahan itu. Maka dipilihlah sorogan sebagai salah satu metode untuk mengatasi hal ini. Dan alhamduillah melalui metode inilah kini prestasi para santri mulai membaik.(Hasil interview dengan KH. Muhammad Khairuddin pada tanggal 18 Januari 2013 pukul 10.00 WIB). Hal senada juga disampaikan oleh Ahamad Husain selaku pengurus pondok pesantren Nurul Huda: Seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari pendidikan yang tinggi saja, akan tetapi juga berdasarkan dengan pengetahuan yang luas karena dengan pengetahuan tersebut seorang pemimpin akan mudah menyampaikan karena punya wawasan yang luas. (Wawancara dengan Ahmad Husain di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 15 April 2013) Sebagai seorang pemimpin, kiai dituntut untuk mempunyai daya kerja (stamina) dan mempunyai keantusiasan yang besar dalam menjalankan tugasnya, karena masalah yang dihadapi oleh orang yang biasa pada umumnya lebih kecil jika dibanding dengan masalah yang dihadapi oleh seorang yang menduduki jabatan pemimpin. Seperti yang dinyatakan oleh Ach Husain yaitu: Tokoh sentral harus mampu membangkitkan gairah terhadap orang yang diajak melakukan kebaikan. Karena kalau tidak demikian identitas dakwah akan melemah. (Wawancara dengan Ahmad Husain di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 16 April 2013). Ungkapan tersebut diperkuat oleh beliau dalam wawancaranya: Hal senada juaga diungkapakan oleh Ahmad Husain dalam wawancaranya, yaitu: Keberanian seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dapat membawa sebuah lembaga menjadi maju seperti yang sudah kita alami saat ini. (Wawancara dengan Ahmad Husain di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 17 januari 2013). Dalam memakmurkan sebuah pesantren, kiai berperilaku baik terhadap masayarakat sekitar dalam rangka menarik simpati masyarakat sekaligus sebagai panutan masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh M. Choirul selaku Ustadz pondok pesantren Nurul Huda: Seorang pemimpin adalah panutan bagi rakyat, sedang seorang kiai sebagai imam bagi santri dan masyarakatnya. Sebagai seorang pemimpin pesantren beliau selalu memberikan contoh yang baik bagi santri dan masyarakat, baik berupa ucapan ataupun perbuatan agar setiap apa yang ia sampaikan mendapati simpati. Apabila simpati sudah didapatkan maka dengan mudah beliau mengajak mereka untuk mengamalkan ibadah kepada Allah SWT. (Hasil wawancara dengan M. Choirul Anam di pondok pesantren pada tanggal 19 Januari pukul 17.00 WIB). Sebagai tokoh sentral, kiai dalam kegiatannya hendaknya memiliki suatu rencana yang tersusun rapi agar setiap kegiatan dakwah yang dilakukan dapat terealisasikan dengan tepat dan benar. Seperti yang diungkapkan oleh M. Choirul Anam: Dalam melakukan suatu kegiatan, kiai selalu melakukannya dengan cara musyawarah yang melibatkan unsur pondok pesantren, agar kegiatan dakwah nantinya bisa menyentuh semua lapisan masyarakat. (Hasil wawancara dengan M. Choirul Anam di pondok pesantren pada tanggal 15 April pukul 17.00 WIB). Hal ini juga diperkuat oleh ungkapan M. Choirul Anam: Dakwah yang dilakukan oleh kiai dilakukan dengan tiga tempat, yaitu pondok pesantren, masjid, dan masyarakat. Di pesantren materi penyalurannya melalui kajian kitab kuning, istighotsah yang dilaksanakan setiap sebulan sekali yang dilaksanakan di Masjid dan yasinan, tahlil dan manaqiban dilaksanakan di masyarakat. (Hasil wawancara dengan M. Choirul Anam di pondok pesantren pada tanggal 17 April pukul 17.00 WIB). Seorang pimpinan di dalam masyarakat hendaknya mampu bertindak sebagai penasehat, mempunyai kemampuan untuk bergaul dan yang terpenting adalah tidak menganakemaskan dan menganaktirika suatu bagian dalam masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat salah satu informan yang mengatakan: Dalam melakukan perkembangan pondok pesantren kiai merasa nyaman dengan tugas – tugasnya. Terlebih lagi beliau memiliki kemampuan bergaul ramah, mampu menghayati dan memahami sikap dan harapan masyarakat, serta tidak pandang bulu untuk melakukan pergaulan. (Hasil wawancara dengan M. Nizar di rumahnya pada tanggal 1 April pukul 17.00 WIB). Hal ini diperkuat oleh pernyataan M. Nizar: Seorang kiai di pondok pesantren Nurul Huda ini apabila dalam mengambil sebuah tindakan yang berhubungan dengan lembaga selalu bersikap obyektif, lunak, dan berani mengakui kesalahan yang diperbuatnya. (Hasil wawancara dengan M. Nizar di rumahnya pada tanggal 7 April 2013). Hal senada juga di ungkapkan oleh M. Nizar, yaitu Kiai dalam mendidik santrinya selalu diarahkan pada pengembangan potensi, yaitu pembinaan akhlaqul karimah, kreativitas santri serta tidak melupakan kegiatan seni baca al – Qur’an. (Hasil wawancara dengan M. Nizar di rumahnya pada tanggal 10 April 2013). Sudah menjadi fungsi dari pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan, maka disamping pondok pesantren juga menyelenggarakan proses belajar – mengajar, juga terdapat kegiatan kegiatan keagamaan lainnya yang mengikut sertakan masyarakat, dalam pengembangan pendidikan Islam di masyarakat terdapat beberapa dakwah, yaitu: a. Dakwah billisan. Dakwah billisan adalah dakwah yang disampaikan melalui ceramah – ceramah dan anjuran untuk selalu mengerjakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Hal ini disampaikan oleh pengurus pondok pesantren Nurul Huda, yang mengatakan: Setiap hari jum’at beliau menghadiri rutinan muslimatan dan menyampaikan tausyiah Dalam tausiyahnya baliau selalu berpesan kepada muslimat agar jangan sampai meninggalkan shalat serta dahulukanlah akhlakul karimah. Hal ini terus berlangsung hingga saat ini.(Hasil wawancara dengan Ahmad Husain di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 12 Januari 2013 pukul 12.45). Sebagaimana pondok pesantren lain, pondok pesantren Nurul Huda mengadakan haflah akhirus – sanah (imtihan). Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat. Seperti yang telah diungkapkan oleh Ahmad Husain, yaitu: Biasanya setiap tahun kami mengadakan haflah akhirus – sanah sekaligus pengajian umum dan seluruh lapisan masyarakat Sukonolo diundang dan merekapun menghadirinya lebih – lebih wali santri diharuskan menghadirinya. (Hasil interview dengan pengurus pondok Ahmad Husain pada tanggal 15 Desember 2012 pukul 21.00 WIB). Peringatan hari besar juga digunakan sebagai sarana pengembangan pendidikan Islam sebagai mana yang dilakukan oleh pengasuh pondok pesantren Nurul Huda ini.adapun kesempatan pengembangan pendidikan Islam seperti yang telah disampaikan oleh humas pondok pesantren Nurul Huda, yaitu: .....pada peringatan tersebut misalnya Mauludan KH. Muhammad Khairuddin melibatkan santri dan masyarakat semua berjalaan bersama – sama dan pada waktu itu beliau memberikan wejangan walaupun hanya sebentar. (Hasil interview dengan M. Nizar di rumahnya pada tanggal 13 Januari 2013 pukul 12.00). b. Dakwah bilhal Dalam pelaksanaan dakwah tidak cukup hanya dengan billisan saja, karena hal tersebut manfaatnya kurang menyentuh terhadap sasaran dakwah. Untuk menunjang dakwah billisan maka harus diperkuat dengan dakwah bilhal yaitu dakwah dengan perbuatan atau tingkah laku agar kegiatan dakwah tersebut lebih kelihatan nyata. Dakwah bilhal yang dilakukan oleh KH. Muhammad Khairuddin tercermin sebagai berikut: 1). Melalui pribadi Manusia merupakan makhluk sosial yang tak dapat berkembang tanpa orang lain, atinya manusia butuh sosial dengan orang lain agar bisa dikenal dan mengenal orang lain. hal inilah yang membuat manusia melakukan hubungan sosial. Seperti yang dikatakan oleh M. Choirul Anam dalam wawancaranya, yaitu: Menurut saya, KH. Muhammad Khairuddin dalam kesehari – hariannya adalah orang yang berpenampilan sederhana, beliau sangat arif dan bijaksana, setiap ada permasalahan di masyarakat beliau selalu mengajak tokoh – tokoh masyarakat untuk bermusyawarah termasuk saya. Setiap keputusan yang ia ambil hampir tidak pernah ada pertentangan di masyarakat. Ia tidak pernah membedakan antara yang miskin, kaya, berpendidikan ataupun tidak ia selalu berhubungan baik dengan mereka. Ia selalu berbicara halus, sopan dan bersahaja sehingga masyarakat bisa berhubungan dengannya selalu merasa damai dan menyenangkan.(Hasil wawancara dengan M. Choirul Anam pada tanggal 17 Januari pukul 14.00 WIB). 2) Melalui keluarga Keluarga adalah suatu kesatuan yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak. Dalam dakwah keluarga merupakan satu – satunya media dakwah yang ada di lingkungan masyarakat, apabila keluarga baik, maka bisa jadi masyarakat juga akan baik karena keluarga adalah cerminan masyarakat. Hal ini diungkapkan dalam wawancaranya, yaitu: Keluarga saya adalah yang utama dalam menyiarkan dakwah Islam melalui pesantren. Sebab keluarga saya adalah cermin bagi masyarakat untuk dijadikan panutan.saya membiasakan anak saya supaya rajin shalat, puasa, bertingkah laku baik, berpakaian rapi dan sopan. Sehingga aqidah amaliah keluarga menjadikuat dan baik. Inilah nantinya yang dapat mempengaruhimasyarakat bahwa Islam itu agama yang baik yang dapat memberikan uswatun hasanah bagi para pengikutnya. (Hasil interview dengan KH. Muhammad Khairuddin di dalem/kediamannya pada tanggal 11 April 2013). 3). Melalui pribadi santri Perilaku santri adalah sebuah cerminan dari keberhasilan suatu pondok pesantren. Dalam mendidik santrinya di pondok pesantren Nurul Huda dakwah juga juga dilakukan dan dicerminkan melalui kepribadian santrinya. Adapun ungkapannya tertuang dalam ungkapan beliau yang mengatakan: Agar santri data berprilaku dengan baik maka pesantre membuat undang – undang bagi santri yang harus ditaati, seperti bahasa yang halus, berpakaian yang sopan, selalu memakai kopyah, tidak boleh pakai celana apabila keluar pesantren, itu adalah salah satu cara memdidik santri sehingga santri apabila berada di luar lingkungan pesantren akan menjadi panutan masyarakat. Kepribadian sntri itu sendiri harus ditanamkan sedini mungkin. (Hasil interview dengan KH. Muhammad Khairuddin di dalem/kediamannya pada tanggal 11 April 2013). c. Bil hikmah Hikmah adalah mengetahui yang benar dan mengamalkannya. Metode ini dilakukan dengan cara pendekatan rasional filosofis dan biasanya diterpkan kepada kelompok cendikiawan yang tidak mudah menerima kebenaran begitu saja, sebelum melalui proses pemikiran dan perenungan yang mendalam. Hal ini dinyatakan oleh pengrus pondok pesantren Nurul Huda dalam wawancaranya, yang mengatakan: Kegiatan pondok pesantren Nurul Huda sangat dekat dengan masyarakat, karena pada setiap pagi hari setelah shalat shubuh pagi kiai mengadakan pengajian kitab kuning. Pembahasannya juga beragam, mengkaji tentang ilmu sullamut tufiq, mabadu’ul fiqhiyah, dan hal – hal yang berkenaan dengan ibadah sehari – hari. (Hasil interview dengan Ahmad Husain di rumahnya pada hari sabtu 13 April 2013). d. Mau’idzatul hasanah Mau’idzatul hasanah adalah pembicaraan dengan ibarat yang bermanfaat dan memberikan kepuasan bathiniyah sehingga orang yang diaja bicara itu mengerti tentang apa yang dibicarakan. Metode ini diterapkan kepada kelompok awam yang dalam diri mereka tertanam keimanan, namun mereka belum banyak mengerti tentang Islam, disini kiai bertugas hanya menyampaikan pengetahuan tentang Islam sebagai pengembangan keimanan kaum awam sehingga menjadi mengerti dan jelas tentang Islam. Hal ini dibuktikan oleh wawancara M. Nizar selaku humas di pondok pesantren Nurul Huda, yang mengatakan: Setiap hari kamis saya selalu ikut yasinan bersama warga. Dimana kegiatan ini bergiliran dalam pelaksanaannya. Disinilah KH. Muhammad Khairuddin memberikan siraman hati sedikit demi sedikit. (Hasil interview dengan M. Nizar pada hari senin 4 Maret 2013). e. Mujadalah metode ini dipergunakan untuk orang – orang yang tidak mempercayai agama Islam sehingga kepada mereka perlu adu argumentasi dengan jalan melakukan kajian komperatif untuk mewujudkan kebenaran. 2. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat KH. Muhammad Khairuddin dalam Meningkatkan Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Nurul Huda Sukonolo. a. Faktor pendukung Masyarakat Sukonolo mempunyai hubungan erat dengan KH. Muhammad Khairuddin yang dianggap sebagai sesepuh masyarakat desa yang selalu bersama – sama dengan warga masyarakat, baik dalam bidang agama, pendidikan maupun bidang – bidang lainnya. Sebagai pemimpin pondok pesantren tentunya beliau juga berperan dalam mengembangkan pendidikan Islam di desa Sukonolo. Adapun peluang yang bisa diarapkan oleh pondok pesantren Nurul Huda sebagaimana wawancara peneliti dengan KH. Muhammad Khairuddin di pondok pesantren Nurul Huda sebagai berikut: Modal dasar yang dimiliki pondok pesantren Nurul Huda adalah penduduk desa ini yang mayoritas beragama Islam. Inilah peluang yang sangat besar bagi terwujudnya dakwah dalam mempengaruhi pola kehidupan keagamaan masyarakat dari yang sering melakukan maksiat sampai menjadi masyarakat yang taat terhadap perintah agama Islam. (Hasil interview dengan KH. Muhammad Khairuddin pada tanggal 14 Februari 2013 pukul 16.30). Hal tersebut diperkuat oleh ungkapannya, yaitu: Pada umumnya masyarakat desa Sukonolo adalah masyarakat yang masih memegang teguh budaya dan pola pikir yang masih paternalistik, yaitu dimana dalam bertindak dan bersikap masih sangat dipengaruhi otoritas yang masih dianggap sesepuh dan dipertuakan didalamnya, seperti kiai, tokoh masyarakat, dan tokoh pemerintah. Dalam rangka mengembangkan pendidikan Islam kondisi tersebut adalah modal dasar yang sangat besar nilainya bagi pondok pesantren untuk melakukan aktifitas dakwahnya karena dengan demikian msyarakat dengan mudah dipengaruhi dan diajak untuk menjalankan keagamaan dengan baik. (hasil interview dengan KH. Muhammad Khairuddin pada tanggal 1 April 2013). Hal senada juga diungkapkan oleh KH. Muhammad Khairuddin, yaitu: Peluang dari pondok pesantren ini adalah letak yang berdekatan dengan MI dan MTs sehingga siswa yang mengaji dipondok kebanyakan mayoritas siswa bermukim di pondok pesantren ini inilah kesempatan besar untuk mengembangkan pondok pesantren. (hasil interview dengan KH. Muhammad Khairuddin pada tanggal 19 April 2013). Hubungan antara tokoh sentral dengan masyarakat sangatlah penting dalam rangka meningktkan dan mengembangkan pondok pesantren agar sesuai dengan keinginan masyarakat. Hal ini sebagaimana yang telah katakan oleh salah satu pengurus pondok pesantren Nurul Huda adalah sebagai berikut: Kiai selalu mengadakan pendekatan terhadap masyarakat, baik dalam hal pergaulan, acara keagamaan atau acara – acara lainnya yang semua itu bisa berdampak positif bagi pondok pesantren. (hasil interview dengan Ahmad Husain selaku pengurus pondok pesantrren di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 1 April 2013). Hal ini diperkuat oleh ungkapan Ahmad Husain, yaitu: Pondok pesantren ini sangat dekat dengan MI dan MTs Al – Hidayah. Hal ini menjadi peluang dasar bagi perkembangan pondok pesantren Nurul Huda, apalagi KH. Muhammad Khiruddi adalah salah satu pengurus MTs Al – Hidayah. Ini adalah peluang basar bagi pondok pesantren ini. (hasil interview dengan Ahmad Husain pada tanggal 9 April 2013). Hal senada juga disampaikan oleh Ahmad Husain dalam wawancaranya, yaitu: Selama ini, hampir semua dewan guru MTs Al – Hidayah sangat patuh terhadap apa yang dikatakan oleh KH. Muhammad Khairuddin karena mereka menganggap beliau adalah tokoh sentral yang patut dihargai ilmu – ilmunya. (Hasil interview dengan Ahmad Husain pada tanggal 19 April 2013). Tidak beda jauh dengan kiai pada umumnya, disamping sebagai pengajar, pembimbing, pendidik serta guru, KH. Muhammad Khairuddin juga sebagai tabib. Yang mana hal ini juga beliau oergunakan untuk kelestarian dan syiarnya pondok pesantren. Seperti yang telah diungkapkan oleh salah seorang ustadz di pondok pesantren Nurul Huda, yaitu: …tidak sedikit orang yang menjadi pasien dari KH. Muhammad Khairuddin, khususnya daerah – daerah terpencil suatu contoh saja di Desa Pringgodani. Mayoritas masyarakat ini apabila terkena penyakit larinya ke beliau. Hal ini beliau pergunakan untuk mengembangkan pondok pesantren dengan menarik anak – anak mereka. (Hasil interview dengan M Choirul Anam pada tanggal 1 April 2013). Hal ini diperkuat oleh wawancara dengan M. Choirul Anam yang mengatakan: Ditengah – tengah kesibukannya menyempatkan dirinya untuk berkunjung ke rumah orang – orang yang pernah bertamu dan berobat kepada beliau, beliau bershilatur rahim sekaligus mengarahkan anak – anak mereka supaya dipondokkan ke pondok pesantren Nurul Huda. (hasil interview dengan M Choirul Anam pada tanggal 9 April 2013). Sunan kalijaga mendakwahkan Islam melalui kesenian. Beliau mengajak masyarakat melalui pertunjukan wayang kulit yang pada akhirnya beliau memasukkan masyarakat jawa kedalam agama yang diridloi Allah yakni agama Islam. Fenomena demikian juga diterapkan oleh KH. Muhammad Khairuddin seperti yang diungkapkan oleh salah seorang ustadz di pondok pesantren Nurul Huda, yaitu: Mulai dari awal berdirinya pondok pesantren Nurul Huda ini, terdapat sebuah kesenian Islami yaitu tebang jidor, yang dalam hal ini KH. Muhammad Khairuddin mempergunakannya sebagai sarana untuk mengembangkan pondok pesantren karena hal semacam ini merupakan kesempatan sekaligus peluang untuk memakmurkan dan mengembangkan pondok pesantren ini. (hasil interview dengan M Choirul Anam pada tanggal 18 April 2013). Peluang yang bisa dimiliki pondok pesantren Nurul Huda sebagaimana wawancara peneliti dengan M. Nizar selaku humas dirumahnya sebagai berikut: Peluang emas yang dimiliki oleh KH. Muhammad Khairuddin adalah kepercayaan masyarakt terhadap beliau. Karena hal seperti itu ibarat orang yang ngefans pada seorang artis yang selalu mengikuti gerak – geriknya dan mematuhi perkataanya. (hasil interview dengan M. Nizar pada tanggal 6 April 2013). Hal ini diperkuat oleh ungkapan M. Nizar dalam wawancaranya, yaitu: Disamping ia sebagai tokoh sentral di Desa Sukonolo ini, sang istripun juga sebagai pemimpin di jam’yah muslimatan setiap hari jum’at. Ini adalah kesempatan dengan melibatkan istri beliau melalui ajakan kepada muslimat lainnya. Hal ini adalah kesempatan yang jarang sekali orang mempergunakannya. (Hasil interview dengan M. Nizar pada tanggal 9 April 2013). Hal senada juga diungkapkan oleh M. Nizar mengenai peluang kiai dalam mengembangkan pondok pesantren dalam wawancaranya, yaitu: Peluang terbesar yang dimiliki KH. Muhammad Khairuddin adalah masyarakat yang masih memegang budaya lama yakni memulyakan seorang kiai. (Hasil interview dengan M. Nizar pada tanggal 18 April 2013). b. Faktor penghambat Hasil yang dicapai dalam rangka pengembangan keagamaan masyarakat serta untuk mencapai cita - cita yang diharapkan pondok pesantren Nurul Huda selalu menengok kedepan. Dalam era globalisasi seperti sekarang ini pondok pesantren khususnya pondok pesantren Nurul Huda Sukonolo masih konsisten untuk mempertahankan pengajaran kitab – kitab Islam klasik (kitab kuning). Sesuai dengan fungsinya pondik pesantren harus tetap berada di tengah – tengah masyarakat untuk selalu mengadakan perubahan yang baik bagi masyarakat di sekitarnya dalam setiap perkembangannya. Dan memberi dasar – dasar wawasan buat mereka dalam masalah – masalah prinsip khususnya masalah agama. Seperti yang telah disampaikan oleh KH. Muhammad Khairuddin dalam wawancaranya, yaitu: Tantangan terbesar yang dihadapi KH. Muhammad Khairuddin adalah derasnya arus modernisasi globalisas yang membawa nilai – nilai baru yang tidak sesuai dengan kaidah – kaidah agama Islam yang mempengaruhi prilaku, moralitas dan ideologi masyarakat. Misalnya mengajarkan individualisme dan persaingan hidup yang tidak sehat, hal ini nantinya akan menimbulkan gejolak sosial dalam kehidupan masyarakat. Budaya sopan santun, gotong royong, dan menghormati orang tua serta guru nyaris sirna. Dalam banyak kasus bahkan tidak sedikit murid melawan guru, anak melawan orang tua. Dan yang paling menyolok sekali adalah cara berpakaian masyarakat banyak sudah tidak sesuai dengan tuntunan agama sehingga banyak mengundang maksiat. (Hasil wawancara dengan KH. Muhammad Kharuddin di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 01 Februari 2013). Hal ini diperkuat oleh ungkapannya, yaitu: Meskipun penduduk disini penduduk Desa dan masih memegang kebudayaan lama, tapi sangat mungkin generasi baru mengenai kebudayaan, gaya hidup mereka dipengaruhi oleh gaya hidup kota. Hal ini dikarenakan letak Desa ini yang berada di tengah – tengah kota yang tidak menutup kemungkinan pakaian modern, rok mini, kesopanan yang akan menjadi PR terberat bagi saya untuk dakwah dan mengembangkan pondok pesantren. (hasil wawancara dengan KH. Muhammad Kharuddin di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 2 Maret 2013). Hambatan kiai dalam mengembangkan pondok pesantren juga diungkapkan oleh KH. Muhammad Khairuddin dalam wawancaranya: Dalam melaksanakan pengembangan pondok pesantren terdapat masalah kecil yang bisa berdampak sangat besar, yaitu mayoritas orang tua di Desa Sukonolo ini memberikan kesempatan kepada anaknya untuk menggunakan handphone meskipun anaknya belum cukup umur, suatu contoh saja anak SD kelas 4. Hal ini kalau tidak ada control yang extra bisa berakibat terjerumusnya nilai – nilai moral generasi penerus kita. (Hasil wawancara dengan KH. Muhammad Kharuddin di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 19 April 2013). Ibarat barang yang diperdagangkan, agama Islam tidak akan terjual apabila pedagang dalam hal ini juru dakwah (kiai) tidak pandai – pandai menarik perhatian masyarakat di sekitarnya. Dengan kesabaran, ketekunan kiai Muhammad Khairuddin melakukan perubahan terhadap masyarakat Sukonolo setahap demi setahap sampai akhirnya pondok pesantren Nurul Huda mendapat simpati dari semua lapisan masyarakat. Seperti fenomena yang tidak asing lagi, yaitu ketika seseorang berada di lingkungan yang berbeda bisa jadi dia mengikuti kebudayaan – kebudayaan barunya. Seperti yang telah diungkapkan oleh Ahamad Husain selaku ustadz di pondok pesantren Nurul Huda Sukonolo yang mengatakan: Biasanya setelah libur panjang, kebanyakan santri sudah mulai berubah gaya hidupnya, mulai merosot akhlaknya. Hal ini dipengaruhi gaya hidup yang ada di lingkungannya masing – masing. (Hasil wawancara dengan Ahmad Husain di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 01 Februari 2013). Disisi lain Ahmad Husain mengatakan dalam wawancaranya, yaitu: Meskipun ini adalah pondok pesantren, tapi 50% ada santri yang tidak tinggal di pondok pesantren ini, mereka hanya mengaji saja. Santri seperti ini bisa berpengaruh terhadap kebudayaan santri di pondok pesantren karena mereka membawa kebudayaan luar kedalam pondok pesantren. (Hasil wawancara dengan Ahmad Husain di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 09 April 2013). Hal ini diperkuat oleh Ahmad Husain dalam wawancaranya, yaitu: … ada juga sebagian santri pondok pesantren ini, yang berkali – kali kiai melarang menggunakan handphone. Tapi mereka menggunakannya secara sembunyi – sembunyi. (Hasil wawancara dengan Ahmad Husain di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 19 April 2013). Pemikiran masyarakat dizaman sekarang ini dipengaruhi oleh pendidikan yang berujung ke jenjang karier dan pekerjaan sehingga pendidikan menurut mereka merupakan suatu bahan untuk memperoleh suatu pekerjaan. Seperti ungkapan yang disampaikan oleh M. Choirul Anam dalam wawancaranya, yaitu: Mayoritas pemikiran masyarakat di Desa ini dipengaruhi oleh pemikiran yang yang mementingkan pendidikan umum dan mengabaikan kepentingan agama, mereka beranggapan dengan pendidikan umum anak – anak mereka akan memperoleh pekerjaan yang mereka harapkan. Hal ini butuh perhatian khusus untuk mengarahkan pemikiran tersebut. (Hasil wawancara dengan M. Choirul Anam di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 9 April 2013). Hal ini diperkuat oleh ungkapan M. Choirul Anam yang menyatakan: Mereka lebih cenderung menyekolahkan anak – anak mereka ke sekolah negeri. Kalau demikan yang terjadi itu masih belum seberapa, yang lebih tragis lagi mereka cenderung mengabaikan persoalan agama dan mengejar hal – hal yang berhubungan dengan masa depan anaknya tanpa memberi pendidikan dasar agama terhadap anak – anak mereka. (Hasil wawancara dengan M. Choirul Anam di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 9 April 2013). Dalam wawancara selanjutnya M. Choirul Anam menyatakan: Ada juga orang tua yang hanya menitipkan anaknya ke pondok pesantren Nurul Huda tanpa melakukan control, sehingga orang tua tidak tahu apakah anaknya sudah sampai ke tempat ini atau tidak. (hasil wawancara dengan M. Choirul Anam di pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 9 April 2013). Hal – hal yang menyimpang dari suatu tujuan adalah kendala yang kalau tidak dipertimbangkan dan tidak ditindaklanjuti akan tidak sesuai dengan hal – hal yang diharapkan. Seperti yang dikatakan oleh M. Nizar selaku teman terdekat KH. Muhammad Kharuddin, yaitu: “…. Fenomena yang menyimpang akan berdampak pada pola itu sendiri, karena pendidikan yang salah akan membawa generasi muda menuju ambang kehancuran bahwa penyimpangan – penyimpangan yang terjadi dalam masyarakat khususnya para pemuda dan anak – anak sekolah amat disayangkan dan sangat mencoreng dunia pendidikan”. (hasil interview dengan M. Nizar di rumahnya 6 April 2013). Pada kesempatan lain, M. Nizar juga menlaskan hambatan KH. Muhammad Khairuddin dalam mengembangkan pondok pesantren Nurul Huda, yaitu: Modernitas juga membawa pengaruh terhadap kebebasan santri. Pondok tidak dapat mengekang begitu saja, saat ini santri sudah sangat kritis, apalagi mereka tidak hanya dibekali ilmu agama saja, mereka juga mempunyai pengalaman diluar pondok dimana sekolah mereka tidak terikat oleh pondok. Mereka merasa bebas di lingkungan luar. (hasil interview dengan M. Nizar di rumahnya 8 April 2013). Hal ini juga diungkapkan oleh M. Nizar dalam wawancaranya yang mengatakan: Meskipun KH. Muhammad Khairuddin sebagai tokoh penting di dalam Desa ini, tidak menutup kemungkinan ada beberapa orang yang tidak suka terhadap beliau. (Hasil interview dengan M. Nizar di rumahnya 21 April 2013). 3. Solusi KH. Muhammad Khairuddin dalam Mengatasi Hambatan Permasalahan yang ada di pondok sangatlah banyak yang dapat dikaji dalam memperoleh data yang diinginkan yang mana hal terebut dapat diungkapkan oleh beberapa key informan yang ada di pondok pesantren. Indikasi adanya kegagalan pembinaan moral keagamaan melalui institusi formal pendidikan yang diselenggarakan dan kurangnya dalam pembelajaran agama. Maka pondok pesantren Nurul Huda tak dapat dipungkiri arus modernitas serta informasi dengan mudah tersampaikan ke pondok pesantren ini, apalagi ditambah lokasi pondok pesantren yang ada di tengah – tengah perkotaan, sehingga perlu sebuah siasat yang relevan sepanjang zaman tanpa menghilangkan tradisi lama dan berusaha menerima hal terbaru tanpa curiga meski tak mengurangi daya kritisnya. Hal tersebut disampaikan oleh KH. Muhammad Khiaruddin daam wawancaranya, yaitu: “Harus ada solusi dari datangnya teknologi yang masuk, pertama harus ada pembatasan penggunaan internet kedua santri diberi tugas untuk membuat materi tentang masalah yang menyangkut pada pendidikan agama Islam ketiga selalu dipantau dan tidak dibiarkan dalam penggunaanya”. (Hasil interview dengan KH. Muhammad Khairuddin di kantor pondok pesantren Nurul Huda pada tanggal 10 April 2013). Hal senada juga disampaikan oleh KH. Muhammad Kairuddin, Yaitu: Kiai dan ustadz serta semua yang mempengaruhi di dunia pondok pesantren harus berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, pendidikan dan pengarahan serta memberikan perhatian khusus terhadap santri yang mengalami suatu permasalahan. (Hasil interview dengan KH. Muhammad Khairuddin di Dalem/kediamannya pada tanggal 12 April 2013). Dengan manajemen pondok yang terorganisir dengan baik, control dan kedisiplinan yang tepat, serta arahan terhadap gaya hidup modern yang Islami, kebebasan santri tetap pada batas – batas tertentu. Walaupun lokasi terdapat di tengah – tengah perkotaan. nilai – nilai modernitas tetap diterapkan, akan tetapi tanpa menhilangkan roh dari pondok pesantren itu sendiri. Seperti yang telah diungkapkan oleh KH. Muhammad Khairuddin dalam wawancaranya, yaitu: “…santri harus tahu dan bisa memanfaatkan masuknya teknologi dan tidak meninggalkan tradisi lama yang mana pola fikir santri tidak dipengaruhi oleh permasalahan di luar yang bersifat negatif”. (Hasil interview dengan KH. Muhammad Khairuddin di pondok pesantren Nurul Huda pada hari kamis 11 April 2013). Adapun solusi KH. Muhammad Khairuddin dalam mengatasi hambatan disampaikan oleh Ahmad Husain dalam wawancaranya, yaitu: Pada waktu menjelang liburan tepatnya haflah akhirussanah KH. Muhammad Khairuddin selalu menyampaikan dan menyarankan terhadap wali santrinya untuk selalu memantau dan memperhatikan anak – anaknya dalang lingkungannya masing – masing, utamanya mengenai pemakaian alat telekomunikasi. (Hasil interview dengan ahmad Husain di pondok pesantren Nurul Huda 9 April 2013). Hal senada juga diungkapkan oleh Ahmad Husain dalam wawancaranya, yaitu: Setelah libur panjang KH. Muhammad Khairuddin selalu mengingatkan akan pentingnya sopan santun terhadap santri – santri beliau dan mengarahkannya apabila terdapat penyimpangan. (Hasil interview dengan ahmad Husain di pondok pesantren Nurul Huda 10 April 2013). Hal ini juga diperkuat oleh penyataan Ahmad Husain yang mengatakan: Ditengah – tengah masa liburan beliau menyempatkan dirinya untuk mengunjungi wali santri supaya lebih memperhatikan terhadap gerak – gerik santrinya dan menganjurkan supaya tidak bergaul dengan teman – teman yang tidak bermoral. (hasil interview dengan ahmad Husain di pondok pesantren Nurul Huda 13 April 2013). Kebebasan santri tanpa control yang benar akan mengakibatkan kerugian bagi diri santri dan juga pondok pesantren, mereka bisa melakukan hal – hal yang tidak patut dilakukan olehnya dan lain sebagainya ketika mereka merasa bebas. Jika ini dibiarkan dan tidak diarahkan pada arah yang sesuai, maka ini akan merusak pada diri santri sendiri dan juga pondok pesantren. Hal ini diungkapkan oleh ustadz pondok pesantren Nurul Huda, yang mengatakan: Setiap saat kami selalu mengadakan pemeriksaan mengenai alat – alat komunikasi dan menindak lanjuti apabila terdapat hal – hal yang tidak sesuai dengan peraturan pondok pesantren ini. (hasil interview dengan M. Choirul Anam di pondok pesantren Nurul Huda 6 April 2013). Hal ini diperkuat oleh perkataan M.Choirul Anam dalam wawancaranya, yaitu: Ada waktu tertentu KH. Muhammad Khairuddin mengumpulkan wali santrinya, beliau selalu berpesan supaya memperhatikan dan mengontrol anaknya pergi menuntut ilmu ke pondok pesantren ini agar tidak terjadi penyimpangan. (hasil interview dengan M. Choirul Anam di pondok pesantren Nurul Huda 9 April 2013). Hal senada juga diungkapkan oleh M. Choirul Anam dalam wawancaranya yang mengatakan: KH. Muhammad Khairuddin tidak letih – letihnya berpesan kepada wali santrinya supaya tidak hanya menyekolahkan anaknya pada pendidikan umum saja, tapi pendidikan agama jauh lebih penting karena hal tersebut menyangkut dunia dan akhirat. (hasil interview dengan M. Choirul Anam di pondok pesantren Nurul Huda 19 April 2013). Solusi dan upaya KH. Muhammad Kharuddin dalam mengatasi permasalahan tertera dalam wawancara dengan humas, yaitu: Upaya pondok pesantren ini adalah agar para santri membawa nama baik pondok ini, yaitu dengan berperilaku sopan, santun, selagi mereka berada di luar lingkungan pondok pesantren. (hasil interview dengan M. Nizar di rumahnya 6 April 2013). Hal ini diperkuat oleh perkataan M. Nizar dalam wawancaranya yang mengatakan: Kiai selalu pengadakan pengawasan terhadap gerak – gerik santri yang menimba ilmu di MI ataupun MTs, apalagi beliau menjadi pengurus di MI dan MTs, kiai akan sangat mudah menjangkaunya. (hasil interview dengan M. Nizar di rumahnya 8 April 2013). Disisi lain M. Nizar juga menegaskan dalam wawancaranya yang mengatakan: Masalah masyarakat yang tidak suka tidak terlalu beliau tanggapi dengan sungguh – sungguh, namun beliau selalu mengadakan perbaikan terhadap masyarakat yang seperti itu serta mendekatinya dengan kasih sayang. (hasil interview dengan M. Nizar di rumahnya 21 April 2013). B. Temuan Penelitian Dari hasil wawancara peneliti dengan informan yang telah disajikan dalam penyajian diatas ada beberapa temuan yang dapat peneliti paparkan selama melakukan penelitian di pondok pesantren Nurul Huda, yang berkaitan dengan strategi kiai dalam pembelajaran pendidika Islam di pondok pesantren. Strategi dalam perkembangan pendidikan dan pengajaran pondok pesantren erat kaitannya dengan tipologi pondok pesantren sebagaimana yang telah dituangkan dalam ciri – ciri yang telah dijelaskan sebelumnya. Kendala utama yang dihadapi dalam perkembangan pembelajaran dipondok pesantren Nurul Huda ialah lingkungan. Dalam rentang waktu penelitian, peneliti mendapati beberapa temuan yang berkenaan dengan strategi KH. Muhammad Khairuddin dalam mengembangankan pendidikan Islam di pondok pesantren Nurul Huda, yaitu melalui hasil wawancara mendalam terhadap informan, melalui observasi selama rentang waktu yang relatif lama, dan juga melalui dokumen – dokumen untuk memperkuat temuan – temuan di lapangan, dan temuan tersebut peneliti tuangkan dalam pemaparan data di atas. Dalam pemaparan di atas dapat diketahui beberapa temuan, yaitu: 1. Strategi KH. Muhammad Khairuddin dalam mengembangkan pendidikan Islam di pondok pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang. a. seorang pemimpin harus mempunyai kepercayaan diri dalam menjalankan tugasnya sebagai pimpinan lembaga. b. Seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari pendidikan yang tinggi saja, akan tetapi juga berdasarkan dengan pengetahuan yang luas. c. Tokoh sentral harus mampu membangkitkan gairah terhadap orang yang diajak melakukan kebaikan. d. Sebagai seorang pemimpin pesantren beliau selalu memberikan contoh yang baik bagi santri dan masyarakat, baik berupa ucapan ataupun perbuatan agar setiap apa yang beliau sampaikan mendapati simpati. 2. Faktor Pendukung dan Penghambat KH. Muhammad Khairuddin dalam Mengembangkan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang a. Faktor pendukung 1) Kehausan masyarakat terhadap ilmu agama 2) Masyarakat masih memegang budaya lama, yaitu dalam bertindak masih dipengaruhi oleh tokoh sentral. 3) Lokasi pondok pesantren dekat dengan MI dan MTs. 4) Banyaknya masyarakat yang berobat ke pengasuh pondok pesantren. b. Faktor penghambat 1) Derasnya arus globalisasi yang bersifat negatif. 2) Kurangnya kedisiplinan masyarakat dalam mengontrol anak – anaknya. 3) Lingkungan dan masyarakat santri yang belum baik. 4) Pemikiran orang tua yang mengidentikkan pendidikan umum dengan pekerjaan. 3. Solusi KH. Muhammad Khairuddin dalam Mengatasi Hambatan a. Mengadakan pembatasan terhadap penggunaan internet. b. Memberikan materi tentang dampak negatif globalisasi. c. Mengadakan controlling. d. Mengadakan pemeriksaan berulang – ulang mengenai alat – alat yang ada di pondok pesantren. e. Menjaga akhlak selaku suri tauladan. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Strategi KH. Muhammad Kharuddin dalam Mengembangkan Pondok Pesantren Nurul Huda Seorang kiai seharusnya membekali diri dengan keahlian – keahlian dan keterampilan khusus yang dapat mengantarkan ketercapaiannya perkembangan pedidikan Islam, diantaranya yaitu memiliki keahlian kelancaran berkomunikasi, keahlian ini harus dimiliki oleh seorang kiai, karena jika tidak, proses pengembangan pendidikan Islam akan sulit tercapai. Di samping itu kiai harus peka terhadap lingkungan, yang dimaksud peka disini adalah tanggap terhadap perubahan dan fenomena – fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar, kiai dituntut mencari pengetahuan tambahan dan informasi baru dalam rangka menunjang mengetahuannya, karena jika tidak, kiai tersebut akan dikatakan kiai jadul dan sulit berkembang sebagaimana perkembangan kehidupan masyarakat pada umumnya. Pendidik disini jauh berbeda dengan peran dari guru – guru pada umumnya. Ada sejumlah peran yang harus dimainkan oleh guru dalam proses pendidikan seumur hidup yaitu: kiai harus menjadi dirinya juga sebagai pelajar seumur hidup dihadapan murid – muridnya (santri), sebagai fasilitator, yang tidak lagi menjadi sentral kegiatan belajar, tetapi menjadi konsultan pendidikan yang membantu perkembangan setiap pelajar (santri), sebagai pembimbing dan sebagai pendidik profesional serta pendidik hidup. Lingkungan masyarakat dan santri terdiri dari bermacam – macam kepribadian dari berbagai latar belakang yang berbeda pula, secara automatis dalam menghadapi mereka akan berbeda pula, disinilah seorang kiai dituntut mempunyai strategi yang berlapis dan pengatahuan yang luas serta pengalaman yang extra supaya tercapai tujuan yang diharapkan. Dalam pelaksanaan di lapangan, pasa asatidz apalagi seorang kiai harus bisa mencerminkan diri mereka bahwa mereka pantas menjadi idola dan patut ditiru sebagai figure yang sesuai dengan ajaran agama dengan bertindk sopan, santun, ikhlas, menghargai pendapat orang lain serta sikap tolong menolong antara sesama demi tercapainya perkembangan Islam yang mereka idam – idamkan. Strategi yang dimiliki oleh seorang kiai dalam suatu lembaga sangat menentukan berhasil tidaknya lembaga itu mencapai tujuan yang telah ditentukan serta tidak melupakan tugas – tugasnya. Dengan strategi yang berkualitas dalam mewujudkan setiap gerak dan langkahnya didasarkan pada tuntunan Allah SWT, sebagai bagian yang perlu disyukuri dengan meningkatkan kualitas dirininya dan bawahannya seperti yang telah terjadi di pondok pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang, dimana antara seoarang kiai dengan masyarakatnya terjadi hubungan yang menaruh simpati di dalamnya, saling menghormati, saling menghargai serta tolong – menolong satu sama lain. Kiai merupakan unsur yang sangat vital dalam sebuah pondok pesantren, sebab selain sebagai pemilik dan pemimpin, kiai mempunyai peran penting dalam menentukan keberadaan dan fungsi pondok pesantren. Pesantren mirip dengan sebuah dinasti segalanya ditangani kiai, dan ketika ia meninggal maka kekayaan yang ada di dalamnya dan kepemimpinannya juga diturunkan kepada anaknya. Maka sang anakpun jadi pemegang otoritas tunggal pada dinasti pesantren warisan sang ayah. Walaupun otoritas penuh, tetap dan selalu ada ditangan kiai, tetapi dalam hal merealisasikan pelaksanaan program yang direncanakan dalam pesantren tersebut. Tenaga ini biasanya di ambil dari santri senior, dengan kadar domisili dalam pesantren tersebut relatif jauh lebih lama di banding santri lainnya. Yang di tunjang oleh tingkat keilmuan, paling tidak jumlah kitab yang pernah di kaji secara kualitas sudah memadai, yang di akui oleh kiai maupun para santri pada umumnya melalui pembentukan suatu kepengurusan. Walaupun telah di bentuk pengurus yang bertugas melaksanakan segala sesuatu yang berhubungan dengan jalannya pesantren sehari – hari. Kekuasaan mutlak senantiasa masih berada di tangan sang kiai. Karenanya, betapa demokratis sekalipun susunan pimpinan pesantren, masih terdapat jarak tak terjembatani antara kiai serta keluarganya satu pihak dan para asatidz serta santri di pihak lain, kiai bukan primus interperes, melainkan bertindak sebagai pemilik tunggal. Pembelajaran di pondok pesantren Nurul Huda yang masih menggunakan metode - metode yang lama, mampu membangkitkan gairah masyarakat untuk belajar ilmu agama serta memberikan contoh terhadap mereka. 1. Metode Wetonan Metode yang di dalamnya terdapat seorang kiai yang membaca suatu kitab dalam waktu tertentu, sedangkan santrinya membawa kitab yang sama lalu santri mendengar dan menyimak bacaan kiai. Metode ini dapat dikatakan sebagai proses belajar mengaji secara kolektif 2. Metode sorogan Metode yang santrinya cukup pandai men-sorog-kan (mengajukan) sebuah kitab pada kiai untuk di baca di hadapannya, kesalahan dalam bacaannya itu langsung dibenarkan oleh kiai. Metode ini dapat di katakan sebagai proses belajar mengajar individual. 2. Faktor Pendukung dan Penghambat Kiai dalam Mengembangkan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang Strategi kiai merupakan elemen paling esensial dalam sebuah lembaga pendidikan Islam. Dalam kepemimpinannya seorang tokoh sentral mempunya tanggung jawab sebagai mediator, motivator serta menjadi suri tauladan bagi lembaga yang dipimpinnya. Namun demikian tidak ada manusia yang sempurna yang memiliki segala – galanya, seperti halnya KH. Muhammad Khairuddin selaku manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Adapun kesalahan tersebut merupakan kendala dan hambatan untuk meraih suatu tujuan. Hal ini juga terjadi pada KH. Muhammad Khairuddin dalam mengembangkan pendidikan Islam di pondok pesantren Nurul Huda. Namun ada juga suatu usaha yang sesuai dengan tujuan. Adapun faktor pendukung dan penghambat pengembangannya sebagai berikut: a). Faktor Pendukung Seperti halnya pondok yang mengikuti gaya kepemimpinan pada kiai serta gaya pemilihan pemimpin yang secara turun – temurun, kiai adalah pemimpin tertinggi, namun tetap menggunakan birokrasi rasional serta tetap menghiraukan manajemen organisasi yang tepat. Jika birokrasi pondok terstruktur dengan baik, ketika kiai tidak ada di pondok tidak akan kehilangan esensinya sebagai pondok pesantren, apalagi kebudayaan masyarakat Sukonolo yang masih memegang kebudayaan lama dengan menghormati dan menghargai seorang tokoh yang pandai membaca kitab kuning serta kesempatan KH. Muhammad Khairuddin mengutarakan dan menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya, serta bisa memaparkannya di sekolah formal. Disamping itu juga kesempatan besar ia yang termasuk pengurus MI dan MTs Al- Hidayah Sukonolo Bululawang Malang yang menjadi tonggak terbesarnya. Disamping sebagai ahli agama, kepemimpinan kiai dalam masyarakat luas juga sering dipandang sebagai sesepuh, figur yang dituakan karena kiai selain berperan sebagai pemberi nasehat dalam berbagai aspek persoalan kehidupan umat, juga tidak sedikit kiai yang memiliki keahlian khusus, seperti halnya mempunyai keahlian melakukan pengobatan, atau ia memiliki keterampilan dalam bela diri, kekebalan, dan seterusnya. Petuah atau kata – kata dan keputusan – keputusannya selalu dipegang teguh dan dipatuhi oleh masyarakat. Bahkan boleh jadi masyarakat lebih mematuhi kiai dari pada pimpinan formal. Hal ini memang akan terlihat nyata apabila kita melihat fenomena keseharian masyarakat madura yang lebih mempercayai atau mematuhi kiai dari pada pimpinan lainnya, begitu pula terjadi pada setiap umat Islam pada umumnya. b). Faktor penghambat Seorang pemimpin mengalami kesulitan dalam mengembangkan pendidikan Islam karena terbentur oleh derasnya arus globalisasi yang cara penggunaannya digunakan tidak sesuai dengan harapan. Demikian pula yang terjadi di pondok pesantren Nurul Huda, yaitu letak pondok pesantren yang berada di tengah – tengah kota yang segala informasi datang begitu cepat, penggunaan internet, handphone, playstation apabila tidak digunakan sebagaimana mestinya akan tidak sesuai dengan tujuan pendidikan bahkan bisa mencoreng nama baik pendidikan. Penanaman nilai dan jiwa keagamaan di pondok pesantren dengan memberi didikan akan sulit terwujud jika tidak ada dukungan dari orang tua di rumah dan juga dukungan dari masyarakat di lingkungannya. Jika orang tua tidak mau bekerja sama dalam hal mendidik dan mengontrol kegiatan mereka, maka akan sulit melekat jiwa keagamaan yang ditanamkan di pondok pesantren dalam diri mereka. Di pesantren mereka selalu diisi dengan ajaran – ajaran yang baik dan sesuai dengan ajaran agamanya, akan tetapi orang tua di rumah berperilaku kurang baik dan ditambah lagi dengan lingkungan sekitar rumahnya yang kurang baik pula, maka akan sangat sulit anak itu untuk mengapresiasikan ilmu yang mereka peroleh dari pesantren mereka. Mereka akan bingung dan bimbang, karena antara yang diajarkan di pondok pesantren dengan yang terjadi di lingkungan tidak sejalan. Hal ini akan mengakibatkan jiwa keagamaan mereka guncang, dan mereka akan memilih meniru apa yang terjadi di lingkungan, yang lebih parah lagi anak tersebut akan mempengaruhi teman – teman mereka yang lain, jika hal ini terjadi, maka akan menambah panjan rentetan daftar anak yang bermasalah. Permasalahan diatas diperparah oleh adanya dampak negatif oleh perkembangan dan kemajuan teknologi yang tidak terkendali, segala informasi dapat diakses tanpa kendali. Dampak negatif dari perkembangan teknologi saat ini sudah berada pada taraf memprihatinkan, dari pada manfaat yang diperoleh lebih banyak mudharatnya, salah satu contohnya adalah HP. Santri lebih cenderung membuka situs – situs yang dilarang dari pada digunakan selayaknya mereka gunakan. Hal inilah yang akan merugikan mereka sendiri dan konsentrasi mereka dalam menjalani pendidikannya akan terganggu. Apalagi diteruskan dengan pemikiran masyarakat yang hanya memntingkan dunia saja, mereka beranggapan bahwa yang membuat anak – anak mereka sukses adalah pendidikan umum yang pada akhirnya anak – anak mereka akan menjadi pegawai. Guru sebagai pengajar, apalagi sebagai pendidik dalam melaksanakan tugasnya sering menemui problema – problema yang dari waktu ke waktu berbeda – beda. Apalagi bila dihubungkan dengan perorangan atau kemasyarakatan. Maka keanekaan problema tersebut makin luas. Problema sebenarnya timbul dari gejala dinamika masyarakat itu sendiri. Akan tetapi, problema menuntut kepada penelitian yang cermat mengenai sumber – sumber penyebabnya dan akibat – akibat yang mungkin timbul bila tidak terselesaikan. Karena itu usaha mencari pokok baru dapat diperoleh bila dilakukan melalui penelitian atau studi. Data yang diperoleh merupakan bahan informasi dasar untuk menyelesaikan problema tersebut. Dengan bahan tersebut juga dapat dijadikan penglihatan jauh ke depan (forecasting) tentang problema – problema besar yang mungkin timbul di masa – masa mendatang. 3. Solusi Kiai dalam Mengatasi Hambatan Tidak ada sesuatu yang paling baik dan efektif dari setiap tujuan dalam setiap situasi, semua pasti ada kelebihan dan kekurangannya, seperti halnya dengan strategi yang telah diterapkan KH. Muhammad Khairuddin ini. Metode ini menitik beratkan pada cara kiai untuk mencapai suatu tujuan. Beliau tiada henti – hentinya memberikan masukan dan arahan terhadap semua staf yang ada di pondok pesantren. Jika pihak pondok pesantren sudah berbenah diri dari dalam, yaitu dengan membekali pengurus beserta ustadz – ustadznya, maka tinggal kerjasama orang tua dan masyarakat yang perlu digalakkan dalam meningkatkan pendidikan Islam di lingkungannya masing – masing. Jika pihak pesantren mau bekerjasama dengan orang tua da masyarakat, yaitu dengan memberikan perhatian dan kasih sayang, maka besar kemungkinan pembelajaran yang telah tersampaikan di pondok pesantren akan melekat dalam diri santri dan akan memberikan manfaat dalam kehidupan sehari – hari, serta akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan bersama. Berkenaan dengan perkembangan teknologi, pihak pesantren melarang santri – santrinya untuk menggunakannya, langkah ini dilakukan karena terdapat santri yang kurang fokus dalam menimbah ilmu di pondok pesantren, jika hal ini terjadi , maka pihak pesantren akan merampas da menyitanya sampai mereka pulang dan pihak pesantren akan memanggil orang tuanya untuk mengembalikan HP dan menasehatinya supaya anaknya tetap terkontrol dalam dalam penggunaan alat canggih tersebut. Selain itu pihak pondok tidak henti – hentinya memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada anak didiknya agar selalu menaati tata tertib yang ada di pondok pesantren demi tercapainya kedisiplinan dan ketertiban dalam proses pembelajaran di pondok pesntren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang. Kiai sebagai pemimpin pondok pesantren beserta perangkat yang ada didalamnya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah juga lembaga kemasyarakatan yang telah memberikan warna tersendiri bagi daerah sekitarnya atau lingkungannya, ia pun tumbuh dan berkembang bersama – sama dengan masyarakat setempat sejak berabad – abad yang lalu. Oleh karena itu tidak hanya kultural lembaga ini dapat diterima, akan tetapi bahkan telah ikut serta membentuk corak serta nilai kehidupan pada masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan. Hal tersebut tidak terlepas dari produk yang dihasilkan. Adapun produk – produk yang dihasilkan pondok pasantren yaitu: 1). Pondok pasantren telah membuktikan dirinya mampu menyiapkan manusia yang menjadi agen perubahan atau transformator dalam lingkungan masyarakat. 2). Pondok pasantren telah terbukti mampu mangembangkan sikap mandiri dikalangan para santrinya. 3). Pondok pasantren telah terbukti telah mengembangkan sikap dan kepribadian para santrinya secara mantab. Perjuangan Islam kemudian dipandang sebagai suatu proses pentahapan perubahan kepribadian seseorang dan masyarakat. Kecenderungan ini merupakan wahana baru yang menempatkan seluruh lapisan muslim yang semula fragmentaris dalam satu cakupan budaya yang toleran terhadap keber-agama-an. Pluralitas sosial kemudian dipandang sebagai suatu tahap yang harus dilalui oleh usaha sosial dengan pendekatan budaya. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari permasalahan skripsi ini sesuai dengan apa yang dirumuskan dalam permasalahan – permasalahan dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut: 1. Strategi K.H. Muhammad Khairuddin dalam meningkatkan pendidikan Islam di pondok pesantren Nurul Huda Sukonolo, ini dapat ditandai dengan pembelajaran di pondok pesantren Nurul Huda yang masih menggunakan metode - metode yang lama, mampu membangkitkan gairah masyarakat untuk belajar ilmu agama serta memberikan contoh terhadap mereka. 2. Faktor pendukung dan penghambat KH. Muhammad Khairuddin dalam mengembangkan pondok pesantren Nurul Huda Sukonolo Bululawang Malang adalah sebagai berikut: a. Faktor pendukung Dalam mengembangkan pendidikan Islam di Desa Sukonolo didukung oleh masyarakat yang masih memegang teguh budaya dan pola pikir yang masih paternalistik, yaitu dimana dalam bertindak dan bersikap masih sangat dipengaruhi otoritas yang masih dianggap sesepuh dan dipertuakan didalamnya, seperti kiai, tokoh masyarakat, dan tokoh pemerintah, hausnya masyarakat terhadap pendidikan agama, serta lokasi pondok pesantren Nurul Huda yeng berdekatan dengan MI, MTs al – Hidayah. b. Faktor penghambat Factor penghambat usaha kiai dalam mengembangkan pendidikan Islam adalah derasnya arus modernisasi globalisas yang membawa nilai – nilai baru yang tidak sesuai dengan kaidah – kaidah agama Islam yang mempengaruhi prilaku, moralitas dan ideologi masyarakat. Misalnya mengajarkan individualisme dan persaingan hidup yang tidak sehat, hal ini nantinya akan menimbulkan gejolak sosial dalam kehidupan masyarakat. 3. Adapun solusi kiai dalam mengatasi hambatan dibuktikan melalui pembatasan penggunaan internet, santri diberi materi tentang masalah yang menyangkut dampak negative globalisasi dan kiai selalu memantau dan tidak dibiarkan dalam penggunaanya. B. Saran 1. Bagi pengasuh pondok pesantren hendaknya tidak hanya menggunakan satu metode pembelajaran kitab klasik saja, tapi harus juga harus menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan perkembangan zaman. 2. Bagi ustadz – ustadz pondok pesantren, intensitas keimanan dan ketaqwaan selayaknya ditambah lagi dengan kegiatan – kegiatan lain yang sepadan, sehingga mampu membawa santrinya kearah kemajuan masyarakat. 3. Bagi Pengasuh pondok pesantren hendaknya secara kontinu memberikan arahan, bimbingan dan penilaian terhadap kegiatan ustadz khususnya dalam kegiatan belajar mengajar agar lebih berkembang. DAFTAR RUJUKAN Ali, A. Mukti, Beberapa Persoalan Agama Dewasa Ini, Jakarta: Rajawali Press, 1995. Al – Marbawi, Mohammad Idris Abdul Rouf, Qomus Idris Al – Marbawi Juz II, Indonesia: Darut Ihya’, 1986. Arifin, Imron, Kpemimpinan Kiai, Malang: Kalima Sahada Press, 1993. Arifin, M, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum, Jakarta : Bumi Akasara, 1991. Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta : Rineka Putra, 2006. Azwar, Saifuddin, Metode Penelitian, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001. Dhofier, Zamarkhasi, Tradisi Pesantren (Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai), Jakarta: LP3ES, 1994 Djojonegoro, Wardiman, Peran Pondok pasantren dalam Menjawab Tantangan Pembangunan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia di Masa Depan, Jakarta: Deepdikbud,1993. Faisal, Sanapiah, Penelitian Kualitatif Dasar – Dasar dan Aplikasinya, Malang : Cet. I. Y3A, 1990. Hadi, Sutrisno, Metodologi research, Jakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi Universitas Gajahmada, 1987. Hasan, Tholhan, Islam dalam Perspektif Sosial Budaya, Jakarta: Galasa Nusantara, 1987. Horikhosi, Hiroko, Kiai dan Perubahan Sosial, Jakarta: P3M, 1987. Http://www.google.com, Definisi Strategi. Diakses tanggal 05 januari 2013. Karim, M. Rusli, Dinamika Islam di Indonasia, Jogjakarta: PT. Hanindika, 1985. Kasiram, Moch., Kapita Selekta Pendidikan III, Malang: Biro Penerbit PT. IAIN SA, 1992. Koentjoroningrat, Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta : Pustaka Pelajar, 2001. Marimba, Ahmad D, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT. Al – Ma’arif, 1989. Mastuhu, Memperdayakan Sistem Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999. Maunah, Binti, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Yogyakarta: Teras, 2009. Moleong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Rosda Karya, 2002. Monografi, Seri, Penyelenggaraan Pendidikan Formal di Pondok Pesantren, Jakarta: Depag, 1985. Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam, Solo: Ramadhani, 1993 Mulkhan, Abdul Munir, Runtuhnya Mitos Politik Santri, Yogyakarta: BI Press, 1992. Munif, Moh. Hasyim, Pondok Pesantren Berjuang dalam Kancah Kemerdekaan dan Pembangunan Pedesaan, Surabaya: Sinar Wijaya, 1992. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Bandung : Tarsito, 1998. Nazir, Moh, Metode Penelitian, Bogor : Glalia Indonesia, 2005. Purwadharminto, Kamus umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1984. Qomar, Mujamil, Pesantren dan Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Intsitusi, Jakarta: Erlangga, 2005. Rahardjo, M. Dawam, Pembaharuan dan Pesantren, Jakarta : LP3ES, 1988. Rais, M. Amin, Cakrawala Islam, Bandung: Mizan, 1987. Saleh, Abd. Rahman, Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren, Jakarta: Depag, 1992. Sarijo, Marwan, Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, Jakarta: Darma Bhakti, 1985. Sitorus, M., Berkenalan dengan Sisiologi, Jakarta : Erlangga, 2000. Syarif, Musthofa, Administrasi Pesantren, Jakarta: Paryu Barkah, 1980. Sofyan, Nur dan Ridho, Taufik Adnan, Peran Politik Pesantren dan Penerapan Alternatif, Surabaya: Gema, 1994. Surahman, Winarno, Dasar dan Teknik Research Pengantar Metodologi Ilmiah, Bandung : Tarsito,1972. Warjosukarto, Amir Hamzah, Pembaharuan sistem Pendidikan dan Pengajaran Islam, Jakarta: Mulia Offset, 1995. Wijoyo, Kunto, Paradigma Islam, Bandung: Mizan,1993. Ziemek, Manfred, Pesantren dalam Perubahan Sosial, Jakarta: P3M, 1986.

2 komentar: